Menikmati Pesona Sano Nggoang, Surga Ekowisata Di Tanipa

Menikmati Pesona Sano Nggoang, Surga Ekowisata Di Tanipa

Danau Sano Nggoang | Shutterstock

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Namanya mungkin kurang populer bagi sebagian wisatawan umum, tapi bagi para pemburu foto burung (bird hunter) kawasan ekowisata dan danau Sano Nggoang ini cukup kondang, terutama bagi para bird hunter asal mancanegara.

Secara geografis, kawasan ekowisata dan danau Sano Nggoang terletak di Desa Wae Sano, Kecamatan Sano Nggoang, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), atau persisnya di bagian tenggara kawasan Hutan Mbeliling dan blok Hutan Sesok.

Untuk mencapainya, kawan GNFI yang ingin berkunjung harus menempuh jarak sekitar 58 kilometer dari Kota Labuan Bajo, atau 80 km dari Kota Ruteng, dengan waktu tempuh 3-5 jam.

Lepas dari jalur Trans Flores, maka akan ditemui jalan terjal berbatu menaiki dan menuruni punggung bukit. Sekadar saran dari penulis, gunakanlah kendaraan bermotor roda dua (motor) selepas Kampung Werang, ketimbang mobil karena jalurnya yang lumayan ekstrem.

Ada pada ketinggian 757 meter di atas permukaan laut (mdpl), Danau Sano Nggoang memiliki luas 513 hektare. Cukup luas memang. Inilah bayaran yang pantas selepas melintas jalan terjal berbatu tadi.

Melihat historisnya, nama Sano Nggoang bermakna danau menyala. Hal itu berasal dari sebuah cerita atau mitos yang beredar bahwa danau itu terbentuk akibat murka seorang dewa pada seorang buta dan si lumpuh.

Mitos lain menyebut bahwa danau ini secara kasat mata dijaga oleh naga yang dapat dilihat oleh orang-orang yang memiliki indera ke enam pada waktu-waktu tertentu.

Danau Vulkanik dan Sumber Air Panas

Secara geografis danau ini berada pada jalur vulkanik, seperti yang dipaparkan Oki Oktariadi dalam Geomagz bahwa keberadaan danau vulkanik ini tidak terlepas dari proses geologi masih terus berlangsung di tanah Flores.

Sejak zaman prasejarah, wilayah Manggarai Barat tersusun atas Busur Vulkanik dalam kelompok magma Kalk Alkalin yang berumur dari era Kenozoikum, dan nyatanya masih aktif hingga kini.

Teori lain menyebut bahwa Danau Sano Nggoang merupakan sebagian kaldera dari gunung purba Sano Nggoang yang erupsi pada era Kenozoikum.

Karena berada pada saluran magma, maka cukup masuk akal jika di sekitar danau terdapat banyak mata air panas. Suhunya dari 50 derajat celsius hingga 100 derajat celsius dengan kadar belerang yang cukup tinggi.

Bila ingin mandi, pilih sumber mata air yang bersuhu rendah, dan ketika ingin merebus telur, bisa menggunakan mata air dengan suhu yang lebih panas.

Panorama Memukau

Pemandangan di sekitar danau pun cukup lestari. Ada puncak-puncak bukit yang indah seperti Golo Dewa Peak, atau biasa disebut Puncak Savana.

Untuk menuju ke sana, jelajah jalan kaki jarak pendek bisa dilakukan dengan melintasi Hutan Mbeliling. Dari atas bukit, pemandangan Danau Sano Nggoang dan dusun-dusun di sekitarnya yang nampak elok.

Lain itu ada pula Puncak Poco Dedeng dengan jalur jelajah yang lebih menantang. Dari atas puncaknya, bisa terlihat pemandangan Kabupaten Manggarai Barat. Dengan catatan bila cuaca sedang cerah.

Hutan Mbeliling selain menjadi cagar budaya dan ekowisata, juga merupakan salah satu paru-paru di Tanipa—sebutan untuk tanah Flores, sehingga menjadi pemasok air terbesar bagi daerah-daerah di bawahnya, termasuk stok air tanah Kota Labuan Bajo.

Surga Burung Endemi

Karena masuk dalam kawasan konservasi Hutan Mbeliling, maka dari pinggiran danau terlihat aneka ragam fauna burung endemik Flores. Di antaranya Elang Flores, Celepuk Flores, Celepuk Maluku, Celepuk Walacea, Gagak Flores, Beo Flores, dan Cabak Maling.

Adalah Perhimpunan Burung Indonesia Flores yang aktif mengembangkan wisata danau ini sebagai titik pengamatan burung sejak tahun 2008. Samuel Rabenak (49), seorang fotografer dan pengamat burung—mantan aktivis Burung Indonesia--mengatakan bahwa ini adalah lokasi tepat untuk melihat keragaman burung dan unggas asli tanah Flores.

Samuel Rabenak dan bird hunter mancanegara | Facebook Samuel Rabenak

Ia menyebut, banyak sekali burung khas Flores maupun burung migrasi dari Asia Selatan dan benua Australia yang terlihat di Sano Nggoang. Bulan Agustus hingga November adalah waktu terbaik untuk melihat burung-burung tadi berkumpul.

Pada waktu itu, para pengunjung dapat melihat dengan kasat mata itik mata putih dan kirik-kirik. Mereka adalah burung migran dari Asia Selatan dan Filipina. Tak heran, pada periode itu Samuel kerap mendapatkan pekerjaan sebagai pemandu (guide) bagi para bird hunter mancanegara.

Selain kaya dengan keragaman burung, Hutan Mbeliling juga merupakan kawasan ekosistem endemi yang ada hubungannya dengan satwa endemi dari pulau Kalimantan, Filipina, dan Papua. Pendek kata, banyak sekali hewan unik yang bisa ditemui disana.

Salah satunya ular buta (typhlops schmutzii), yang ekosistemnya hanya terdapat di Pulau Komodo dan Flores Barat. Lain itu, jika beruntung pengunjung akan melihat tikus endemi Flores, yakni tikus raksasa Flores (papagomys armandvillei) yang populasinya tersebar di kawasan Mbeliling hingga Ruteng.

Ular buta dan tikus raksasa endemi Flores | Facebook Samuel Rabenak

Akomodasi dan Penginapan

Meski ekowisata di kawasan Sano Nggoang belum tergarap maksimal, namun nyatanya mencari penginapan cukup mudah. Banyak warga sekitar yang menyewakan kamar untuk para turis. Sewanya juga cukup terjangkau. Siapkan saja uang Rp 100-150 ribu per orang dalam durasi singgah satu malam.

Pengunjung dapat menikmati malam di Sano Nggoang dengan ragam kicauan burung endemi--terutama celepuk. Kemudian pagi harinya dibangunkan dengan cuitan Jalak dan Beo khas Flores.

Kedatangan para turis di kawasan Sano Nggoang nyatanya turut mendongkrak dampak ekonomi warga lokal. Selain mendapatkan pendapatan dari penginapan, mereka pun menjajakan cinderamata sebagai buah tangan.

Para warga berharap destinasi ekowitasa di Sano Nggoang mendapatkan perhatian serius dari pemerintah setempat, salah satunya dengan merenovasi jalan dan peningkatan infrastruktur serta tempat ibadah.

Nah, dengan informasi tadi apakah Kawan GNFI tertarik untuk datang?

---

Sumber: Geomagz.com | Burung.org | Wikipedia

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
Kemenkeu Luncurkan Pandemic Bond Saat Prestasi Peringkat Utang Sedang Gemilang Sebelummnya

Kemenkeu Luncurkan Pandemic Bond Saat Prestasi Peringkat Utang Sedang Gemilang

Guru Besar UGM Sebut Pandemi Covid-19 Jadi Momentum Berhenti Merokok Selanjutnya

Guru Besar UGM Sebut Pandemi Covid-19 Jadi Momentum Berhenti Merokok

Mustafa Iman
@mustafa_iman

Mustafa Iman

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.