Tradisi Megengan dan Modifikasi Pelaksanaannya di Tengah Pandemi

Tradisi Megengan dan Modifikasi Pelaksanaannya di Tengah Pandemi
info gambar utama

Bulan suci Ramadan sudah di depan mata, seluruh umat muslim di dunia menyambutnya dengan penuh suka cita. Di Indonesia, setiap menjelang bulan Ramadan, ada sejumlah tradisi unik yang digelar oleh masyarakat. Saat ini, walaupun sedang dalam kondisi pandemi Covid-19, masih ada sebagian masyarakat yang tetap melaksanakan tradisi di daerahnya masing-masing.

Salah satu tradisi unik yang tetap diselenggarakan itu berasal dari Jawa--khususnya Jawa Timur--yang dikenal dengan istilah ‘megengan’.

Megengan berasal dari kata dalam bahasa Jawa ‘megeng’ yang artinya menahan. Dalam konteks ini, megengan memiliki filosofi menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa, seperti makan, minum, amarah dan hawa nafsu lainnya yang tidak diperbolehkan selagi menjalankan ibadah puasa.

Masih belum diketahui secara pasti, sejak kapan tradisi ini lahir dan mulai berkembang di masyarakat. Menurut Prof. Dr. Nursyam, M.Si, akademisi dari Universitas Islam Negeri (UIN) Surabaya, ada dugaan kuat bahwa tradisi ini diciptakan oleh para Wali Sanga, khususnya Kanjeng Sunan Kalijaga.

“Memang hal ini baru sebatas dugaan, namun mengingat bahwa kreasi-kreasi tentang Islam Jawa terutama yang menyangkut tradisi-tradisi baru akulturatif yang bervariatif tersebut kebanyakan datang dari pemikiran Kanjeng Sunan Kalijaga, maka kiranya dugaan ini pun bisa dipertanggungjawabkan,” tulis Nursyam dalam nursyam.ac.id.

Wali sanga memang dikenal ramah dalam menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat. Mereka banyak menggunakan cara-cara simbolik yang dekat dengan budaya masyarakat saat itu. Tradisi megengan sendiri disinyalir merupakan akulturasi antara budaya yang kental dengan masyarakat Jawa dan ajaran Islam.

Alasan wali sanga menggunakan akulturasi budaya dalam proses dakwahnya adalah, karena di masa-masa awal penyebaran agama Islam di Nusantara, masyarakat masih sangat kental dengan beragam tradisi yang sudah mengakar kuat dalam kehidupan mereka.

Jika Islam diajarkan secara frontal, dikhawatirkan masyarakat akan menolak kehadirannya. Di situlah bukti kreativitas wali sanga. Mereka sangat piawai membungkus dakwahnya dengan berbagai hal yang dekat dengan masyarakat.

Begitu pula dengan megengan yang dibungkus melalui tradisi upacara atau slametan yang sudah umum berkembang di masyarakat kala itu. Bila ditilik lebih jauh simbol-simbol yang ada dalam tradisi tersebut, makna sebenarnya adalah, “Melakukan persiapan secara khusus dalam menghadapi bulan yang sangat disucikan di dalam Islam,” terang Nursyam.

Kue Apem Simbol Afwun

kue apem khas jawa
info gambar

Sedikit berbeda dengan Nursyam, menurut Riyadi, dosen pendidikan sejarah Universitas Negeri Surabaya (Unesa), tradisi megengan lahir pada masa Kerajaan Islam Demak berkuasa, sekitar tahun 1.500 Masehi. Saat itu, tradisi ini berupa slametan atau kenduri.

Tradisi kenduri sudah ada jauh sebelum Islam masuk ke Indonesia. Namun, dalam megengan, kenduri dibarengi dengan kegiatan doa bersama yang ditujukan untuk keluarga dan nenek moyang yang sudah meninggal. Untuk waktu pelaksanaannya, biasa dilakukan pada minggu terakhir bulan Sya’ban, menjelang masuknya Ramadan.

Megengan biasanya digelar di masjid atau langgar setempat. Setiap warga yang tinggal di sekitar langgar membawa nasi beserta lauk pauknya (Jw: sego berkat) untuk di makan bersama. Dalam prosesinya, ada satu makanan khusus yang tidak boleh absen dari tradisi megengan, yaitu kue apem.

Kue yang terbuat dari tepung beras itu, menjadi menu wajib dalam upacara tersebut. Kue apem merupakan simbol peremohonan ampun kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala perbuatan dosa yang pernah dilakukan selama setahun lalu.

Berdasarkan terminologi yang berkembang di masyarakat, apem berasal dari kata dalam bahasa Arab ‘afwan’ yang berarti maaf atau ampunan. "Dulu Apem menjadi makanan elit keraton. Ini bisa dijumpai pada Kerajaan Pajang. Kue berbahan dasar tepung beras ini menjadi kue wajib dalam penyelenggaraan Megengan," ujar Riyadi, dikutip dari Kumparan.com.

Lebih lanjut mengenai tata cara prosesi megengan, sebelum kue apem dan sego berkat dimakan bersama-sama. Warga yang hadir biasanya membaca tahlil dan doa permohonan ampun terlebih dahulu.

Hal tersebut sesuai dengan tujuan megengan itu sendiri, yaitu agar manusia disucikan lahir dan batin dari segala dosa. Dengan begitu, warga bisa lebih tenang dan lapang dada dalam menjalani seluruh ibadah di bulan Ramadan.

Megengan Online di Tengah Pandemi

Khofifah Indar Parawansa
info gambar

Berkaitan dengan merebaknya virus corona yang tengah menjadi pandemi dunia. Hal itu tidak menghalangi masyarakat untuk tetap melaksanakan tradisi yang sudah tiap tahun mereka jalankan. Namun, demi mencegah penularan virus corona, ada sedikit modifikasi dalam penyelenggaraannya.

Salah satu contoh bentuk modifikasi itu, seperti yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur.

Pada Kamis (23/4/2020) pukul 16.00 WIB, Pemprov Jawa Timur akan menggelar megengan secara daring (online). Dalam kegiatan ini, Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa akan melakukan video conference dengan sejumlah kepala daerah di Jawa Timur.

“Secara simbolik kami siapkan 1.441 apem. Karena tahun ini 1441 Hijriah. Sekedar penanda, karena apem itu ‘afwun, saling memaafkan. Sebelum Ramadan kita saling memaafkan,” kata Khofifah, seperti dikutip dari suarasurabaya.net.

Beberapa kepala daerah di Jawa Timur yang juga akan menyelenggarakan megengan online antara lain Bupati Pamekasan, Jombang, Madiun, Trenggalek, dan Lumajang. “Bersama-sama kami akan megengan online untuk menyambut Ramadan,” ujar Khofifah dalam konferensi pers pemutakhiran data Covid-19 di Jawa Timur.

Menurut pantia acara, Helmy M Noor, akan ada sejumlah channel Youtube yang akan menyiarkan kegiatan ini, di antaranya MMC Kominfo Jatim dan Masjid Al-Akbar. Selain itu ada sejumlah media lokal juga yang akan menayangkannya.

“Informasinya, ada 15 radio dan 15 televisi swasta lokal yang juga akan menyiarkan megengan online ini baik secara live maupun siaran tunda,” kata Helmy yang juga Humas Masjid Al-Akbar Surabaya.

Megengan online yang diinisiasi oleh Pemprov Jawa Timur ini menunjukkan, meski dalam kondisi yang terbatas akibat pandemi Covid-19 pun, tradisi tetap bisa dilakukan. Perpaduan antara budaya tradisional dan teknologi komunikasi, ternyata tidak mengurangi substansi dari megengan itu sendiri.

Semoga dengan terselenggaranya megengan online ini dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat Indonesia lainnya. Walaupun sekarang ini hanya sedang beraktivitas di rumah saja, hal itu tidak menghalangi untuk tetap bisa melakukan banyak hal dalam rangka menyambut bulan suci Ramadan.

Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadan, ya, kawan.

Sumber: nursyam.ac.id|Kominfo.jatimprov.go.id|Kumparan.com|suarasurabaya.net|Merdeka.com

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini