Reputasi Global Indonesia dalam FutureBrand Country Index

Reputasi Global Indonesia dalam FutureBrand Country Index
info gambar utama

FutureBrand kembali merilis FutureBrand Country Index untuk tahun 2019. 75 negara dari seluruh dunia diperingkat sesuai dengan reputasi globalnya. Tahun 2019 lalu, Jepang menjadi negara dengan reputasi global terbaik di dunia versi FutureBrand Country Index 2019. Penilaian persepsi global ini didasarkan pada nilai-nilai lokal, potensi wisata, kualitas hidup, usaha-usaha untuk lingkungan, peninggalan sejarah, kebudayaan, dan potensi bisnis.

Norwegia, Swiss, Swedia, dan Finlandia menyusul dalam lima besar peringkat negara dengan reputasi terbaik. Apa sebenarnya yang mendorong preferensi dan pertimbangan ini?

Laporan FutureBrand mencatat bahwa dunia mulai melihat bahwa reputasi sebuah negara tak hanya dari ukuran-ukuran lama yang selama ini dipakai, namun sudah mulai menilai sebuah negara dalam hal-hal lain seperti imigrasi, kepemilikan senjata secara indivitu, dan ketentuan jaring pengaman sosial seperti perawatan kesehatan dan pendidikan. Karena itu, posisi suatu negara di dunia semakin diukur dalam hal bagaimana negara bereaksi, mencapai keseimbangan, dan berkembang dalam dinamika baru saat ini.

Ketika dunia kita menjadi lebih terhubung dengan makin miningkatnya aktifitas bermedia sosial, FutureBrand Country Index sekarang juga sudah memasukkan analisis linguistik dari percakapan media sosial dalam menilai persepsi sebuah negara. Tren global seperti mindfulness, conscious consumerism, pertumbuhan gig economy, tumbuhnya kerja jarak jauh, pun juga makin menjamurnya mindset bahwa Experience is the New Currency, mencerminkan perubahan besar dalam keputusan kecil yang dibuat orang banyak dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Pilihan-pilihan dan kesadaran pribadi seperti makanan protein alternatif, meningkatnya kesadaran akan agriculture, penurunan penggunaan plastik sekali pakai, menunjukkan bahwa kini, mindset richer living, tak lagi menjadi pilihan utama. Banyak yang lebih memilih living a richer life.

Survei FutureBrand menunjukkan bahwa tiga pembangun reputasi sebuah negara adalah:

  1. Ramah pada lingkungan
  2. Kualitas hidup
  3. Made in (Produk dan Layanan), yakni reputasi dan kualitas barang-barang yang diproduksi negara bersangkutan.


Sebaliknya, hambatan utama terhadap kekuatan brand sebuah negara adalah; negara yang lebih mengejar pertumbuhan, over-tourism, polarisasi politik, dan kurangnya toleransi. Untuk meningkatkan brand sebuah negara, perubahan paradigma ini berarti berarti akan menunjukkan kemampuan (atau ketidakmampuan) sebuah negara dalam menjaga keselamatan, kesejahteraan, dan kebahagiaan rakyatnya. Dengan penekanan pada semua orang, tidak hanya memilih tingkatan sosial ekonomi.

“Ketika dunia kita menjadi lebih terhubung dan kompleks, negara-negara yang mengambil tindakan tegas untuk memprioritaskan Kualitas Hidup akan menang. Selandia Baru membuka jalan dengan anggaran nasional berdasarkan bukan pada langkah-langkah tradisional seperti produktivitas dan pertumbuhan ekonomi, tetapi pada tujuan yang mendorong kesejahteraan warga ..... Kebijakan berwawasan ke depan ini tidak hanya akan melindungi rakyat Selandia Baru tetapi kemungkinan menarik pengunjung masa depan, investor, dan warga negara. "

Dalam laporan tersebut, posisi Indonesia tidaklah terlalu menggembirakan, yakni peringkat 56 dari 75 negara yang dinilai. Peringkat ini masih jauh di bawah Singapura (peringkat 18 dunia), Thailand (39), Malaysia, bahkan Myanmar (49). Mungkin kita perlu melihat mengapa Jepang ada di peringkat I.

Dalam daftar negara yang dirilis FutureBrand Country Index, Jepang memiliki sejumlah faktor yang menjadikannya berada pada peringkat pertama. Di antaranya budaya yang kaya, kualitas hidup yang baik, keindahan alam, dan peninggalan sejarah.

Tentang Jepang, FutureBrand sendiri menyatakan bahwa Jepang lebih populer dengan merek konsumen yang memanfaatkan warisan dan budaya unik dari negara itu sendiri.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Akhyari Hananto lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Akhyari Hananto.

Terima kasih telah membaca sampai di sini