Tradisi Malam Satu Suro sebagai Wujud Pensucian Diri Masyarakat Suku Jawa

Tradisi Malam Satu Suro sebagai Wujud Pensucian Diri Masyarakat Suku Jawa
info gambar utama

Satu Suro adalah hari pertama dalam kalender Jawa di bulan Suro dan bertepatan dengan 1 Muharram pada kalender Islam. Bagi umat Muslim di seluruh dunia, malam suro menjadi berkah tersendiri karena memasuki tahun yang baru. Namun, menurut suku Jawa malam suro menjadi hal yang istimewa karena mereka melakukan beberapa perayaan sakral.

Awal mulanya, malam satu suro sudah ada di era Kerajaan Mataram Islam pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo yang ingin memperluas ajaran agama Islam di Jawa dengan memadukan tradisi agama Islam dengan Jawa. Sehingga, beliau memadukan kalender Hijriah dengan kalender yang merupakan warisan Hindu. Maka, lahirlah tanggal 1 Suro yang bertepatan dengan 1 Muharram.

Tradisi malam satu suro biasanya diselingi dengan pembacaan doa, karena tradisi ini memberikan makna pada ketentraman batin serta keselamatan. Masyarakat Jawa juga meyakini selama bulan Suro harus terus bersikap waspada, dan bersyukur selalu ingat bahwa siapa kedudukannya sebagai ciptaan Tuhan. Sedangkan, waspada artinya harus waspada dengan godaan yang menyesatkan atau tipu dunia.

Masyarakat suku Jawa menyambut datangnya malam suro dengan beberapa tradisi, salah satu diantaranya ialah siraman malam yang dilakukan di pemandian atau langsung beratap langit gunanya untuk menyatukan jiwa raga dengan alam semesta. Proses siraman ini menggunakan air yang dicampur dengan bunga tujuh rupa. Hal ini digunakan sebagai bentuk menyucikan diri atau biasa disebut dengan “sembah raga” orang Jawa meyakini bahwa tradisi ini dijadikan pertanda dimulainya hidup baru di tahun yang baru dan diiringi dengan tirakat menjaga dan menyucikan hati, pikiran serta panca indera dari hal yang negatif.

Bunga Setaman | @menaramadinah.com

Saat memasuki ritual mandi yang dilakukan dengan mengguyur badan dari ujung kepala hingga sekujur badan kita diharuskan membaca doa untuk memohon perlindungan dan ampunan kepada Tuhan. Ada yang malakukan siraman sebanyak 7 kali, bisa juga 11 kali dan 17 kali yang menyimpan filosofi dibalik siraman-siraman tersebut untuk siraman yang ketujuh (pitu) merupakan doa meminta pitulungan atau pertolongan kepada Tuhan, 11 kali siraman atau dalam bahasa jawa sewelas merupakan doa agar Tuhan memberikan kewelasan atau belas kasih, sedangkan 17 atau pitulas artinya Tuhan memberikan pitulungan dan kewelasan.

Tak hanya tradisi siraman, tradisi selanjutnya ialah tapa mbisu atau menjaga segala perkataan dengan mengucapkan yang baik-baik saja, berziarah ke makam para leluhur, menyiapkan sesaji bunga setaman di dalam wadah air untuk menghormati para leluhur yang akan berkunjung ke rumah, adanya kirab budaya dan kirab mubeng benteng seperti yang dilakukan di Keraton Jogjakarta yaitu mengarak benda pusaka mengelilingi benteng keraton tanpa diperbolehkan untuk berbicara, dan lain-lainnya.

Terlepas dari banyaknya tradisi yang ada di malam suro, peringatan ini perlu untuk tetap dilakukan sebagai rasa bersyukur kepada Tuhan dan sebagai wujud pembaharuan diri atau mempersiapkan diri menjadi pribadi yang lebih baik lagi dalam setahun kedepan.*

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini