Rasi Desa Cireunde, Bentuk Pemberontakan untuk Merdeka

Rasi Desa Cireunde, Bentuk Pemberontakan untuk Merdeka
info gambar utama

Kampung ini dulunya adalah kawasan yang terkenal dengan tempat pembuangan akhir sampah. Sampai terjadi musibah longsor yang menewaskan hampir seratus warga akibat sampah yang menggunung, kampung ini kini beralih nama dan fungsinya.

Sejak tahun 2009, pemerintah Kota Cimahi akhirnya memutuskan untuk membersihkan kawasan ini dan secara resmi menjadi Kampung Adat Cireundeu.

Jarak Kampung Adat Cireundeu atau Desa Cireundeu kurang lebih enam kilometer ke arah barat dari pusat Kota Cimahi. Tepatnya di Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi, Jawa Barat.

Jauh sebelum peristiwa longsor itu, ternyata Kampung Adat Cireundeu memiliki kisah sejarah yang kaya akan nilai nasionalisme dari masyarakatnya.

Banyak yang mengenalnya dengan kebiasaan masyarakat kampungnya yang tidak pernah memakan nasi beras, melainkan rasi atau nasi singkong. Adat kebiasaan inilah yang membuat Kampung Adat Cireundeu istimewa.

Ada kisah perjuangan dibaliknya, berupa kisah pemberontakan terhadap penjajah dibalik keputusan memakan rasi.

Penggagas Nasi Singkong dan ''Gerilya'' Pemberontakan

Masyarakat Desa Cireundeu bukan tidak pernah mengonsumsi nasi beras. Hanya saja sejak tahun 1918, saat Indonesia masih di bawah tekanan penguasa penjajah, seseorang bernama Aki Ali atau disebut juga sebagai Mama Ali mencetuskan pemikiran baru.

Tak mau terus dalam tekanan penjajah, akhirnya Mama Ali menggagas untuk mengganti makan nasi beras menjadi makan singkong. Saat itu komoditas padi sangat dikuasai oleh penjajah sehingga sulit sekali untuk mendapatkannya.

Mama Ali memiliki pemikiran bahwa sumber pangan warga yang dikuasai penjajah harus segera dilawan. Mengingat bahwa singkong juga merupakan komoditas utama Desa Cireundeu. Karena kemudahan budi dayanya.

Pakar Wisata Warisan Budaya Gastronomi Indonesia, Dewi Turgarini, mengatakan bahwa ada kemungkinan singkong sudah menjadi komoditas utama Desa Cireundeu sejak 200 tahun lalu. Saat pertama kali benih singkong dibawa oleh Belanda ke Pulau Jawa pada abad ke-18.

Hal tersebut ia sampaikan kepada GNFI pada 22 April 2020 saat berdiskusi tentang sejarah singkong.

Menurut salah satu penutur di Kampung Adat Cireundeu, Jajat, perlawanan lain yang dicetuskan oleh Mama Ali adalah menanam paksa singkong yang sudah menjadi komoditas utama Desa Cireundeu.

Selain itu, hal ini juga dijadikan gerilya kecil pemberontakan rakyat untuk merebut kembali perkebunan rakyat dari tangan penjajah.

“Dari situlah mulai cita-cita Mama Ali itu lahir, bahwa bangsa kita tidak akan berhasil merdeka lahir batin kalau perut kosong,” ungkap Jajat dikutip dari Liputan6.com.

Sampai pada tahun 1924, gerilya itu masih terus berlanjut. Pada tahun inilah beras singkong pertama kali dibuat di Desa Cireundeu.

Penggagasnya adalah menantu Mama Ali yang bernama Omah Asnamah. Beliau yang pada akhirnya mengembangkan makanan pokok non beras itu menjadi beras singkong. Sebenarnya sebutan rasi baru dibubuhkan saat Indonesia merdeka.

Sampai sekarang masyarakat Desa Cireundeu maupun masyarakat luar, mengenal beras singkong atau nasi singkong dengan sebutan rasi.

Masyarakat Kampung Adat Cireundeu
info gambar

Lebih lanjut Jajat menuturkan bahwa Omah Asnamah yang menemukan “teknologi” untuk mengubah tepung singkong menjadi seperti sekarang yang kita sebut rasi itu.

Penggaungan untuk memakan beras singkong oleh Omah Asnamah juga tidak hanya kepada masyarakat Desa Cireundeu, melainkan untuk warga sekitarnya.

“Beliau (Omah Asnamah) berkata, kalau kita bisa berhenti makan nasi beras, tanda-tanda kemerdekaan sudah semakin dekat,” ungkap Jajat mengenang cerita leluhurnya dalam Liputan6.com (19/11/2019).

Keputusan Bijak Desa Cireundeu Kala Pemerintah Berusaha Tekan Konsumsi Beras

Pada 1964, pemerintah Kota Cimahi melalui Wedana Cimahi memberikan penghargaan Omah Asnamah sebagai Pahlawan Pangan. Atas pelopornya itulah kebiasaan makan rasi masih terus berlanjut sampai sekarang. Jauh setelah Indonesia sudah merdeka.

Meski sudah banyak perubahan dan kebiasaan masyarakat modern seperti sekarang, Desa Cireundeu tetap mempertahankan nilai leluhur untuk terus mengonsumsi rasi. Layaknya makan nasi pada umumnya, rasi juga tetap dinikmati oleh lauk pauk dan sayur seperti halnya orang makan nasi beras.

Seolah sudah diramalkan, adat kebiasaan Desa Cireundeu seolah menyelamatkan mereka.

Sejak tahun 2010, diketahui pemerintah sudah berambisi menurunkan konsumsi beras masyarakat hingga 1,5 persen per tahun. Seiring pertumbuhan penduduk yang terus bertambah setiap tahunnya, kebutuhan beras semakin meningkat. Kondisi tersebut dianggap menjadi beban bagi negara.

Tumpukan Cadangan Beras Indonesia
info gambar

Selain karena menipisnya cadangan pangan nasional, Indonesia juga pernah masuk sebagai negara dengan penderita diabetes terbesar nomor empat di dunia oleh World Health Organization (WHO).

Pada tahun 2010 saja, konsumsi beras per kapita masyarakat Indonesia dinilai masih sangat tinggi hingga mencapai 139 kg per tahun. Sedangkan negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand sudah di bawah 100 kg per tahun.

Sepuluh tahun kemudian, saat ini, tahun 2020, konsumsi beras per kapita masyarakat Indonesia sudah menurun ke angka 111,58 kg per tahun. Angka tersebut dianggap cukup baik dan aman di tengah masih melimpahnya stok pangan Indonesia hingga Triwulan II 2020. Terutama menghadapi kebutuhan pokok saat Ramadan.

“Kami menghargai apa yang diperjuangkan leluhur karena ada nilai perjuangan dan melihat kondisi saat ini seperti perubahan yang diprediksikan orang tua kami. Bagi kami, sedikit nasi singkong juga bisa mengenyangkan perut. Dan kekuatan karbohidratnya lebih tahan lama di tubuh,” kata Jajat.

--

Sumber: Wawancara Eksklusif GNFI | Liputan6.com | Good News From Indonesia | Finance Detik | Merdeka.com

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini