Melihat Tempe yang Semakin Terkenal di Negara Lain

Melihat Tempe yang Semakin Terkenal di Negara Lain
info gambar utama

Tempe, panganan ala nusantara dari olahan kacang kedelai ini begitu multidimensi. Hampir setiap rumah makan yang tersebar di Indonesia dari etnis apa pun seringkali menyediakan tempe sebagai hidangan dengan berbagai olahan. Harganya relatif murah dan (kemungkinan) digemari seluruh lapisan masyarakat.

Awalnya, tempe kerap kali dipandang sebelah mata karena dianggap sebagai sajian untuk rakjat jelata. Mungkin kawan GNFI masih ingat dengan pidato-pidato Bung Karno di mana beberapa di antaranya menyinggung panganan tempe. “Kita bangsa besar, kita bukan bangsa tempe. Kita tidak akan mengemis, kita tidak akan minta-minta apalagi jika bantuan-bantuan itu diembel-embeli dengan syarat ini syarat itu! Lebih baik gaplek tetapi merdeka, dari pada makan bestik tetapi budak,” begitulah penggalan pidato Bung Karno pada HUT Proklamasi tahun 1963.

Dari situ kita melihat jalan pikir Bung Karno yang menganggap tempe sebagai makanan kelas dua, makanan orang kecil yang diasosiasikan negatif. Namun, itu mungkin dulu, karena semakin berganti tahun dan banyaknya inovasi di dunia kuliner membuat tempe naik kelas bahkan sampai go international.

Yustina Haryanti merupakan satu dari sekian banyak orang yang mempromosikan tempe di luar Indonesia. Beserta suaminya, Francesco, Yustina membuka kedai olahan tempe bernama Tempehhof di pasar aneka jajanan terkenal, “Streetfood Thursday”, yang digelar di Markthalle Neun, Berlin, Jerman. Menu andalan Yustina ialah rending tempe dan bakpao isi tempe di mana harganya dibanderol sekitar 5 euro (Rp 85 ribu).

“Awalnya hanya karena saya suka tempe, tapi di sini tidak ketemu tempe yang sesuai seperti aslinya di Indonesia,” terang Yustina dikutip GNFI dari laman DW. “Lalu idenya datang dari suami saya: ‘kenapa kamu tidak bikin tempe saja di sini?’,” katanya lagi.

Memang, wanita asal Ungaran, Jawa Tengah, tersebut tidak mendatangkan langsung tempe siap masak dari Indonesia, melainkan mengolahnya langsung secara mandiri. Setelah membaca berbagai buku tentang makanan berfermentasi dan mengikuti kursus Indonesian Tempe Movement di Belanda, Yustina yang awalnya mencicipi kegagalan bisa memproduksi tempe sendiri. “Awalnya tempe saya selalu busuk, Tapi saya berpikir, saya harus bisa. Jadi saya coba terus,” ungkapnya.

Promosi pun dilakukan Yustina di sebuah komunitas vegan di Berlin dan mendapatkan sambutan positif dari warga setempat. Dari situ ia bersua dengan pengusaha Jerman yang tertarik membantu usahanya menjual tempe bikinannya. Hasilnya, pada 2015 ia pun mendirikan Tempehhof.

Tempe produksi Tempehhof kian populer bagi pecinta kuliner, terutama dari kalangan vegetarian dan vegan yang bermukim di Berlin. Tak jarang Tempehhof diundang untuk meramaikan festival dan juga menjadi penyalur tempe di restoran dan kafe. Di sebuah restoran Italia, tempe merek Tempehhof dipadupadankan dengan sajian bruschetta atau ravioli.

Per pekannya Tempehhof turut melayani pesanan dari beberapa kantor yang menyediakan makan siang tanpa unsur hewani. “Selalu ada tempe dalam menu catering saya dan saya selalu cerita, bahwa inilah produk asli Indonesia,” kata Yustina.

Tetap Buka Meski Diganggu Virus Corona

Pandemi virus corona menjadi momok menakutkan bagi para pengusaha makanan di berbagai belahan dunia termasuk di Jerman. Larangan untuk tetap tinggal kediaman masing-masing dan berkumpul di luar rumah membuat sejumlah rumah makan atau restoran menjadi sepi akan pengunjung. Layanan pesan antar makanan pun menjadi kunci untuk membuat usaha tetap hidup.

“Kami juga melihatnya sebagai tantangan, karena memang saat ini masih dalam masa shock untuk perubahan yang tiba-tiba, tetapi kita manusia yang pasti bisa beradaptasi dan menemukan cara untuk bertahan. Dan dalam kondisi sulit, orang tetap memerlukan makanan,” terang Yustina terkait situasi di dunia saat ini mengenai pembatasan fisik di ruang publik.

Tempe Juga “Menginvasi” Inggris

Pada 2015 lalu, sebuah warung tempe di ibu kota Inggris, London, menjadi bahan perbincangan di dunia maya. Warung tempe itu bukan dibuka oleh pengusaha asal Indonesia, tetapi oleh seorang warga asli Inggris, William Mitchell.

William menceritakan sudah jatuh cinta dengan panganan tempe sejak menjadi guru bahasa Inggris di Jakarta pada 1995. Kecintaannya pada tempe membuat ia terobsesi untuk mempelajari cara membuat tempe di beberapa kota di Pulau Jawa, salah satunya di Malang, Jawa Timur.

“Saya belajar membuat tempe selama beberapa bulan di Jawa dari beberapa produsen dan setelah beberapa bulan saya mampu membuat tempe dengan kualitas tinggi di Inggris,” kata William dikutip dari BBC. Setelah merasa sanggup membuat tempe sendiri, William membuka warung tempe di London pada 2014 di Leather Lane Market. Awalnya nama warungnya dinamakan “Warung Tempe”, tetapi agar familiar bagi warga lokal ia menggantinya menjadi “The Tempeh Man”.

William saat itu berharap didirikannya warung tempe bisa menjadi ajang promosi kuliner khas Indonesia. “Saya bule tukang tempe. Saya punya tiga pekerjaan, buat tempe, masak tempe, dan promosikan tempe,” jelas William dengan bahasa Indonesia yang fasih.

William Mitchell sedang belajar mengolah tempe bersama Pak Abdul Halim di sebuah pabrik tempe di Yogyakarta. Sumber: Warungtempeh.com
info gambar

Promosi tempe dilakukan William lewat berbagai platform media sosial, baik itu Facebook, Instagram, dan Twitter. Ia juga mempunyai website sendiri bernama warungtempeh.com di mana di dalamnya berisi kisah pengalaman ia belajar memproduksi tempe di Jawa, khasiat tempe bagi penikmatnya, dan menu olahan tempe warungnya. William memiliki dua menu olahan tempe, yakni Sayur Lodeh Tempeh dan Cumin Tempeh dengan harga 5,50 poundsterling (sekitar Rp 108 ribu).

Pandemi virus corona juga berdampak bagi warung The Tempeh Man milik William. Pada pertengahan Maret 2020 lalu, ia menutup warungnya untuk sementara dan berjanji akan menginformasikan kapan layanan akan dibuka kembali.

Sudah Merambah di Jepang

Jauh sebelum Yustini dan William, Rustono sudah menancapkan usaha tempenya di negeri matahari, Jepang. Rustono – pria kelahiran Grobogan, Jawa Tengah – mulai tinggal bersama istrinya, Tsuruko Kuzumoto, di Jepang pada 1 Oktober 1997. Ada tekad dari Rustono selama tinggal di Jepang yaitu ia harus membuka usaha sendiri.

Rustono memulai usaha tempe pada tahun 2000 setelah ia keluar dari sebuah pabrik roti. Tak selamanya usaha seseorang mulus, karena lebih banyak belajar dari internet racikan tempenya tidak diminati hotel dan resto di Jepang. Ia pun bertolak ke Indonesia untuk mempelajari tempe secara langsung.

Rustono dan tempe buatannya. Sumber: Goukm.id
info gambar

Ketika kembali lagi ke Jepang, Rustono kembali membangkitkan usaha tempenya. Pucuk dicinta ulam pun tiba, mungkin sudah digarisi oleh takdir, seorang wartawan yang lewat di depan rumahnya mewawancarai Rustono yang sedang mengerjakan tempenya saat musim dingin. Dari tulisan sang wartawan nama tempe produksi Rustono melambung. Berlabel “Rustono Tempeh”, berbagai order mulai datang dari hotel dan resto.

Ada tempe dalam anime Jepang, Shokugeki no Souma. Sumber: Anime
info gambar

Entah ada kaitannya atau tidak, tampaknya semenjak itu tempe mulai terkenal di Jepang. Sebagai buktinya sebuah anime/manga bertemakan masakan dengan judul Shokugeki no Souma menyinggung tempe dalam kisahnya.

Tempe Jadi Warisan Budaya Dunia UNESCO

Pada 2018, beredar kabar penggerak usaha per-tempe-an ramai dibicarakan akan mengajukan tempe sebagai warisan budaya non benda ke UNESCO. Rencananya tempe akan dinilai kelayakannya sebagai warisan budaya oleh UNESCO pada 2021 mendatang.

“Kita harus bersyukur bahwa tempe baru saja diterima dan ditetapkan Indonesia sebagai warisan budaya nasional pada Oktober tahun lalu (2017) sehingga siap untuk maju ke UNESCO pada 2021 untuk mendapatkan pengakuan,” jelas Ketua Forum Tempe Indonesia, Made Astawan, pada 2018 lalu.


Referensi: DW.com | Warungtempeh.com | BBC | Kompas.com

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini