Sejarah Hari Ini (23 April 682) - Perjalanan Suci Maharaja Sriwijaya

Sejarah Hari Ini (23 April 682) - Perjalanan Suci Maharaja Sriwijaya
info gambar utama

Pada akhir tahun 1920, Prasasti Kedukan Bukit ditemukan seorang pejabat Belanda, M. Batenburg, di kota Palembang, Sumatra Selatan.

Prasasti tersebut berbentuk batu kecil berukuran 45 x 80 sentimeter, ditulis dalam aksara Pallawa, dan menggunakan bahasa Melayu Kuno.

Di dalam Prasasti Kedukan Bukit tertulis peristiwa perjalanan suci hari Twisuci Waisak yang dilakukan Dapunta Hyang Sri Jayanasa, Maharaja Sriwijaya yang dianggap sebagai pendiri Kedatuan Sriwijaya.

Sebelum melakukan perjalanan suci, Dapunta Hyang memanjatkan doa terlebih dulu di kuil Buddha.

Prosesi doa ia lakukan pada tanggal 11 paro terang bulan Waisakha atau 23 April 682 masehi.

Pada saat itu, Dapunta Hyang mengirim sebuah perahu dari pusat pemerintahannya yang terletak di tepi sungai, pergi menuju kuil Buddha untuk merayakan hari Waisak sambil berdoa demi keberhasilan perjalanannya.

Seusai upacara doa selesai, ia kembali lagi ke pusat pemerintahannya untuk melakukan persiapan perjalanan.

Hal itu merupakan titik awal dari sejarah panjang Kedatuan Sriwijaya.

Juga dituliskan dalam Prasasti Kedukan Bukit, perjalanan suci Dapunta Hyang berakhir dengan pendirian sebuah perkampungan pada 16 Juni 682 masehi.

Kampung Sriwijaya bernama Upang itu kini dikenal sebagai kota Palembang, tempat ditemukannya Prasasti Kedukan Bukit.


Referensi: Bambang Budi Utomo, "Pengaruh Kebudayaan India dalam Bentuk Arca di Sumatra" | Kiagus Imran Mahmud, "Sejarah Palembang" | Pemerintah Daerah Tingkat I Sumatera Selatan, "Sriwijaya dalam Perspektif Arkeologi dan Sejarah" | Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, "Sejarah Nasional Indonesia II"

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini