Tak Hanya Indonesia, Mudik Juga Dipraktikkan di Negara-negara Lain

Tak Hanya Indonesia, Mudik Juga Dipraktikkan di Negara-negara Lain
info gambar utama

Praktik mudik dan pulang kampung menjadi bahan perbincangan akhir-akhir ini, baik lewat obrolan langsung atau pun di dunia maya. Penyebabnya karena pemerintah mengimbau untuk tidak melakukan mudik Lebaran untuk mencegah penyebaran virus corona atau COVID-19 yang tengah melanda Indonesia.

Perbincangan mengenai pelarangan lalu merembet ke persoalan perbedaan tafsir antara istilah mudik dan pulang kampung. Hal itu terpicu dari jawaban Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, saat ditanya Najwa Shihab dalam sebuah acara televisi, Mata Najwa, pada Rabu (22/4/)

Pada saat itu Presiden Jokowi ditanya Najwa mengenai banyaknya orang balik ke daerah asal sebelum pelarangan mudik dilakukan mudik dilakukan. Presiden Jokowi pun menjelaskan mudik dan pulang kampung yang dianggapnya memiliki artian berbeda.

“Kalau itu bukan mudik. Itu namanya pulang kampung. Memang bekerja di Jabodetabek, di sini sudah tidak ada pekerjaan ya mereka pulang. Karena anak istrinya ada di kampung jadi mereka pulang,” terang Jokowi. “Ya kalau mudik itu di hari Lebaran-nya. Beda. Untuk merayakan Idul Fitri. Kalau yang namanya pulang kampung itu yang bekerja di Jakarta, tetapi anak istrinya ada di kampung,” imbuhnya.

Etimologi Mudik

Tampaknya masyarakat Indonesia mengerutkan dahi menanggapi tanggapan Presiden Jokowi terkait dua istilah tersebut. Pasalnya, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), mudik sebenarnya berarti pulang kampung.

Kata "mudik" sendiri berasal dari kata "udik" yang artinya selatan atau hulu sungai. Sebelum urbanisasi besar-besaran terjadi ke ibu kota Jakarta, masih banyak wilayah bernama udik atau ilir (utara atau hilir). Contohnya seperti Meruya Udik, Meruya Ilir, Sukabumi Udik, Sukabumi Ilir, dan sebagainya.

Macet di kawasan Nagreg, Bandung, Jawa Barat, pada awal Agustus 2014, dirasakan pemudik yang hendak mudik atau pulang kampung sebelum hari Idul Fitri.
info gambar

Pada saat Jakarta masih bernama Batavia, sejumlah daerah pinggiran merupakan wilayah penanaman berbagai aneka tumbuhan. Memang, jika dilihat Jakarta saat ini terdapat daerah-daerah yang memakai nama tumbuhan seperti Kebon Jeruk, Pondok Kopi, Kebon Nanas, Kemanggisan, Duren Kalibata, dan banyak lagi. Daerah tersebut awalnya masih pinggiran, tetapi kemudian menjadi satu wilayah DKI Jakarta seperti saat ini.

Para petani dan pedagang dari daerah tersebut lalu membawa hasil buminya ke pusat kota untuk didagangkan. Dari situlah muncul istilah milir-mudik, yang artinya bolak-balik. Maka dari itu istilah mudik juga memiliki makna menuju udik saat pulang dari kota kembali ladang, ke kampung, atau ke asal.

Praktik Mudik di Negara-negara Lain

Tidak cuma di Indonesia yang mempraktikkan kegiatan bermudik, karena sejumlah negara juga melakukan hal serupa.

Umumnya mudik dilakukan oleh negara dengan mayoritas muslim, walaupun nyatanya tidak selamanya seperti itu. Praktik mudik juga dilakukan oleh penganut agama lain untuk merayakan hari-hari besar mereka secara bersama-sama, saling bersilahturahmi membagi suka dan duka. Intinya, istilah mudik mungkin memang hanya ada di Indonesia, tetapi praktik yang dilakukan tetap sama.

Dari kesekian banyak negara, berikut beberapa contoh yang mempraktikkan mudik:

  1. Mudik Idul Fitri di Pakistan
Suasana sibuk di salah stasiun kereta api di Pakistan.
info gambar

Pakistan merupakan negara dari Asia Selatan dengan proporsi umat Islam sebanyak 96 persen. Dari situ bisa dilihat, gelombang mudik terbesar pastinya datang dari umat Islam yang hendak merayakan hari raya Idul Fitri bersama keluarga. Biasanya sepekan sebelum Idul Fitri penumpukan terjadi di stasiun dan kereta api. Saking banyaknya penumpang di dalam kereta, tak jarang orang-orang berbuat nekat dengan memaksa naik ke atas atap kereta demi menumpang.

  1. Mudik Imlek di Cina
Demi merayakan imlek bersama keluarga pemudik memadati Stasiun Guangzhou, Cina, pada 31 Januari 2016.
info gambar

Menjelang hari raya Imlek, warga Cina yang menghuni kota-kota besar seperti Beijing ramai-ramai pulang kampung untuk menandai perayaan di mulainya musim tanam (Imlek). Seperti Jakarta, kota Beijing yang ditinggalkan beberapa penghuni kota menjadi tampak lengang. Seperti dikutip dari BBC, hampir 100 ribu orang menunggu di Stasiun Guangzhou untuk mudik pada 2016. Kepadatan itu terjadi karena penundaan kereta karena salju di Cina Utara dan Tengah pada saat itu.

  1. Mudik Thanksgiving di Amerika Serikat
Warga Amerika Serikat yang melakukan mudik Thanksgiving harus bersabar karena jalanan macet.
info gambar

Thanksgiving day atau Hari Pengucapan Syukur biasa dirayakan di negara-negara Amerika Utara, salah satunya di Amerika Serikat. Hari Pengucapan Syukur menjadi hari libur resmi di AS yang jatuh pada Kamis keempat bulan November. Pada hari tersebut mereka memanfaatkan hari libur untuk kembali ke keluarganya masing-masing untuk berkumpul dan bersantap hidangan bersama. Fenomena mudikThanksgiving inilah yang kerap kali membuat kemacetan di beberapa daerah di AS. Bila di Indonesia saat Idul Fitri identik dengan ketupat, di AS dengan Thanksgiving-nya identik dengan hidangan daging kalkun. Sehari setelah Thanksgiving, biasanya mereka akan berbelanja karena sejumlah toko akan memberikan diskon spesial. Alhasil toko dan gerai super market akan penuh dengan pengunjung sampai tengah malam.

  1. Mudik Diwali di India
Kereta api di India yang dipenuhi penumpang pada pertengahan bulan Oktober 2019.
info gambar

India merupakan negara dengan populasi muslim terbesar ketiga di dunia dan sisanya yang terbesar ialah penganut Hindu. Di India tak hanya penganut agama Islam yang mudik, penganut Hindu pun juga melakukannya. Biasanya mereka yang menjadi penganut Hindu melakukan mudik setiap bulan Oktober atau November untuk merayakan Festival of Lights alias Diwali. Tak jauh berbeda dengan tetangganya, Pakistan, di India transportasi umum seperti kereta api akan penuh sesak oleh penumpang.

Referensi: Republika.co.id | BBC.co.uk | Pakistan.org | Liputan6.com | Alwi Shahab, "Saudagar Baghdad dari Betawi" | Ridwan Saidi, "Profil orang Betawi: asal muasal, kebudayaan, dan adat istiadatnya"

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini