Sejarah Hari Ini (24 April 1928) - Ramang, Striker Top Indonesia Era 50-an

Sejarah Hari Ini (24 April 1928) - Ramang, Striker Top Indonesia Era 50-an
info gambar utama

Andi Anwar Ramang atau lebih dikenal dengan nama Ramang saja adalah legenda persepakbolaan Indonesia yang lahir di Barru, Sulawesi Selatan, pada 24 April 1928 (sejumlah sumber mengatakan 1924).

Ramang lahir dari orang tua yang bekerja sebagai abdi dalam kerajaan.

Ayah Ramang yang bernama Nyo'lo bekerja sebagai ajudan Raja Barru ke-18, Djondo Karaeng Lembangparang.

Nyo'lo - yang juga berprofesi sebagai penjual ikan di pasar - mahir bermain sepak raga, permainan tradisional Makassar yang menggunakan bola terbuat dari rotan (sekarang disebut bola takraw).

Sepak raga dimainkan dengan cara ditendang-tendang ke udara tanpa jatuh ke tanah, dan Nyo'lo yang mahir memainkan permainan ini kelak menurunkan bakatnya ke Ramang.

Ramang kecil mulai sering berlatih sepak bola di Sekolah Rakyat Sumpang Binangae, Kabupaten Barru.

Saat menginjak remaja, Ramang memulai karier sepak bolanya di klub Bond Barru.

Tidak sanggup ke sekolah ke jenjang yang lebih tinggi membuat Ramang fokus bermain bola dan membantu ayahnya berjualan ikan.

Setelah menikah muda dengan perempuan bernama Sarinah, Ramang menghidupi keluarga barunya dengan membuka warung kopi.

Kemampuan Ramang bermain sepak bola kian berkembang dan dipuji banyak kalangan, termasuk Andi Mattalatta, seorang panglima TNI di Sulawesi Selatan saat itu.

Andi Mattalatta dan Ramang saling kenal karena faktor rumah yang tidak berjauhan di Sumpang Binangae.

Melihat Ramang mempunyai potensi dalam sepak bola, Andi Mattalatta menyarankannya pindah ke Makassar (saat itu masih Ujung Pandang) untuk bisa berlatih bola secara profesional.

Perjuangan menjadi pesepak bola profesional tidak mulus karena Ramang mesti menutup warung kopinya.

Menjelang proklamasi 1945, Ramang yang sudah menjejakkan kaki di Makassar harus bekerja menjadi tukang becak demi menafkahi istrinya.

"Namun apa pun yang terjadi, coba kalau istri saya tidak teguh iman, mungkin (bisa) sinting," terang Ramang mengingat masa-masa awal sebelum menjadi pesepak bola pro, dikutip dari Majalah Tempo.

Setahun lebih di Makassar, Ramang pun bergabung dengan Coution Voetbal Bond (MVB) atau Persatuan Sepak Bola Induk Sulawesi (Persis).

Nama Ramang mulai menjadi buah bibir setelah mengikuti kompetisi yang diadakan Makassar Voetbal Bond (MVB) atau Persatuan Sepak Bola Makassar (PSM) pada 1947.

Pada kompetisi tersebut, tim Ramang menang 9-0 dan hampir seluruh gol dicetak olehnya.

Dari situ, Ramang pun diajak bergabung dengan PSM.

Pada 1952, jalan Ramang menuju ke level yang lebih tinggi terbuka ketika pelatih timnas Indonesia, Toni Pogacnik, sedang mencari pemain untuk disertakan dalam kunjungan Indonesia ke negara-negara Asia Timur.

Pogacnik saat itu kekurangan pemain bertahan (bek) sehingga membuat ia mengirimkan telegram ke Makassar agar PSM mengutus pemainnya untuks seleksi.

PSM setuju dan meminta bek bernama Sunardi Arland ikut seleksi di Jakarta. Namun, karena Arland sakit, sang striker Ramang yang saat itu berusia 24 tahun ditunjuk PSM sebagai perwakilannya.

Awalnya Ramang hampir dipulangkan karena saat diuji coba tidak memiliki kemampuan bertahan.

Beruntung Pogacnik jeli melihat potensi Ramang yang memiliki pergerakan cepat dan tenang saat berhadapan dengan lawan.

Pada akhirnya, Ramang pun ditempatkan Pogacnik di posisinya semua yakni sebagai striker.

Hasilnya berjalan sesuai harapan pelatih asal Uni Soviet itu. Pada sesi latihan Ramang mencetak hat-trick ke gawang kiper timnas yang dijaga Arnold van de Vin.

Padahal, kiper Persija Jakarta itu dikenal sulit dikecoh.

Bersama timnas Indonesia, Ramang mulai berkunjung ke luar negeri untuk melakoni laga persahabatan.

Dari banyaknya pertandingan yang dilakoni, timnas Indonesia berhasil mengungguli hampir semua lawan-lawannya dengan skor yang tinggi.

Timnas Indonesia berhasil mencetak 25 gol dan hanya kebobolan 6 gol.

Ramang menjadi bintang skuad Merah-Putih dengan mencetak 19 gol.

Pada pertengahan 1950-an, Ramang dan timnas Indonesia berhadapan dengan sejumlah pesepak bola dunia.

Salah satunya pada 11 November 1956 dalam laga perempat final Olimpiade 1956.

Saat itu Indonesia melawan Uni Soviet di Stadion Olimpiade Melbourne, Australia.

Indonesia dipandang remeh, tetapi bisa menahan imbang 0-0.

Sebenarnya, Indonesia bisa saja menang andai peluang dari Ramang pada menit 84' tidak diselamatkan kiper terbaik dunia pada masa itu, Lev Yashin.

"Pemain bertahan Uni Soviet yang gagah tiba-tiba kaget ketika Ramang, seorang penyerang bertubuh mungil, melewati dua pemain dan memaksa Yashin melakukan penyelamatan dengan ujung jarinya," seperti itulah yang dikisahkan laman resmi FIFA tentang kehebatan Ramang melawan Lev Yashin.

Sebelumnya, Ramang juga mengutarakan peluang yang ia buat bisa berbuah gol kalau tidak diganggu lawan.

"Ketika itu saya hampir mencetak gol, tapi baju saya ditarik oleh lawan," kenang Ramang.

Nama Ramang mencuat pada 1950-an sehingga konon saat itu banyak orang tua menamakan bayi laki-lakinya dengan nama "Ramang".

Karier sepak bola pe umilik julukan Macan Bola itterhenti pada usia 40 tahun.

Disebutkan Ramang telah mencetak 100 gol sepanjang kariernya meskipun tidak ada data pasti mengenai ini.

Setelah gantung sepatu, Ramang melanjutkan kariernya sebagai pelatih tim sepak bola di Blitar, Palu, dan PSM Makassar.

Nama Ramang sampai saat ini masih terpatri di lubuk hati warga kota Makassar.

Sebagai buktinya, Ramang diabadikan dalam wujud patung setinggi 170 sentimeter yang diletakkan di Pantai Losari pada 1 Februari 2017.

Nama Ramang juga menjadi salah satu julukan klub PSM yakni "Pasukan Ramang".

Referensi: Fifa.com | Radarmakassar.com | Kemenpora.go.id | Majalah Tempo | Fitrawan Umar, "Ramang: Legenda Bola Indonesia" | M. Dahlan Abubakar, "Ramang Macan Bola"

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini