Nostalgia Permainan Tradisional Saat Sedang Berpuasa di Rumah Saja

Nostalgia Permainan Tradisional Saat Sedang Berpuasa di Rumah Saja
info gambar utama

Bagi Kawan GNFI yang lahir di dekade 1990 hingga 2000-an awal, mungkin punya kenangan tersendiri dengan permainan tradisional seperti saya, saat sedang menjalankan ibadah puasa Ramadan.

Ketika sedang menunggu buka puasa, dulu saya dan teman-teman biasa memainkan beberapa permainan tradisional untuk menghilangkan kebosanan. Hitung-hitung ngabuburit gratis karena tidak perlu keluar biaya untuk jalan-jalan.

Apalagi saat dalam kondisi pandemi seperti sekarang ini. Mungkin bernostalgia dengan memainkan berbagai permainan tradisional bisa menjadi solusi untuk mengisi waktu saat sedang di rumah saja.

Saya ingat, saat itu hampir di tiap halaman rumah, di teras tetangga, atau area bermain terbuka lainnya. Banyak sekali anak-anak yang dengan serunya memainkan sejumlah permainan tradisional seperti ludo, bola bekel, congklak, monopoli, ular tangga, atau permainan-permainan lainnya.

Kala itu tanpa perlu beli pulsa atau kuota internet anak-anak bisa tertawa, bersenda gurau bersama kawan-kawannya. Namun, sekarang ini, bisa dibilang permainan tradisional anak-anak tinggal kenangan. Hanya sedikit anak-anak yang masih bertahan memainkannya.

Munculnya beragam permainan modern seperti video game atau aplikasi berbasis ponsel pintar, telah mengubah semua kondisi tersebut. Persahabatan dan keseruan yang dulu dilakukan dengan bertatap muka atau berinteraksi langsung, bergeser ke dalam interaksi yang menggunakan sosial media.

Nah, untuk mengenang momen-momen indah saat masih kecil dulu. Saya akan mengajak Kawan GNFI bernostalgia mengingat beberapa permainan tradisional yang dulu menjadi aktivitas anak-anak kala menunggu berbuka puasa.

  1. Ludo
permainan papan ludo
info gambar

Permainan papan yang satu ini biasa dimainkan oleh empat orang. Sesuai dengan jumlah pemainnya, papan dan bidak yang digunakan juga terdiri dari empat warna untuk menandai bidak dan wilayah masing-masing pemain.

Cara bermainnya cukup mudah, pemain menjalankan bidaknya secara bergantian sesuai dengan angka dadu yang keluar. Masing-masing bidak mengitari area atau wilayah tiap pemain lainnya. Keseruan akan terjadi jika ada bidak salah satu pemain yang kena ‘pendel’ atau dipulangkan kembali ke kotaknya.

Ludo memang sangat cocok dimainkan untuk menunggu waktu berbuka puasa, selain durasi permainannya yang cenderung lama, keseruannya juga mampu menghilangkan kebosanan hingga tiba waktu berbuka.

  1. Bola Bekel
bola bekel
info gambar

Permainan tradisional ini identik dimainkan oleh anak-anak perempuan, tapi tidak sedikit anak laki-laki pun memainkannya. Untuk menentukan urutan permainan biasanya diputuskan dengan cara hompimpa. Akan tetapi, jika hanya dimainkan berdua saja cukup melakukan suit.

Permainan dilakukan secara bergantian sesuai dengan urutan. Anak-anak yang belum mendapat giliran harus menunggu temannya yang sedang bermain.

Permainan ini menekankan pada keterampilan dan kompetisi di antara masing-masing pemainnya. Tiap pemain harus mempertahankan bola karet dan biji bekel agar tidak lepas dari kontrolnya.

Dikutip dariLiputan6.com, permainan ini disinyalir berasal dari Jawa Timur. Namun, di beberapa daerah, kabarnya bola bekel juga sudah lama dimainkan. Di Jawa Barat misalnya, permainan ini dikenal dengan nama beklen yang berarti bekal.

Memang ada perbedaan penyebutan istilah permainan ini di tiap daerahnya. Namun, beklen atau bekel sejatinya berasal dari bahasa Belanda, yakni bikkelen.

  1. Congklak
Congklak atau dhakon
info gambar

Congklak adalah permainan tradisional yang dimainkan hampir di seluruh wilayah Indonesia. Permainan ini dimainkan oleh dua orang dengan cara mengumpulkan biji congklak di areanya masing-masing. Pemain yang mengumpulkan paling banyak biji congklak, maka akan keluar sebagai pemenangnya.

Di Jawa, permainan ini dikenal dengan nama dhakon. Untuk biji congklak biasanya menggunakan cangkang kerang, tapi jika tidak ada biji kerang, bisa menggunakan biji-bijian dari tumbuhan atau batu-batu kecil.

  1. Monopoli
monopoli
info gambar

Monopoli tidak sepenuhnya permainan tradisional, ada sedikit unsur modernitas dalam permainan papan ini. Permainan papan ini adalah salah satu permainan paling terkenal di dunia. Banyak anak-anak dari berbagai negara juga memainkannya.

Di Indonesia permainan yang mengandalkan kejelian dalam melihat peluang ini, cukup populer dimainkan saat bulan Ramadan. Permainan papan ini dipilih menjadi sarana untuk menghilangkan kebosanan saat bulan Ramadan, karena bisa dimainkan oleh banyak orang dengan durasi permainannya yang relatif lama.

Tujuan dari permainan ini adalah untuk menguasai semua petak di atas papan dengan cara membeli, menyewa, dan pertukaran properti dalam sistem ekonomi yang disederhanakan.

Untuk mendapatkan harta berupa mata uang mainan, setiap pemain harus melemparkan dadu secara bergiliran untuk memindahkan bidaknya. Apabila ia mendarat di petak yang belum dimiliki pemain lain, maka ia dapat membeli petak itu sesuai harga yang tertera.

Namun, jika petak itu sudah dimiliki oleh pemain lainnya, maka ia harus membayar uang sewa sejumlah harga yang telah ditetapkan kepada pemain yang memiliknya.

  1. Ular Tangga
ular tangga
info gambar

Ada satu lagi permainan papan yang kerap dimainkan anak-anak Indonesia saat sedang ngabuburit atau menunggu waktu buka puasa. Permainan itu disebut ular tangga.

Ular tangga biasanya dimainkan oleh anak-anak berjumlah dua orang atau lebih. Papan permainan ular tangga dibagi dalam kotak-kotak kecil. Dalam kotak-kotak kecil tersebut ada nomor, gambar tangga untuk naik ke kotak yang lebih tinggi, dan gambar ular sebagai bentuk hukuman agar bidaknya turun ke kotak yang lebih rendah.

Tidak ada papan permainan yang standar dalam ular tangga. Setiap orang dapat menciptakan papan mereka sendiri dengan jumlah kotak, ular, dan tangga yang berbeda.

Cara bermainnya dimulai dengan meletakkan bidak di kotak pertama dan secara bergantian melemparkan dadu. Bidak dijalankan sesuai dengan jumlah mata dadu yang muncul. Bila pemain mendarat di kotak yang bergambar tangga, maka ia dapat melanjutkan ke kotak di ujung tangga yang lebih tinggi.

Namun, jika bidak yang ia jalankan mendarat di kotak bergambar ular. Ia harus turun ke kotak di ujung bawah gambar ular. Begitu seterusnya secara bergantian. Pemenang adalah ia yang berhasil mendaratkan bidaknya di kotak terakhir papan .

Bagaimana? Apa Kawan GNFI tertarik untuk bernostalgia memainkan beberapa permainan tradisional tadi?

Dalam kondisi pandemi Covid-19 yang mengharuskan kita untuk tetap berada di rumah. Sepertinya permainan tradisional tadi dapat menjadi alternatif ngabuburit menunggu waktu berbuka puasa bersama keluarga. Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadan dan tetap jaga kesehatan ya, Kawan.



Sumber: Liputan6.com|Goodnewsfromindonesia.id

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini