Yang Spesial dari Hari Nelayan Nasional. Jangan Dilupakan, Ya…

Yang Spesial dari Hari Nelayan Nasional. Jangan Dilupakan, Ya…
info gambar utama

Tidak seperti biasanya, warga pesisir Pelabuhanratu tidak disibukan dengan penyambutan para nelayan yang melempar sauh. Ikan-ikan hasil tangkapan belum akan dibagi sesuai ukuran dan jenisnya. Spesial tanggal 6 April, warga bisa libur sejenak dari kegiatannya sehari-hari.

Biasanya warga berduyun-duyun ke balai warga. Anak-anak gadis dirias wajahnya. Rambut digelung seragam ke atas. Mengalungkan kain selendang, dan berpakaian adat khas Sukabumi. Mereka siap menjadi pengawal Ratu Hijau. Berdendang sesuai dengan alunan musik tradisi.

Sebagian lainnya bahkan melakukan konvoi kapal. Berteriak, mengucap syukur, menyapa sesama penumpang kapal, saling membalas senyum lebar. Ini adalah hari spesial, hari syukur. Ini yang selalu mereka lakukan sampai tahun 2019 lalu. Peringatan ke-59.

Kini, peringatan ke-60 seharusnya tidak akan jauh berbeda. Sama-sama bahagia, sama bersyukur.

Inilah gambaran Hari Nelayan Nasional setiap tahunnya di pesisir pantai Pelabuhanratu, Sukabumi, Jawa Barat. Hari Nelayan Nasional yang diinisiasi warga Pelabuhanratu sudah mencapai usia ke-60. Sejarah menyebutkan kalau hari ini dirayakan sebagai wujud rasa syukur akan keberlimpahan dan rejeki nelayan. Hari Nelayan Nasional juga dirayakan sebagai bentuk terima kasih kepada para nelayan, yang kalau kata Sekretaris Jenderal Koalisi Rakyat Keadilan dan Perikanan (KIARA), Susan Herawati, disebut sebagai “Penyuplai protein bagi bangsa ini sekaligus menjadi penjaga ekologi laut Indonesia.”

Sepanjang perjalanan banyak sekali lika-liku yang para nelayan rasakan. Meskipun urusannya tidak jauh dari urusan tingkat kesejahteraan para nelayan. Ada beberapa hal yang patut Kawan GNFI ketahui tentang hari nasional yang seharusnya tidak terlupakan ini.

Hari Nelayan Nasional Diganti

Tahukan Kawan GNFI, sempat ada wacana kalau Hari Nelayan Nasional akan diubah? Tidak lagi menjadi 6 April.

Mengutip dari Mongabay, pada 2019 lalu, DPR RI mewacanakan bahwa Hari Nelayan Nasional akan diubah menjadi 21 Mei. Ini juga sudah sempat dibahas DPR RI dan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman.

Hanya saja wacana tersebut ditolak oleh Koalisi Rakyat Keadilan dan Perikanan (KIARA). Penolakan tersebut karena pihak pemerintah tidak melibatkan nelayan dan perempuan nelayan di seluruh Indonesia. Lagipula, Hari Nelayan Nasional sudah menjadi tradisi turun temurun. Khususnya bagi para warga Pelabuhanratu, Sukabumi, yang dulunya memang menginisiasi tanggal 6 April dijadikan Hari Nelayan Nasional.

Meski begitu, Sekretaris Jenderal KIARA Susan Herawati mengaku, Hari Nelayan Nasional ini masih menyimpan perdebatan terkait sejarahnya. “Sudah sejak era pemerintah Soekarno,” ungkap Susan seperti dikutip Mongabay pada peringatan Hari Nelayan Nasional tahun 2019 lalu.

Menurut Susan, kalaupun peringatan hari ini akan diganti, pemerintah perlu mempertimbangkan dan lebih memilih tanggal 16 Juni sebagai tanggal peringatan. Tanggal tersebut dinilai lebih tepat dan memiliki nilai historikalnya.

“Pasalnya, disitu ada catatan sejarah kemenangan perjuangan nelayan Indonesia secara konstitusional untuk menjaga laut dan pulaunya dari kemungkinan korporatisme dan privatisasi yang jauh dari agenda menyejahterakan nelayan,” jelas Susan seperti dikutip oleh Mongabay.

Untuk nilai historisnya, Susan juga bilang kalau Mahkamah Konstitusi mengakui Hak Konstitusional Nelayan Indonesia, yaitu (1) hak melintas; (2) hak mengakses launtnya sesuai dengan tradisi dan kearifan yang telah dijalankan turun temurun; (3) serta hak untuk mendapatkan laut yang bersih dan sehat.

Tercatat Keputusan MK tersebut ada pada No.3/PUU-VIII/2010. Atas dikeluarkannya keputusan tersebut, tanggal 16 Juni bisa dikatakan sebagai hari kemenangan nelayan atas ruang hidupnya. Seperti tiga hak yang diberikan untuk para nelayan.

Menurut Susan, penggantian Hari Nelayan Nasional mesti melibatkan para nelayan. Ini disebut sebagai bagaimana keterlibatan masyarakat kecil seperti nelayan untuk bisa memberikan kontribusi dalam sebuah kebijakan negara. Apalagi ini menyangkut “Hari Berterima Kasih Pada Nelayan” dimana nelayan sudah mendapat tempat terhormat dalam sejarah dan menjadi bagian dari hari penting Indonesia.

“Supaya publik dan generasi kita mengingat kontribusi nelayan bagi bangsa ini,” begitu kata Susan, masih dari kutipan dari Mongabay.

Jangan Lupakan Nelayan Perempuan

Meski kegiatan melaut hampir semuanya dilakukan oleh para laki-laki, tapi tahukah Kawan GNFI bahwa peran perempuan ternyata memiliki kedudukan dan peran besar dalam aktivitas ekonomi masyarakat nelayan?

Meski tidak ikut melaut, tapi para kaum perempuan berperan pada persiapan dan pasca melaut. Selain memiliki peran sebagai ibu rumah tangga, sesungguhnya mereka juga menjalankan peran ganda sebagai nelayan.

Dari hasil penelitian Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan yang dilakukan di pesisir Teluk Jakarta menyebutkan, perempuan pesisir memiliki peran penting dalam rumah tangga nelayan. Tidak hanya pada aktivitas ekonomi rumah tangga, perempuan pesisir dianggap lebih mendominasi soal kegiatan nelayan.

Para perempuan pesisir Teluk Jakarta ikut terlibat dalam aktivitas perikanan tangkap, budidaya kerang hijau, pengolahan ikan asin, sampai pemasaran hasil perikanan. Bahkan peran perempuan nelayan sangat penting dalam menentukan jenis alat tangkap yang akan digunakan oleh para suami. Tidak berhenti sampai disitu, mereka juga mahir dalam memperbaiki alat tangkap.

Tidak banyak yang tahu, kalau sebenarnya para istrilah yang sibuk menyiapkan peralatan melaut. Sebagai contoh dari hasil penelitian tersebut, di wilayah Marunda, para istri nelayan itu membuat dan memperbaiki jaring dalam jumlah yang cukup banyak. Alokasi waktu yang diberikan untuk membuat satu buah jaring rajungan adalah satu hari.

Umumnya jaring rajungan yang digunakan dapat bertahan antara 2-7 hari. Setelah dipakai untuk kegiatan penangkapan rajungan, biasanya jaring harus selalu diperbaiki. Tidak hanya untuk rajungan, perempuan pesisir di Marunda juga membuat jaring bandeng yang digunakan saat musim rajungan sedang sedikit panen.

Pada tahap pasca penangkapan, peran perempuan nelayan memiliki kontribusi di dalam peningkatan pendapatan rumah tangga, yaitu tahap pemasaran. Hasil tangkapan tidak hanya sampai penyortiran, tapi para perempuan nelayanlah yang memiliki banyak kontribusi meningkatkan penghasilan demi kesejahteraan keluarganya. Salah satunya dengan menjual sendiri hasil tangkapan para suami. Tentu selisih menjual langsung ke konsumen dengan menjual ke perantara akan berbeda.

Kalau soal untung rugi, memang perempuan ahlinya.

Selamat Hari Nelayan Nasional, Kawan GNFI!

Sumber: E-Journal Balitbang Kementerian Kelautan dan Perikanan | Kiara | Mongabay | Kanal Youtube Co2 Palabuhanratu

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini