Sejarah Hari Ini (25 April 1949) - Keluar dari Pengasingan, Hatta Temui Van Royen di Jakarta

Sejarah Hari Ini (25 April 1949) - Keluar dari Pengasingan, Hatta Temui Van Royen di Jakarta
info gambar utama

Pada 14 April 1949 bertempat di Hotel Des Indes, Jakarta, sebuah perundingan antara Indonesia dengan Belanda dilakukan untuk membahas kemerdekaan Indonesia sebelum Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, Belanda.

Perundingan ini kelak dikenal dengan sebutan Perjanjian Roem-Royen.

Perundingan menemui jalan buntu karena kedua belah pihak kukuh dengan kemauannya masing-masing.

Sebuah badan yang dibentuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), United Nations Commisions for Indonesia (UNCI), mengusulkan menghadirkan Mohammad Hatta dalam pertemuan berikutnya.

Saran tersebut lalu diteruskan oleh pimpinan UNCI asal Amerika Serikat, Merle Cochran.

Hatta saat itu sedang diasingkan di Bangka tepatnya daerah Menumbing sejak akhir tahun 1948.

Beberapa tokoh penting Republik juga diasingkan di tempat itu, yakni Sukarno, Sutan Syahrir, Agus Salim, dan Mohamad Roem.

Atas saran Cochran, akhirnya Hatta setuju keluar dari pengasingan dan terbang menuju Jakarta pada 24 April 1949.

"Pada tanggal 22 April 1949 aku menerima anjuran dari Tuan Cochran bahwa sebaik-baiknya aku sendiri datang ke Jakarta, berunding dengan Van Royen tentang batas daerah Yogyakarta apabila Pemerintah Republik Indonesia kembali ke Yogya. Delegasi Republik Indonesia sudah menegaskan bahawa Republik Indonesia tidak mau menerima penyerahan kedaulatan di KMB apabila tidak kembali terlebih dahulu ke daerahnya di Yogyakarta. Tanggal 24 April 1949 aku berangkat ke Jakarta," tulis Hatta dalam otobiografinya, Untuk Negeriku: Sebuah Otobiografi.

Sesampainya di Jakarta, Hatta kemudian menemui delegasi Belanda, Herman van Royen, untuk membicarakan Yogyakarta yang seharusnya dikembalikan ke Indonesia. "Keesokan harinya, tanggal 25 April 1949, Van Royen bertukar pikiran tentang Pemerintah Republik Indonesia kembali ke Yogyakarta. Van Royen setuju Yogya sama sekali diserahkan kepada Republik Indonesia."

Delegasi Belanda, Herman van Royen.
info gambar

Perundingan tersebut terus berlanjut sampai 7 Mei 1949 di mana kedua delegasi sepakat mengutarakan pendapat masing-masing.

Pendapat di hari itulah kemudian ditetapkan sebagai hasil dari Perjanjian Roem-Royen.


Referensi: Kalgoorlie Miner | De Locomotief | Mohammad Hatta, "Untuk Negeriku: Sebuah Otobiografi" | Iin Nur Insaniwati, "Mohamad Roem: Karier Politik dan Perjuangannya 1924-1968" | Dr. Abdoel Fattah, "Demiliterisasi Tentara: Pasang Surut Politik Militer 1945-2004"

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini