Ayam Betutu, Kuliner Warisan Budaya Tak Benda di Indonesia

Ayam Betutu, Kuliner Warisan Budaya Tak Benda di Indonesia
info gambar utama

Bali dikenal sebagai jantung budaya Indonesia serta pulau seribu pura bagi peribadatan kaum Hindu di Indonesia. Kekayaan budayanya membuat Bali menjadi lokasi yang menarik bagi para wisatawan lokal, hingga mancanegara.

Tak hanya dikenal dengan pariwisatanya saja, Bali juga sangat terkenal dengan kulinernya. Diantara banyaknya kuliner di Bali, Ayam Betutu ialah salah satu kuliner khas Bali yang paling terkenal, dan tidak dimiliki oleh daerah lain.

Menurut ahli Gastronomi, Betutu adalah garis walacenya seni kuliner nusantara. Pembatas antara seni makanan barat dan timur di Indonesia. Peralihan dari makanan manis di Jawa, ke makanan pedas di Timur. Betutu juga sudah mendapat penetapan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia.

Betutu tidak hanya menjadi makanan untuk masyarakatnya saja. Secara religius, Betutu diperuntukkan bagi para dewa-dewi bagi kepercayaan yang mereka anut. Biasanya, Ayam Betutu akan dituang dalam lontar Indik Maligia, sedangkan jika untuk manusia Bali, Ayam Betutu tertuang dalam lontar Dharma Caruban.

Istilah Betutu diambil dari kata tumu yakni bakar dan be ialah daging ayam. Sehingga, apabila disambung dapat berarti daging ayam yang dibakar. Hanya saja proses pembakarannya berbeda dengan produk yang lain.

Meskipun namanya Ayam Betutu, namun Betutu juga memiliki dua varian, bisa menggunakan daging ayam atau bebek. Cara memasaknya cukup unik, yaitu daging ayam akan diberi bumbu yang dimasukkan ke dalam bagian perutnya lalu dibungkus menggunakan pelepah pinang atau pelepah pisang.

Selanjutnya, Betutu dibakar menggunakan api sekam. Bungkusan ayam tersebut akan ditanam masuk menuju lubang di dalam tanah, dan ditutup menggunakan bara api hingga menghasilkan aroma yang khas. Aroma khas tersebut muncul karena adanya pemanasan yang menyebabkan air, dan lemak daging ikut menguap. Semakin banyak uap yang dihasilkan, maka semakin kuat dan enak aromanya.

Resep Ayam Betutu Bali Kuah | @suratrasmik.blogspot
info gambar

Namun sekarang, di Bali juga banyak penjual Ayam Betutu yang memilih menggunakan cara yang praktis sekaligus cepat, yaitu menggunakan alat masak modern hingga ayam akan empuk sampai ke bagian tulang.

Konon, kaki ayam yang dipatahkan ke arah perut dan ditutupi oleh masing-masing sayap, kemudian diikat rapi itu akan terlihat seperti sikap Sang Hyang Ganapati yang sedang beryoga. Betutu merupakan simbol perwujudan dari dharma atau kesucian. Tak heran jika Betutu selalu hadir dalam setiap ritual keagamaan masyarakat Hindu Bali, seperti Ngaben, Tumpek, dan lainnya karena mengandung maksud memohon kesucian, dan dharma ke hadapan Sang Hyang Widhi. Hal ini biasa dibahasakan dengan Bahasa Widhi.

Ayam Betutu juga biasa digunakan sebagai lauk atau ajengan kepada para pemimpin upacara adat atau keagamaan di Bali, seperti Pedanda, dan Sulinggihyang. Bebek atau Ayam Betutu yang digunakan untuk upacara adat ialah Betutu versi Pan Rimpin yang masih menggunakan teknik tradisional dalam pembuatannya.

Ayam Betutu juga digunakan dalam tradisi megibung, khususya di daerah Karangasem. Selain itu, Betutu disajikan pula dalam acara pernikahan maupun perhelatan akbar lainnya.

Sempat menghilang dari peredaran, Ayam Betutu diperkenalkan kembali di Bali tahun 1978 oleh Men Tempeh. Men Tempeh berasal dari Abianse, Gianyar, dan suaminya yang berasal dari Tanggaan, Bangli, membuka usaha Ayam Betutu setelah melalui perjuangan yang panjang sebagai perantau di Denpasar.

Setelah Men Tempeh meninggal di tahun 2004, usaha restoran Ayam Betutu miliknya dilanjutkan oleh sang suami, Made Suratna atau akrab disapa Pan Tempeh. Sejak saat itu, beberapa penduduk Bali pun mulai mengikuti jejak Men Tempeh, hingga sekarang.

MENTEMPEH Instagram posts | @picuki.com
info gambar

Ayam Betutu juga biasa dihidangkan bersama makanan pendamping lainnya, seperti plecing kangkung, kacang goreng, dan sambel terasi. Sangat menggiurkan, bukan? Selain memiliki beragam kandungan gizi, Ayam Betutu juga merupakan kuliner legendaris yang patut dilestarikan.

Bagaimana, apakah Kawan GNFI tertarik mencobanya?*

Sumber nativeindonesia.com | kulineria.id | jendelakuliner.com

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini