PDB Dunia di Masa Depan: "Bertarung" di 2030, Kalah atau Menang di 2050

PDB Dunia di Masa Depan: "Bertarung" di 2030, Kalah atau Menang di 2050

Ilustrasi © Unsplash.com

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Perubahan global apa yang bisa terjadi, atau akan terjadi, dalam tiga dekade mendatang? Ternyata ada banyak. Salam satunya adalah pergeseran ekonomi dari negara-negara yang kini maju, ke negara-negara berkembang. Yang akan terlihat adalah anggota-anggota kelompok G7 (Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Inggris, dan AS) mungkin anggota-anggotanya akan tergantikan oleh negara-negara berkembang.

Menurut laporan "The World in 2050: The Long View, How will the global economic order change by 2050?”." yang dirilis oleh PricewaterhouseCoopers, dalam 30 tahun ke depan, 6 dari 7 ekonomi terbesar di dunia akan berasal dari negara-negara berkembang saat ini, melampaui AS (turun dari 2 ke 3), Jepang (turun dari 4 ke 8) dan Jerman (turun dari 5 ke 9). Emerging countries (E7), negara-negara berkembang tersebut, dapat tumbuh 2X lebih cepat dari ekonomi negara maju (G7). Akibatnya, enam dari tujuh negara ekonomi terbesar di dunia diproyeksikan menjadi negara berkembang pada tahun 2050 yang dipimpin oleh China (ke-1), India ( 2) dan Indonesia (4).

Bahkan negara-negara dengan ekonomi (PDB) yang relatif lebih kecil seperti Vietnam, Filipina dan Nigeria akan membuat lompatan besar di peringkat masing-masing dalam tiga dekade mendatang, menurut laporan itu.

John Hawksworth, Chief Economist PwC, mengatakan bagaimana Indonesia akan berada di peringkat 5 di tahun 2030 dengan estimasi nilai GDP US$5.424 miliar dan naik menjadi di peringkat 4 di tahun 2050 dengan estimasi nilai GDP US$10.502 miliar berdasarkan nilai GDP dengan metode perhitungan Purchasing Power Parity (PPP). Posisi tersebut akan menjadikan Indonesia dengan perekonomian big emerging market mengingat posisi Indonesia merupakan negara dengan perekonomian terkuat di Asia Tenggara.

Dalam risetnya, PwC mengatakan bahwa ada 32 negara yang akan menggambarkan 85 persen total GDP dunia. Selain menggunakan metode pendekatan paritas daya beli, dalam memproyeksikan nilai GDP, PwC juga turut memperhitungkan variabel demografi, tingkat pendidikan, dan modal investasi yang akan masuk ke negara-negara di bawah ini sehingga akan mendapat nilai proyeksi GDP tersebut.

Untuk peringkat pertama, posisi China tak tergoyahkan baik dalam kondisi perekonomian saat ini maupun proyeksi perekonomian 33 tahun mendatang dengan estimasi GDP mencapai US$5.8499 miliar atau sekitar Rp778 ribu triliun (Rp13.330 per USD).

Sementara itu PwC dalam risetnya memproyeksikan di tengah kenaikan GDP, China, India, AS, dan Indonesia sebagai 4 negara dengan perekonomian terbesar di dunia akan mengalami perlambatan pertumbuhan secara persentase dari tahun ke tahun. Hal ini menggambarkan bahwa ada kecenderungan penurunan pertumbuhan global di masa mendatang.

PPP sendiri merupakan Purchasing Power Parity atau paritas daya beli atau keseimbangan kemampuan berbelanja. PDB dihitung sesuai keseimbangan kemampuan berbelanja (PPP) setiap mata uang relatif kepada standar yang telah ditentukan (biasanya dolar AS). Dalam ilmu ekonomi, PPP mengukur berapa banyak sebuah mata uang dapat membeli dalam pengukuran internasional (biasanya dolar), karena barang dan jasa memiliki harga berbeda di beberapa negara.

Riset yang Lain

Dalam sebuah riset yang lain, "The World Order in 2050" yang disusun oleh Uri Dadush and Bennett Stancil dari Carnegie Endowment for International Peace, diramalkan bahwa bahwa pada 2030, atau 10 tahun dari sekarang, lima dari tujuh negara dengan ekonomi (PDB) terbesar di dunia akan berasal dari jajaran negara-negara berkembang.

Di makalah tersebut, hanya Amerika Serikat sebagai No. 2 dan Jepang sebagai No. 4 yang akan mewakili negara-negara maju di antara G7 yang ‘baru’ (yang diukur dengan PDB masing-masing). Jepang sendiri akan ‘keluar’ dari daftar G7 baru itu pada tahun 2050.

Cina akan menjadi negara dengan ekonomi terbesar di dunia, dan India akan menjadi No. 3. Negara-negara lain dalam G-7 yang baru (dari sebelumnya negara berkembang) adalah Brasil, Meksiko, dan Rusia. Indonesia, Filipina atau Nigeria mungkin akan bersaing menantang Meksiko, Rusia dan Brasil untuk mendapatkan slot di G7 baru pada tahun 2030.

Bisa jadi, ramalan ini akan bergeser atau tak lagi akurat karena dunia saat ini sedang dilanda wabah mengerikan Covid-19 yang memaksa ekonomi secara umum ‘jalan di tempat’ atau bahkan mundur. Namun tetap saja, bahasan ini tetap menarik diulas.

Proyeksi bahwa negara-negara berkembang akan melampaui negara-negara maju dalam ukuran PDB sebenarnya didasarkan pada alasan sederhana.

Pada dasarnya, negara-negara berkembang menjadi ‘rumah’ bagi lebih dari 80% penduduk usia kerja. Memang, tingkat produktivitasnya masih tertinggal dari negara-negara maju saat ini, tetapi mereka sedang mengejar ketinggalan.

Peringkat PDB negara-negara dunia 20150 | Wikimedia commons CC-BY-SA-3.0,2.5,2.0,1.0

Di sebagian besar negara berkembang, mereka mengejar secara bertahap dengan cara menyerap teknologi-teknologi baru, norma, dan institusi yang dikembangkan dan diadopsi negara-negara maju sejak lama. Proses mengejar inilah yang kemudian menjadi proses yang dinamis dan membawa pertumbuhan-pertumbuhan ekonomi yang signifikan.

Selain itu, semua pertumbuhan dalam populasi usia kerja juga terjadi di negara-negara berkembang. Negara-negara berkembang juga menawarkan tingkat bunga tabungan dan investasi yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata negara-negara maju.

Karena faktor-faktor ini, secara umum bisa dikatakan bahwa negara-negara berkembang saat ini menyumbang sekitar 2/3 dari total pertumbuhan PDB dunia. Itu juga berarti bahwa bisnis global akan lebih memilih untuk mengembangkan usahanya di negara-negara berkembang dibanding di negara-negara maju.

Yang kemudian menjadi pertanyaan adalah, G7 yang baru, yang didominasi oleh negara-negara berkembang memberikan dorongan yang sama, pengaruh yang sama, kepada ekonomi global seperti yang dilakukan G7 yang kita kenal saat ini?

Mungkin belum. Ada perbedaan yang cukup mencolok antara G-7 saat ini, dengan G-7 yang baru di masa depan. Inilah beberapa sebabnya:

  • Sejak 75 tahun yang lalu, dipimpin oleh Amerika Serikat, anggota-anggota G7 lama membentuk tatanan demokrasi liberal pasca Dunia II. Amerika Serikat dan Inggris menciptakan Bank Dunia dan IMF pada tahun 1944. Jauh kemudian, sebuah kelompok kecil menciptakan sistem GATT yang membuka jalan menuju WTO. Sejumlah lembaga internasional lain juga dibuat di bawah G7 yang lama. Awalnya dulu, Amerika Serikat telah menegaskan kepemimpinannya sebagai pemenang Perang Dunia II yang telah Eropa, terutama Prancis dan Inggris.
  • Bisa dibilang juga, AS telah menjadi salah satu katalisator utama dalam menyelesaikan malapetaka perang terbesar dalam sejarah umat manusia tersebut. Di G7 yang baru nanti, China akan menjadi negara dengan PDB terbesar, namun ‘privielege” seperti yang dimilik AS di awal dulu, tak dimiliki China. Benar, China sudah menjadi ekonomi terbesar berdasarkan Purchase Power Parity (PPP), tetapi Amerika Serikat terus menjadi ekonomi terbesar dalam hal dolar saat ini, alat pembayaran paling penting dalam perdagangan internasional. Amerika Serikat hingga saat ini juga tetap menjadi kekuatan militer yang dominan. Dan tentu masih banyak lagi, misalnya bagaimana AS tetap menjadi influencer utama budaya populer dunia melalui musik, film, dan dunia selebriti-nya. Negara Paman Sam juga tetap menjadi ‘tujuan’ banyak orang dari seluruh dunia untuk bekerja, mencari pengalaman, atau memperbaiki masa depannya. Amerika Serikat tentu saja terus bertekad untuk mempertahankan keunggulan-keunggulan tersebut. Amerika Serikat mungkin tidak lagi menjadi ‘pemimpin’ global seperti dulu, tetapi ia enggan membiarkan negara lain memimpin.
  • Negara-negara berkembang (bahkan yang sudah masuk G-7 baru) masih menghadapi tantangan yang berat - yaitu pembangunan dalam negeri dan pengentasan kemiskinan. Tentu saja, isu-isu global, lalu bagaimana ikut menjadi bagian dari solusi global, tak selalu menjadi prioritas kebijakan negara-negara tersebut.
  • Negara-negara berkembang terdiri dari negara-negara yang jauh lebih beragam daripada negara-negara maju saat ini. Kesenjangan pendapatan per kapita di antara mereka bisa 10 atau 20 banding 1, dibandingkan dengan 2 banding 1 di negara-negara maju. Demikian pula, perbedaan ukuran absolut antara Cina dan hampir semua yang lain di negara berkembang lainnya jauh lebih besar daripada di antara Amerika Serikat dan G7 tradisional lainnya. Para anggota G7 yang lama juga memperlihatkan struktur ekonomi yang serupa dan mirip-mirip. G7 yang baru dapat mencakup ekonomi pasar seperti Brasil, dan sistem kapitalis negara seperti Cina, atau mungkin Rusia dengan ekonomi berbasis sumber daya, atau Meksiko dengan ekonomi berbasis manufaktur. G7 baru juga meliputi negara-negara dengan sistem politik yang beragam; partai tunggal seperti Cina, semi-otokrasi seperti Rusia, atau Meksiko, India, Indonesia, dan Brasil yang demokratis. Perbedaan-perbedaan ini tentu akan berpengaruh dalam kebijakan, prioritas, strategi, dan visi yang berbeda-beda. Hal ini membuat koordinasi menjadi lebih menantang.

Apapun, ekonomi Indonesia memang makin diperhitungkan. Meski begitu, dua proyeksi di atas tentu saja takkan pernah terjadi jika pertumbuhan ekonomi Indonesia masih saja tak menggembirakan. Tugas pemerintah, dunia usaha, dan kita semua, agar ekonomi bisa tumbuh lebih tinggi, lebih cepat, dengan penguasaan dan adopsi teknologi-teknologi baru secara cepat. Menurut Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN), pertumbuhan ekonomi nasional masih bertumpu pada konsumsi, baik konsumsi rumah tangga (RT) maupun konsumsi pemerintah. Sudah saatnya pemerintah mulai bergeser mengandalkan ekspor dan investasi untuk menjadi tulang punggung perekonomian nasional. Selain mendorong peningkatan ekspor dan investasi, masih menurut KEIN, pemerintah juga harus memberi ruang yang lebih luas terhadap UMKM.

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UMKM, sebanyak 98,7 persen usaha di Indonesia merupakan usaha mikro, yang menyerap 89,17 persen tenaga kerja domestik serta berkontribusi sebanyak 36,82 persen terhadap PDB Indonesia.

Kendati demikian, perannya masih sangat kecil dalam kegiatan ekspor dan investasi sehingga masih memiliki potensi yang sangat besar. Dari simulasi yang dilakukan oleh Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN), jika 10 persen saja dari UMKM yang ada mengalami kenaikan kelas, hal tersebut dapat mendorong pertumbuhan ekonomi nasional tembus 7 persen, bahkan mencapai 9,3 persen (Year-on-Year).

"Pertumbuhan ekonomi di atas 7 persen dapat terwujud apabila UMKM diberdayakan. Tentunya hal ini harus dilakukan melalui kebijakan dengan eksekusi yang baik di sektor terkait,” ucap Arif Budimanta, Wakil Ketua KEIN.

Dalam beberapa kesempatan, Menkeu Sri Mulyani membeberkan kunci agar Indonesia bisa mancapai pertumbuhan ekonomi 7% per tahun. Yang paling penting untuk mencapai pertumbuhan 7 persen adalah dengan mendorong pertumbuhan investasi. Dulu bisa double digit, 11 sampai 12 persen, namun sejak krisis keuangan, pertumbuhan investasi kita dibawah dua digit. Kita hanya tumbuh sekitar lima persen," ujarnya. "Kita juga perlu provide human capital semakin produktif dan inovatif, ini meskipun hasilnya tak langsung tapi akan mendorong sustainable growth. Terakhir juga terkait balance of payement," tandasnya.

====

PwC. 2020. Pwc: Indonesia Akan Menjadi Negara Dengan Perekonomian Terbesar Ke-4 Di 2050. [online] Available at: <https://www.pwc.com/id/en/media-centre/pwc-in-news/2017/indonesian/pwc--indonesia-akan-menjadi-negara-dengan-perekonomian-terbesar-.html> [Accessed 27 March 2020].

PwC. 2020. The World In 2050. [online] Available at: <https://www.pwc.com/world2050> [Accessed 27 March 2020].

Carnegieendowment.org. 2020. [online] Available at: <https://carnegieendowment.org/files/World_Order_in_2050.pdf> [Accessed 27 March 2020].

Dadush, U., 2020. Can The Emerging Economic Powers Govern The Globe? - The Globalist. [online] The Globalist. Available at: <https://www.theglobalist.com/global-governance-g7-wto-us-china/> [Accessed 27 March 2020].

liputan6.com. 2020. 2 Kunci Sukses Agar Ekonomi Indonesia Tumbuh 7 Persen. [online] Available at: <https://www.liputan6.com/bisnis/read/4119656/2-kunci-sukses-agar-ekonomi-indonesia-tumbuh-7-persen> [Accessed 27 March 2020].

Praditya, I., 2020. Pemerintah Harus Lakukan Ini Agar Ekonomi Tumbuh Di Atas 5 Persen. [online] liputan6.com. Available at: <https://www.liputan6.com/bisnis/read/3977348/pemerintah-harus-lakukan-ini-agar-ekonomi-tumbuh-di-atas-5-persen> [Accessed 27 March 2020].

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga25%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang25%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau50%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
Presiden Jokowi Ikuti KTT G20 Secara Virtual, Bahas Penanganan Corona Sebelummnya

Presiden Jokowi Ikuti KTT G20 Secara Virtual, Bahas Penanganan Corona

Tren Sepekan: Jejeran Pesona Alam Jawa dan Si Pemilik Mata Biru Selanjutnya

Tren Sepekan: Jejeran Pesona Alam Jawa dan Si Pemilik Mata Biru

Akhyari Hananto

0 Komentar

  • Ayu

    Komentar telah dihapus oleh Admin

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.