Belajar Ketekunan dari W.Z. Johannes, Ahli Radiologi Pertama Indonesia

Belajar Ketekunan dari W.Z. Johannes, Ahli Radiologi Pertama Indonesia
info gambar utama

Prof. Dr. Wilhelmus Zakaria Johannes lahir di Termanu, Rote, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 16 Juli 1895, dari pasangan M.Z. Johannes dan Ester Johannes Amalo. Mereka adalah penduduk asli Termanu dan juga masih kerabat dekat.

“Di daerah Termanu sudah menjadi tradisi menikahkan anaknya dengan keluarga dekatnya atau di antara suku yang bersaudara,” dikutip dari buku kedua Tokoh Indonesia Teladan terbitan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Republik Indonesia (2017).

Ayah Wilhelmus memiliki latar belakang pendidikan sebagai seorang pendeta di Ambon. Kemudian menjadi pengurus gereja di Kota Ba’a, Rote, NTT. Tidak hanya sebagai pengurus gereja, ia juga menjadi guru bantu sekolah dasar di kota yang sama. Mungkin karna latar belakang itu, ia mendidik anaknya menjadi seseorang yang taat dalam beragama dan tekun dalam akademis.

Sejak kecil, Wilhelmus mendapatkan pendidikan agama yang sangat kuat dari kedua orang tuanya. Selain ayahnya, ibunya Ester Amalo adalah orang yang paling berjasa menanamkan nilai-nilai agama dalam dirinya.

Lingkungan tempatnya tumbuh pun sangat lekat dengan gereja, sehingga nilai-nilai kekristenan menjadi pedoman hidupnya sehari-hari. Tak heran jika sejak kecil Wilhelmus dikenal sangat taat menjalankan agama yang dianutnya.

Ajaran yang ia terima sejak kecil juga membentuk karakternya menjadi seorang pribadi yang tekun, tegas, patuh kepada orang tua, dan ramah terhadap sesama. Kepribadianya tersebut yang nanti akan membawanya menjadi sosok penting dalam dunia kedokteran Indonesia.

Tekun dalam Belajar Hingga Lulus Cepat

bapak radiologi indonesia
info gambar

Riwayat pendidikannya dimulai dari Sekolah Melayu, di Kupang, NTT. Dalam hal pendidikan, Wilhelmus termasuk anak yang beruntung. Meskipun dirinya bukan seorang anak amtenar (pegawai pemerintah) ataupun bangsawan. Ia dapat melanjutkan sekolah ke Europeese Largere School (ELS) Kota Kupang,

Hal itu tidak terlepas dari jasa guru Belandanya, Cornelis Frans, yang melihat potensi pada diri Wilhelmus. Dalam pandangan C. Frans dan guru-guru lainnya di Sekolah Melayu, Wilhelmus memang murid yang pandai dan tekun dalam pelajaran.

Bukti kecerdasannya adalah, “saat naik kelas dari kelas tiga Sekolah Dasar, [W.Z.] Johannes langsung meloncat ke kelas lima,” seperti dikutip dari "Orang Indonesia Pertama Ahli Radiologi" di laman Radiologirscm.com.

Ketekunan dan kecerdasannya itu yang membuat guru-gurunya berusaha agar ia dapat melanjutkan pendidikannya di ELS.

Di ELS pun, ia kembali membuktikan kepandaian dan ketekunannya. Dalam waktu singkat, Wilhelmus mampu lulus dari ELS dengan nilai yang sangat memuaskan. Ia tak menyia-nyiakan kepercayaan dari para gurunya.

Setelah lulus dari ELS, kedua orang tuanya berharap Wilhelmus dapat melanjutkan pendidikannya kejenjang yang lebih tinggi. M.Z. Johannes dan Ester Amalo ingin anaknya menjadi seorang dokter yang dapat membantu sesama.

Berbekal kecerdasan dan ketekunannya, Wilhelmus berhasil masuk School Tot Opleiding Voor Inlandesche Artsen (STOVIA) atau sekolah kedokteran bumiputera di Batavia. Di STOVIA, lagi-lagi Wilhelmus berhasil menyelesaikan pendidikannya dengan waktu yang lebih cepat dari pada yang seharusnya.

Masa belajar di STOVIA normalnya ditempuh dalam waktu sembilan tahun. Namun Wilhelmus mampu menyelesaikannya satu tahun lebih cepat, yaitu delapan tahun. Saat masih di tingkat VII, ia sudah diizinkan mengikuti ujian akhir.

Akan tetapi, izin itu tidak ia dapatkan dengan gratis. Ia mesti berani menerima tantangan dari guru-gurunya di STOVIA dengan konsekuensi yang telah disepakati.

Tantangan itu adalah, ia harus lulus dalam ujian percepatan tersebut. Bila ia tidak mampu lulus dalam ujian itu, “W.Z. Johannes harus mengundurkan diri dari STOVIA,” seperti ditulis dalam buku Kemendagri.

Wilhelmus tak gentar terhadap tantangan tersebut. Ia sukses menjawab tantangan itu dengan hasil yang memuaskan. Sebagai ganjarannya, pada 1920 ia lulus dari STOVIA dan memperoleh gelar Indische Arts atau dokter dengan waktu yang lebih cepat daripada siswa lainnya.

Tak Menyerah Meski Lumpuh

WZ Johannes
info gambar

Tidak lama usai mendapatkan kelulusan dari STOVIA, Wilhelmus dipercaya menjadi Gouvernements Indische Arts dengan tugas menjadi tenaga pengajar di Nederlands Indische Arts (NIAS) atau Sekolah Dokter di Surabaya. Ia bertugas menjadi tenaga pengajar di NIAS kurang lebih selama satu tahun.

Selesai tugas di NIAS, ia mendapat tugas baru menjadi dokter di banyak rumah sakit di Sumatera Selatan, seperti di Bengkulu, Muara Kaman, Mana, Kayu Agung, hingga Palembang.

Sejak ia lulus dari STOVIA hingga ia menjadi dokter di Palembang pada tahun 1930. Terhitung sudah sepuluh tahun Wilhelmus mengabdikan dirinya di bidang kedokteran.

Namun, pada saat ia menjadi dokter di Palembang. Secara tiba-tiba Wilhelmus mengalami kelumpuhan. Ia tidak patah arang. Meski sempat terhambat akibat masalah kesehatannya, ia bertekad untuk tidak berputus asa.

Dalam keadaan terbatas itu, ia masih terus berkarya dan mengembangkan diri di bidang kedokteran hingga ia dipindahkan lagi ke Centrale Burgelijke Ziekenhuis (CBZ) Batavia, sekarang Rumah Sakit dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta.

Di CBZ Batavia, ia menjadi asisten Prof. B.J. Van der Plaats. Van der Plaats adalah seorang dokter spesialis radiologi asal Belanda. Di bawah pimpinannya, Wilhelmus banyak belajar soal radiologi.

Walaupun saat itu dalam kondisi fisik yang terbatas, Wilhelmus tidak minder dan putus asa. Ia masih terus berkarya, mengembangkan banyak penelitian dan berusaha terus mendalami ilmu tentang radiologi.

Gelar dokter yang disandangnya pun tidak lantas membuatnya berpuas diri. “Ia masih tetap berkeinginan untuk menuntut ilmu ke jenjang yang lebih tinggi. Alhasil, ia berhasil mempertahankan disertasinya dan berhasil menyandang gelar doktor,” dikutip dari "Orang Indonesia Pertama Ahli Radiologi" di laman Radiologirscm.com.

Salah satu hal yang mendorongnya untuk terus mendalami radiologi adalah keyakinan bahwa kelumpuhan yang ia alami, dapat disembuhkan melalui pengobatan berbasis ilmu yang sedang didalaminya. Selain itu, melalui metode penyembuhan radiologi, ia juga yakin akan banyak masyarakat yang bisa terbantu.

Keyakinan tersebut ternyata benar-benar terwujud. Kelumpuhan yang ia alami berangsur membaik melalui beberapa rangkaian terapi penyinaran. Kendati demikian, kondisi kakinya tidak dapat pulih seratus persen, salah satu kakinya tetap mengalami kepincangan.

Meskipun tidak bisa sembuh secara sempurna, hal yang bisa dipetik dari Wilhelmus adalah ketangguhan jiwa dan fokusnya menatap masa depan. Ia yakin, selain membawa kemaslahatan untuk dirinya sendiri. Ilmunya juga bisa membawa manfaat untuk masyarakat umum.

CBZ Semarang yang sekarang menjadi RSUD Dr. Kariadi adalah salah satu saksi bisu manfaat ilmu radiologi yang ia dalami. Wilhelmus merupakan orang yang berjasa besar mengembangkan bagian radiologi di rumah sakit tersebut.

Karena kegigihannya dalam mempelajari radiologi, Wilhelmus tercatat sebagai orang Indonesia pertama yang mendapat brevet sebagai ahli roentgenoloog. Namanya disandingkan dengan ahli-ahli radiologi Belanda kala itu.

Dokter Filantropi

rsud wz johannes
info gambar

Wilhelmus dikenal sebagai dokter filantropi yang menghibahkan dirinya kepada kemanusiaan. Ia mendedikasikan dirinya untuk membantu sesama melalui bidang yang digelutinya.

Jiwa kemanusiaan Wilhelmus memang sudah terlatih sejak kecil dan dipupuk seiring dengan prinsip-prinsip kekristenan yang tertanam dalam dirinya.

Ia memegang teguh pemikiran Kristen yang mengatakan,”setiap anggota gereja harus bertanggungjawab atas tugas panggilannya menurut anugerah kepada masing-masing individu, melalui aktivitas dan pengabdiannya kepada masyarakat,” dikutip dalam buku Kemendagri.

Pemikiran Kristen tersebut dibuktikan Wilhelmus dengan mengembangkan ilmu kedokteran yang berguna bagi penyembuhan penyakit melalui terapi penyinaran atau radiologi. Kelumpuhan yang ia alami dijadikannya inspirasi sebagai bahan penelitian untuk disertasinya.

Kesimpulan dari penelitian yang dilakukan oleh Wilhelmus adalah sebuah keterangan bahwa penyakit tumor tidak dapat dideteksi hanya dengan melakukan pemeriksaan luar saja. Namun juga perlu dilakukan pemeriksaan yang lebih komprehensif mengenai penyakit dalam tersebut.

Wilhelmus menjelaskan, pemeriksaan yang lebih komprehensif itu sangat mungkin dilakukan dengan metode penyinaran (rontgen). Melalui rontgen, gejala dan diagnosa penyakit dalam, akan lebih mudah diketahui penyebab serta akibat yang ditimbulkannya.

Guru Besar Radiologi yang Menolak Gaji Besar dan Jabatan Tinggi

Kiprahnya di dunia kedokteran semakin dikenal setelah pada tahun 1949, ia diangkat menjadi guru besar radiologi pertama di Balai Perguruan Tinggi Republik Indonesia (saat ini dikenal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia atau FKUI).

Karena jasanya yang besar, ia kemudian diangkat menjadi rektor UI untuk menggantikan Ir. Surachman Cokrodisuryo, rektor pertama UI.

Peran Wilhelmus pada masa-masa awal kemerdekaan memang sangat menonjol dalam bidang kedokteran. Saat terjadi Agresi Militer Belanda yang kedua, Wilhelmus berjasa menyelamatkan arsip, obat-obatan dan perlengkapan perkuliahan, sebab saat itu FKUI dan rumah sakit umum pemerintah dikuasai oleh penjajah.

Ia memindahkan kegiatan perkuliahan di rumah Bahder Djohan. Sementara semua peralatan dan obat-obatan diserahkan ke Palang Merah Indonesia (PMI).

Selama masa pendudukan Belanda, Wilhelmus juga dikenal sebagai seorang yang keras kepala dan sering menantang pihak penjajah.

Salah satu caranya menantang adalah dengan selalu memasang bendera merah putih di depan rumahnya. Karena ulahnya tersebut, tentara Belanda kerap datang dan menurunkannya. Namun tanpa lelah Wilhelmus selalu kembali menaikan bendera merah putih.

Suatu kali, tentara Belanda datang dan merobek bendera merah putih di depan rumahnya. Bagian merahnya diambil tentara yang merobeknya untuk dijadikan ikat kepala. Sedangkan bagian putihnya dibuang. Sesudah pasukan itu pergi, Wilhelmus berkata seorang diri,”Karena bukan saya yang menurunkan, nanti saya naikan lagi.”

Beberapa saat kemudian bendera merah putih kembali berkibar di halaman rumahnya. Di lain kesempatan Wilhelmus juga pernah terang-terangan menolak tawaran gaji dan jabatan tinggi jika ia mau membantu Belanda.

Belanda sangat menyadari kemampuan dan pengaruh Wilhelmus sangat besar di antara rekan-rekannya. Sehingga Belanda berusaha membujuknya untuk bergabung ke pihak mereka.

Tidak tanggung-tanggung, Belanda bahkan sampai mendatangkan Prof. Van der Plaats, guru besarnya, untuk langsung membujuknya. Namun, tetap saja Wilhelmus menolak.

Bukan hanya menolak, tapi juga mengajak rekan-rekannya untuk membantu perjuangan Republik Indonesia dengan cara membentuk “Yayasan Bhakti Mulia” yang melayani dan merawat rakyat. Yayasan ini sekaligus mengumpulkan dana untuk berjuang.

WZ Johannes
info gambar

Tutup Usia di Belanda

Wilhelmus juga tercatat sebagai perintis berdirinya Sekolah Asisten Rontgen yang sekarang dikenal Akademi Penata Rontgen. Pada tahun 1952, ia menjadi pelopor terbentuknya perhimpunan spesialis radiologi yang disebut Ikatan Ahli Radiologi Indonesia (sekarang menjadi Perhimpunan Dokter Spesialis Radiologi Indonesia).

Pada April 1952, Wilhelmus mendapatkan tugas untuk berangkat ke Belanda selama lima bulan. Tujuan keberangkatannya adalah untuk mempelajari perkembangan ilmu rontgen serta organisasi rumah sakit di beberapa negara-negara Eropa seperti, Belanda, Swiss, Jeman, Prancis, dan Inggris.

Namun, pada masa tugas belajarnya, Wilhelmus mendapatkan serangan jantung dan dibawa ke Rumah Sakit Bronov di Den Haag. Sayangnya, saat sedang dalam perjalanan dari rumah menuju rumah sakit, ia menghembuskan napas terakhir. Ahli radiologi pertama Indonesia itu tutup usia pada 4 September 1952 di usia 57 tahun.

Untuk mengenang jasa-jasanya, namanya diabadikan menjadi nama rumah sakit umum di Kupang, NTT, yaitu RSUD W.Z. Johannes. Selain itu, namanya juga menjadi nama kapal perang TNI Angkatan Laut, yakni KRI Wilhelmus Zakaria Johannes.

Sebagai dokter yang banyak menyumbangkan ilmunya untuk dunia kedokteran di Indonesia. Ia dianugerahkan gelar Pahlawan Nasional pada 27 Maret 1968 dengan dikeluarkannya Keppres No. 6/TK/1968.

Berkat jasanya, hingga hari ini masyarakat Indonesia bisa menikmati pemeriksaan kesehatan dengan menggunakan metode pemeriksaan rontgen dan radiologi. Semoga seluruh keteladanan yang telah dicontohkan oleh Prof. Dr. Wilhelmus Zakaria Johannes, bisa kita teruskan demi kemajuan Indonesia.

Sumber:

"Tokoh Indonesia Teladan" Kemendagri (2017)| kebudayaan.kemendikbud.go.id | Radiologi.rscm.com|Tribunnewswiki.com|ceritadanbiografi.blogspot.com|pdsripusat.org|nttprov.go.id

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini