Para Kesatria Indonesia dari Negeri Seberang

Para Kesatria Indonesia dari Negeri Seberang
info gambar utama

Kawan GNFI, di negeri kepulauan ini, ada beberapa orang memahami seluk-beluk kultur dan budaya. Lain itu, ada juga yang berempati atas kondisi sosial masyarakat secara umum, sehingga mereka mengabdikan dirinya untuk nilai kemanusiaan.

Namun mereka bukan pribumi asli. Kulit dan rambut mereka benderang, lazimnya kita menyebut mereka bule.

Namun demikian, dedikasi mereka untuk negeri ini bukan sebelah mata, meski pada hal kecil sekalipun yang terkadang "tak tampak" oleh mata kita.

Kami takjub dengan semangat mereka, sehingga merasa perlu menceritakan lebih jauh soal kenapa mereka begitu jatuh cinta dengan Indonesia. Tak berlebihan jua jika kami sebut mereka dengan panggilan Bahadur.

Dari puluhan Bahadur yang ada di negeri ini, berikut tiga di antaranya..

Carlos Ferrandiz

Sosok 40 tahun ini telah bekerja selama tujuh tahun sebagai pengacara di sebuah firma hukum top di Spanyol. Bahkan karier professionalnya itu membuat banyak orang iri.

Sayangnya, profesi yang cemerlang itu tak membuatnya senang. Pada 2010, ia memutuskan hengkang dari pekerjaan yang memberinya kecukupan materi.

Carlos mengajak keluarga dan teman-teman dekatnya berbondong pindah ke Indonesia, untuk mengabdikan diri membuat sebuah proyek kemanusiaan. Ia menamakannya dengan Proyek Harapan (Harapan Project).

Proyek ini didirikan di desa Hu’u, sebuah kampung terpencil di Kabupaten Dompu, Sumbawa Timur, NTB. Ada cerita menarik soal alasan Carlos mendirikan LSM di desa itu.

Carlos Ferrandiz | Harapan Project
info gambar

Berawal dari kunjungannya ke Indonesia pada 2005, saat itu ia dan beberapa temannya berlibur ke Bali, destinasi wisata paling populer di Indonesia. Tak heran, karena Carlos memiliki hobi bertarung dengan ombak alias peselancar.

Bosan dengan Bali, ia mencari informasi lain. Kemudian didapatkannya info soal pantai di timur Sumbawa yang ombaknya cukup menantang. Karena penasaran, Carlos cs pun beranjak.

Saat tiba, Carlos merasa Pulau Sumbawa sangat berbeda dari Bali. Bali adalah pulau yang luar biasa berkembang, baik secara ekonomi maupun wisata. Pulau dengan ingar-bingar para wisatawan lokal maupun mancanegara yang mendarat setiap harinya di bandara I Gusti Ngurah Rai.

Sementara Sumbawa, meski secara luas nyaris tiga kali lipat dari Bali (Bali: 5.700 km persegi, Sumbawa: 15.448 km persegi), nyatanya hanya menerima beberapa wisatawan per pekan.

Lain itu, Carlos menilai masyarakat Sumbawa gagal paham soal bagaimana memanfaatkan potensi wisata di masing-masing daerahnya. Dampaknya, banyak beberapa dusun yang berada di bawah garis kemiskinan, bahkan ekstrem.

Carlos juga melihat berbagai ketimpangan hadir antara kawasan satu dan lainnya.

Misalnya, di tempat ia menginap di kompleks perhotelan Lakey Peak. Lokasi di mana wisatawan dengan mudah mengakses pantai dengan gelombang Sumbawa yang terkenal. Seperti Lakey Peak, Lakey Pipe, Periscopes, dan Nangas. Daerah ini cukup baik secara ekonomi.

Namun, beberapa kilometer Lakey Peak, ada desa bernama Hu'u. Desa itu berdiri di atas lahan seluas 30 km persegi dengan penduduk sekira 8.000-an orang, dan 30 persen di antaranya ada pada usia sekolah.

Dalam pandangan Carlos, desa ini miskin, minim infrastruktur, serta terasa sekali dampak pengucilan sosial. Meski begitu, penduduk desa melakukan pekerjaan sehari-hari dengan senyum.

Senyum… Iya, senyum.

Ekspresi inilah yang selama ini hilang dari Carlos saat menjalani profesinya di dunia pengacara, hingga senyum itu langsung membuatnya jatuh cinta pada Desa Hu’u. Semangatnya untuk membangun desa itu dan mengangkatnya dari keterpurukan pun terpecut.

Soal rasa empati Carlos, sejak berusia 6, orang tuanya telah mengajarinya pentingnya membantu orang lain. Mereka memang pekerja sosial, khususnya untuk dapur umum serta pada rumah-rumah penyandang disabilitas fisik dan mental.

Carlos kecil dan saudara perempuannya, Laura, seperti diajarkan untuk menghargai apa yang benar-benar penting dalam hidup. Yakni kesehatan, cinta, persahabatan, kebahagiaan, dan untuk selalu menghargai apa yang dimiliki.

Pada 2010, seusai kepindahannya dari Spanyol dan memutuskan untuk menetap di Indonesia, Carlos langsung mengurus segara keperluan terkait LSM yang ia dirikan. Memang tak sedikit dana yang dibutuhkan, namun hasilnya sungguh luar biasa.

Anak-anak desa dan penduduk antusias untuk belajar, terutama Bahasa Inggris, agar mereka bisa berkomunikasi dengan turis yang melintasi desa itu. Ketika berbincang dengan turis, ada interaksi sosial masyarakat di sana.

Selain mendirikan tempat khusus untuk belajar, Carlos juga melayani soal kesehatan di desa itu. Ia membantu mengobati anak-anak yang sakit, para warga yang mengalami kecelakaan kerja, serta ibu-ibu yang hendak melahirkan. Semuanya gratis.

Sebisa mungkin ia bisa membalas apa yang desa itu berikan untuknya—ya senyum itu tadi.

Guna memajukan pembangunan desa, Carlos terus berupaya mencari dana, baik dengan cara membuka donasi maupun sesekali ke Spanyol, tempat di mana ia bisa menambang uang.

Kini, setelah satu dasawarsa, Carlos mampu menghubungkan antara profesi, LSM Proyek Harapan, dan hubungan harmonis dengan pemerintah daerah.

Meski telah terangkat dampak sosial ekonomi dan pendidikan serta kesehatan memadai warga Desa Hu’u, namun Carlos merasa pengabdiannya belum tuntas meski telah menyandang Hero of Indonesia Awards 2018.

Horst Hebertus Liebner

Dari Sumbawa Timur, kita bergeser ke Sulawesi Selatan.

Adalah Horst Hebertus Liebner, pria 60 tahun kelahiran Oberhausen, Nordrhein-Westfalen, Jerman, yang jatuh cinta pada tradisi pembuatan perahu tradisional Pinisi dan Padewakang, asal Tana Beru, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Saking cintanya, ia menetap selama bertahun-tahun di kawasan Benteng Somba Opu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, dan rela bolak-balik ke Tana Beru yang berjarak 124 km. Hingga kemudian ia mendedikasikan dirinya pada pengembangan budaya maritim Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat selama lebih dari 30 tahun.

Ia pula yang memopulerkan Sandeq Race, balapan perahu Sandeq dengan rute dari Mamuju (Sulawesi Barat) ke Makassar (Sulawesi Selatan) sejauh kurang lebih 600 km.

Sandeq merupakan perahu adat suku Mandar—Sulawesi Barat--yang dikenal sebagai perahu nirmesin tercepat di perairan Austronesia. Ajang itu digelar mulai 1995 dan berkontribusi bagi budaya serta ajang pariwisata di Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan.

Doktor jebolan University of Leeds, Inggris itu juga sempat menulis buku The Siren of Cirebon. Buku itu merupakan hasil riset dan rekonstruksi kapal yang karam pada 970 masehi di Laut Jawa, Cirebon, Jawa Barat.

Meski saat ini perahu adalah hidupnya, ia mengaku bukan berasal dari keluarga nelayan. Hanya saja, masa kecilnya dihabiskan tinggal di Leer, Jerman, yang merupakan wilayah pesisir.

Horst Hebertus Liebner | DW.com
info gambar

Dari sejumput cerita menarik tadi, kita terjemahkan soal petualangan Liebner di Indonesia yang dimulai pada 1984.

Semua bermula ketika ia mendapat beasiswa Jurusan Sastra Indonesia dan Melayu, Fakultas Antropologi, Universitas Keulen, Jerman. Kemudian pada 1987, ia kembali mendapat beasiswa dari pemerintah Jerman dan kuliah di Universitas Hasanuddin, Makassar.

Hingga kemudian pada era 1990-an, ia didapuk menjadi dosen untuk studi antropologi di Universitas Hasanuddin dan Universitas Negeri Makassar. Selama kurun itu, ia menjadi lebih intim dengan kultur dan budaya lokal.

Ia mulai tertarik dengan tradisi pembuatan kapal tradisional Pinisi, ketika berkunjung ke Tana Beru, sentra pembuatan kapal tersebut. Saat itu, tentunya tempat itu belum sepopuler sekarang.

Ketertarikan pakar maritim ini terutama soal kerumitan dan konsep pembuatan perahu. Menurutnya, para pembuat perahu Pinisi yang berasal dari Suku Konjo itu menyusun papan badan perahu terlebih dahulu ketimbang membuat kerangka perahu.

Hal ini menjadi menarik baginya, karena bertolak belakang dengan apa yang dilakukan arsitek dan pembangun kapal di Eropa, yang lazim membuat kerangka lebih dulu.

Ia melihat papan perahu tidak dipaksa bengkok, tapi dibuat mengikuti bentuk kayu. Padahal, umumnya papan perahu secara teknis harus dipotong-potong menyesuaikan konstruksi dasar perahu.

Dari sana ia belajar bahwa nenek moyang orang Bugis menguasai pengetahuan dan teknologi mengolah kayu untuk pembuatan kapal, suatu ilmu warisan dunia yang mesti diteruskan.

Pelayaran pertama Liebner berlangsung selama setahun dengan Pinisi guna menjelajah dan mencari tempat lain yang memiliki tradisi maritim.

Nah, melalui perjalanan itulah Liebner kenal dengan budaya Mandar, terutama pada Sandeq, perahu adat yang saat itu nyaris punah.

Kini, Pinisi, Padewakang, dan Sandeq menjadi tempat istimewa yang ada di kepalanya. Bahkan ia jua yang menyerahkan replika perahu Pinisi dengan bangga ke International Tribunal for the Law of the Sea (ITLOS), Hamburg, untuk dipajang di sana.

Buah dari kecintaannya pada budaya itu membuat pamor perahu tradisional Pinisi kembali bangkit dan kerap menerima pesanan dari mancanegara.

Prediksi Liebner pun tak salah, perahu khas Sulawesi Selatan itu memang istimewa. Belakangan, pada 2017 UNESCO mengakui pembuatan kapal Pinisi itu sebagai warisan budaya tak benda sektor maritim yang pertama di dunia.

Annette Horschmann

Pendekar selanjutnya adalah Annette Horschmann, perempuan bule yang mendedikasikan dirinya untuk pengembangan ekowisata Danau Toba, Samosir, Sumatra Utara.

Selama 28 tahun, ia mendermakan hidupnya untuk kebersihan dan kelestarian Danau Toba, terutama soal isu sampah.

Ia bahagia melihat jerih payahnya berdampak sosial bagi masyarakat sekitar. Danau Toba kini bersih dan ramai oleh turis, baik lokal maupun mancanegara. Annette pun selalu menyanjungnya, tak terkecuali di negara asalnya, Jerman.

Annette boleh jadi sebagian dari orang asing yang jatuh cinta pada keindahan Danau Toba, terutama saat ia menginjakkan kali pertama pada 1993 sebagai kaum hippies—kaum pengelana yang menjunjung tinggi konsep kebebasan.

Annette Horschmann | Facebook Annette Horschmann
info gambar

Soal kecintaan dadakannya pada Danau Toba, Annette punya kisah menarik.

Sebenarnya tak pernah terpikir oleh Annette untuk mengunjungi, apalagi menetap di Danau Toba, saat rencana petualangan panjang keliling dunianya pada 1993.

Soal petualangan, sejak kecil Annette memang dekat dengan alam. Orang tuanya kerap mengajaknya berkelana keliling Eropa, keluar dari tempat tinggal mereka di kota kecil Wetter.

Saat menjelajah di Eropa, Annette paling sering pergi ke pegunungan di Yunani, untuk sekadar kamping atau memberi makan ternak warga sekitar. Ketika usia 18, baru muncul jiwa petualangnya. Ia kerap melancong ke berbagai negara sendirian.

Saat merencanakan tur panjangnya itu, Annette hanya mencatat di agendanya untuk mengunjungi India, Thailand, Selandia Baru, Indonesia, Malaysia, dan Amerika Serikat.

Namun, agendanya berubah ketika di Bali, saat ia mendengar sekelumit cerita soal Danau Toba. Nama yang kemudian selalu terngiang di telinga dan mengusik nyenyak tidurnya.

Karena penasaran, ia kemudian memutuskan untuk membatalkan bertolak ke AS dan malah membelokkan kaki ke Sumatra melalui jalan darat. Ia sempat singgah di Yogjakarta, Jakarta, dan Bukit Tinggi.

Ketika tiba di Tuktuk, Samosir, ia langsung jatuh hati dengan pemandangan yang memesona, air danau yang biru, serta angin nan sejuk. Sungguh, kala itu Annette merasa akan kerasan tinggal di sana.

Meski betah, Annette berfikir harus melakukan perjalanan lanjutan. Saat itu ia ingin bertolak ke AS, dengan mampir dahulu ke Malaysia. Saat di Malaysia, rasa rindunya dengan Danau Toba semakin kuat. Bahkan Annette merasa tak enjoy liburan di Malaysia.

Annette pun kembali ke Toba. Kemudian ia berkenalan dengan Antonius Silalahi, pemuda tulen Tuktuk, yang mengajaknya jadi rekan bisnis. Mereka berencana membangun restoran dan hotel--Tabo Cottage—karena melihat jumlah kunjungan turis yang terus meningkat.

Karena merasa cocok, Antonius kemudian memutuskan menikahi Annette dengan adat Batak pada 1994. Meski awalnya keluarga Annete di Jerman tak setuju, nyatanya mereka kemudian datang di pesta pernikahan. Dan sejak itu hingga saat ini kerap mengunjungi Annette.

Uniknya, pernikahannya dengan Antonius itu sebelumnya pernah diramalkan oleh pemandu wisata yang dikenalnya sebelumnya. Saat itu Annete menyangkal, karena tak mungkin tinggal di Toba, apalagi menikahi pemuda lokal. Sekadar bayangan, saat itu Annette perempuan bule dengan postur jangkung 170 cm.

Bisnis restoran dan hotel keduanya pun berjalan lancar, tapi ada yang mengganjal di hati Annette. Ia melihat pada beberapa bagian tepi danau banyak sekali sampah dan eceng gondok.

Selain merusak mata, sampah-sampah itu merusak ekosistem dan kejernihan danau. Ia pun berinisiatif untuk memungut sampah-sampah tadi dengan menggunakan sampan. Ia berharap jejaknya diikuti oleh warga sekitar. Tapi harapan tinggal harapan.

Tak kurang dari 10 tahun ia harus melakukan aktivitas "memulung" di danau itu. Tak hanya di Samosir, tapi sampai juga ke Parapat. Hingga akhirnya warga sekitar mengikuti jejaknya, karena juga mereka merasakan manfaat dari danau yang bersih dari sampah.

Terlebih Annette sudah dianggap warga sebagai penduduk lokal dengan panggilan Butet. Iya, sejak menikah dengan Antonius, Annette mengganti namanya menjadi Annette Boru Siallagan.

Saat ini, ibu tiga anak itu aktif menyuarakan pengenalan Geopark Kaldera Toba dan mendorong agar tergabung dalam UNESCO Global Geopark.

---

Sumber: Proyectoharapan.org | Dw.com | Itlos.org | Kompas.com | Kemendikbud.go.id | Antara | Medan Bisnis Daily

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini