Menyambut Bulan Ramadan dengan Cucurak

Menyambut Bulan Ramadan dengan Cucurak
info gambar utama

Beberapa daerah di Indonesia mempunyai caranya sendiri-sendiri dalam menyambut bulan Ramadan. Ada yang berziarah atau nyekar ke makam anggota keluarga, bermaaf-maafan dengan kerabat untuk saling melupakan dosa yang ada, sampai melakukan kegiatan keagamaan .

Berbagai tradisi juga dilakukan di tiap daerah dengan cara dan nilai filosofinya masing-masing. Biasanya, tradisi yang dilakukan memiliki sisi unik dan berusaha dipertahankan turun-temurun, dari tahun ke tahun. Salah satu tradisi dalam menyambut bulan suci Ramadan yang sering dilakukan ialah tradisi cucurak.

Tradisi cucurak berasal dari tanah Pasundan dan khususnya sering dilakukan warga kota Bogor. Secara rutin tradisi cucurak digelar sebelum memasuki bulan Ramadan. Dalam tradisi tersebut sanak keluarga dan kerabat bertemu untuk bersilahturahmi dan bermaaf-maafan.

Tak sekadar bersilahturahmi, tradisi cucurak biasanya dilanjutkan dengan botram yang artinya makan bersama-sama. Biasanya, hidangan dibawa dari rumah dan disantap di tempat terbuka seperti tempat wisata misalnya.

Setelah sampai di tempat yang ditentukan, botram pun digelar secara lesehan. Hidangan yang dibawa biasanya disajikan di atas wadah daun pisang dan disantap bersama-sama.

Kuliner yang disajikan biasanya masakan ala Sunda, seperti nasi timbel, lalapan, beserta lauk-lauk yang gurih seperti ikan asin. Hidangan ditata memanjang di wadah daun pisang, penyajiannya bisa diletakkan di lantai/rumput atau meja kecil. Seluruh hidangan pun disantap dengan muluk (tanpa sendok) secara bersama-sama.

Pada 2015, bagi Ketua Lembaga Kebudayaan Sentra Daksa Bogor, Cecep Toriq, cucurak adalah bentuk budaya Sunda, yaitu makan bersama keluarga. Tradisinya tidak jauh berbeda dengan syukuran di mana masyarakat berkumpul memanjatkan doa dan menikmati hidangan yang sudah tersedia.

Terdapat tiga tradisi yang biasa dilakukan warga Bogor sebelum memasuki bulan Ramadan, yaitu ziarah, cucurak, dan munggah. Ziarah bersilahturahmi kepada orang yang sudah meninggal, cucurak kepada yang masih hidup, sementara munggah adalah persiapan makanan menjelang puasa pertama. “Di sana akan ada ikatan silahturahmi bersama keluarga. Erat kaitannya dengan aspek sosial. Ini harus dilestarikan,” kata Cecep dikutip GNFI dari Republika.

Cucurak tidak selamanya dianggap sebagai sebuah tradisi karena beberapa orang menilai hanyalah sebuah anjuran. Jadi, setiap orang berhak memilih untuk melaksanakan cucurak atau tidak. Meskipun begitu, yang paling diutamakan ialah tetap menjaga tali persaudaraan dan saling memaafkan.

Tradisi cucurak di kota Bogor biasanya dilakukan pada akhir pekan. Tujuannya agar banyak kerabat yang datang untuk bersilahturahmi. Kebun Raya Bogor dengan nuansanya yang sejuk kerap kali dipilih warga sebagai tempat menggelar tradisi cucurak.

Tak hanya warga, Wali Kota Bogor, Bima Arya, juga mengaku rutin melakukan tradisi cucurak setiap tahun. Menurutnya cucurak memiliki nilai filosofi yang kuat dalam memperkuat ikatan silahturahmi lewat sebuah sajian hidangan yang merakyat.

“Cucurak setiap tahun selalu. Sama keluarga besar, muspida, dan warga lainnya. Munggah pasti kumpul di keluarga besar,” terang Bima Arya pada 2019 lalu dikutip dari AyoBogor. “Cucurak ini filosofinya dalam sekali, tidak semua orang bisa dan mau berbagi makanan dalam satu hamparan daun seperti yang kita lakukan. Ini kita semua duduk sama-sama, tidak ada yang tinggi atau rendah. Menunya juga sama ada jengkol, urap, ayam, sambal dan lalapan. Menu rakyat, semua suka,” ucapnya lagi.

Tak hanya di Bogor, ibu kota provinsi Jawa Barat, Bandung, juga melakukannya. Seperti yang dilakukan Polres Bandung pada 2019 misalnya. Namun berbeda dari yang lain, tradisi cucurak dilakukan mereka setelah melakukan bersih-bersih Masjid Baitul Muhaimin dan lingkungan Markas Polres Bandung.

Baik kesatuan Polres Bandung dan pekerja non Polri turut bergabung dalam tradisi cucurak tersebut, sehingga suasana kebersamaan pun terlihat di antara mereka. Karena sekali lagi, prinsip cucurak adalah meningkatkan tali silahturahmi antarsesama.

“Acara ini bertujuan untuk mempererat tali silahturahmi dan juga sebagai ajang maaf-memaafkan sebagai bukti rasa syukur menjelang datangnya bulan suci Ramadan,” ungkap Polres Bandung Kompol Mikranudin Syahputra pada saat itu.

Sayangnya, tradisi cucurak pada tahun 2020 ini sepertinya tidak bisa dilakukan. Pandemi virus corona atau COVID-19 yang mengharuskan physical distancing (pembatasan fisik) wajib dipraktikkan seluruh orang agar menekan penyebaran penyakit tersebut. Tradisi cucurak yang yang mempertemukan banyak orang pun pastinya tidak bisa dilakukan dalam kondisi seperti ini.

Yang kita bisa harapkan sekarang adalah terus berdoa dan membantu tenaga medis yang sedang bekerja dengan cara meminimalisir aktivitas di luar rumah. Tentu jika pandemi virus corona berakhir, situasi akan kembali normal dan segala aktivitas termasuk tradisi cucurak yang mengedepankan silahturahmi bisa dilakukan lagi.

Referensi: Republika.co.id | Liputan6.com | Galamedianews.com | AyoBogor.com

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini