Optimalkan Media Sosial untuk Strategi Bisnis

Optimalkan Media Sosial untuk Strategi Bisnis
info gambar utama

Media sosial merupakan sebuah media untuk berkomunikasi dan bersosialisasi satu sama lain dengan dilakukan secara online, serta memiliki beragam platform. Di Indonesia sendiri, media sosial kini sudah berkembang dengan pesat. Tak hanya untuk hiburan semata, media sosial juga bisa digunakan untuk mengembangkan berbagai bisnis, baik berupa produk ataupun jasa.

Berbicara tentang fungsi media sosial, semua orang pasti sudah paham cara menggunakannya. Namun, untuk mereka yang ingin mengembangkan bisnis melalui media sosial, bagaimana ya caranya?

Kali ini, pada Kamis (16/4) lalu, Good News From Indonesia mengadakan Webinar ke-8 bertajuk Develop Business Strategies Through Social Media bersama Fanbul Prabowo selaku Senior Marketing Manager Lemonilo.

Poster Webinar ke-8 | Foto: GNFI
info gambar

Bagi Fanbul yang notabennya berasal dari Non Governmnet Organization (NGO), memiliki kemampuan marketing menjadikan segalanya lebih mudah. Lewat hal tersebutlah Fanbul membagikan ilmunya tentang bagaimana mengoptimalkan media sosial dan membuat dampak storytelling media sosial untuk sebuah bisnis.

Pentingnya Media Sosial Bagi Bisnis

Media sosial penting untuk bisnis karena memberikan wadah untuk para pebisnis mempromosikan bisnis mereka secara gratis. Namun, meskipun sudah melakukan promosi bisnis di media sosial, hal itu belum tentu dikatakan sebagai marketing.

Orang yang memiliki bisnis pada media sosial belum tentu menerapkan strategi marketing, karena ada beberapa proses yang perlu dilalui untuk dikatakan bahwa sebuah bisnis menjalankan proses marketing.

Setiap media sosial itu memiliki cara bercerita yang berbeda-beda, baik ataupun buruk itu tidak masalah karena opini orang dalam menanggapinya itu berbeda-beda. Namun, sesuatu yang lebih tidak baik ialah ketika opini kita tidak didengar. Social media marketing itu bukan tentang kita punya akun media sosial, tapi tentang bagaimana opini kita, baik itu berupa promo atau campaign, bisa didengar sama banyak orang.

Ada sebuah data menunjukan bahwa 80% audiens, terutama milenial dan gen Z, mereka akan mencari tahu dahulu lewat Google sebelum percaya dengan sebuah brand.

“Kalau misalnya sebuah bisnis tidak memiliki media sosial, maka orang bisa saja kabur dalam artian tidak memiliki kepercayaan terhadap bisnis kita,” jelas Fanbul.

Pilih Media Sosial yang Memiliki Kekuatan

Ada sebuah mitos di media sosial yang mengatakan bahwa jika menggunakan semua platform media sosial, maka sebuah bisnis bisa lebih berkembang. Namun sayangnya, bisnis menggunakan media sosial bukan tentang sebanyak apa platform yang digunakan, tapi seberapa kuat platform yang digunakan.

Misalnya saja, ketika ada sebuah brand yang memasang 10 baliho di 10 titik berbeda di Jakarta, tentu bukan tentang sebanyak apa baliho yang dipasang. Akan tetapi, seperti apa isi atau pesan yang disampaikan di baliho tersebut.

“Enggak harus semua media sosial digunakan, karena belum tentu itu hal yang dibutuhkan bagi kita,” ujar Fanbul.

Lantas, bagaimana cara mengetahui apa yang kita butuhkan pada media sosial kita?

Kawan GNFI bisa memulainya dengan dua hal, yakni mencari tahu objektif bisnis dan onjektif marketing pada bisnis yang sedang kalian jalani.

Ketika Kawan GNFI sudah memulai membangun sebuah bisnis lewat media sosial, tentunya Kawan GNFI harus membuat konten-konten yang bisa membangun kepercayaan para audiens.

Social media marketing itu bukan tentang sebanyak apa platform yang digunakan, tapi seberapa kuat platform yang digunakan. Kalau bisa kuat di seluruh platform, lakukanlah. Kalau bisa kuat di satu platform, lakukanlah. Namun, tetap harus ada satu platform yang menjadi prioritas untuk memulai social media marketing.

Ketika sudah kuat, barulah mulai untuk membangun platform lainnya, dan bangun tim yang bisa mengembangkan itu secara rutin.

Cara Pilih Platform Media Sosial

Ilustrasi media sosial | Foto: econsultancy.com
info gambar

Ada tiga cara untuk memiliki platform media sosial yang tepat. Pertama ialah dimulai dengan melakukan riset data dan kebiasaan para audiens.

Misalnya mencari data tren media sosial di Indonesia saat ini berdasarkan kalangan menengah, bawah, dan atas. Media sosial apa yang mereka gunakan menggunakan social media apa. Untuk kota, jabodetabek menggunakan media sosial apa. Hal itu bisa menjadi justifikasi untuk memilih media sosial yang tepat bagi bisnis Kawan GNFI.

Kedua, tentukan user persona. User persona adalah sebuah sampel atau sebuah sosok yang Kawan GNFI tetapkan menjadi panduan membuat marketing programs.

“User persona bisa berubah, karena trennya berubah. Kalau user persona berubah maka konten pilar juga berubah, ikut menyesuaikan. Ada yang user persona berubah namun konten pilar tetap sama. Ada yang user persona sama namun konten pilar berubah. Jadi, engga ada rumus pasti, tapi lebih kepada kepekaan kita dalam membaca tren. Lewat data juga,” tutur Fanbul menjelaskan.

Dan terakhir, buatlah konten pilar. Pada dasarnya, konten pilar merupakan sebuah panduan dan karakteristik yang mau disampaikan secara rutin dan terus menerus lewat berbagai jenis konten.

Melalui tiga cara tersebut, Kawan GNFI akan bisa melihat kira-kira platform media sosial apa yang cocok dengan user persona dan juga konten pilar yang ada. Setelah sudah menemukannya, buatlah konten-konten yang berkualitas untuk terus menarik minat audiens.

Prinsip Membuat Konten

Dalam sebuah buku bertajuk Contagious dari Jonah Berger, dituliskan bahwa ada setidaknya lima hal yang harus diterapkan pada media sosial untuk membuat sebuah konten.

Lima hal tersebut ialah relateable, practical, fun and entertaining, thought provoking, dan data driven. Dalam membuat konten, tidak melulu lima hal itu harus dimasukkan. Namun paling tidak, diantara kelimanya harus masuk dalam konten yang akan Kawan GNFI buat. Setelah menemukan konten apa yang ingin dibuat, kembangkanlah menjadi sebuah ide.

Dalam dunia bisnis, yang terpenting bukan tentang sebuah brand. Sebagai pebisnis juga perlu menerapkan empati dan memikirkan apa yang dirasakan oleh orang lain. Maka dari itu, mention your power.

“Jangan sampai brand kita tidak memiliki empati dan kekuatan. Secara level komunikasi, brand itu harus dikagumi oleh konsumen. Tunjukan kredibilitas kalian,” tutup Fanbul.

Kelas GNFI juga dapat ditonton di Youtube Good News From Indonesia. (des)

--

Baca juga:

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Kawan GNFI Official lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Kawan GNFI Official.

KO
DA
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini