Terapi Plasma Konvalesen, Kabar Baik untuk Penanganan Virus Corona

Terapi Plasma Konvalesen, Kabar Baik untuk Penanganan Virus Corona
info gambar utama

Kawan GNFI, beberapa hari ini, beredar kabar yang mengatakan bahwa terapi plasma konvalesen (TPK) disinyalir dapat menyembuhkan pasien Covid-19. Informasi tersebut datang dari ahli genetika dan biologi molekuler Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha, Dr. Theresia Monica Rahardjo.

Dalam sebuah wawancara via telekonferens di Kompas TV, Monica mengaku, sejak 18 Maret 2020 lalu, ia bersama timnya telah berinisiatif mengusulkan kepada pemerintah agar TPK dapat segera dilakukan di Indonesia.

Pasalnya, TPK sudah pernah dipraktikkan di Wuhan, Tiongkok dan di New York, Amerika Serikat (AS) untuk mengatasi pasien Covid-19 dengan hasil yang cukup baik.

Di Tiongkok, pernah dicoba kepada 10 pasien yang kritis. Ternyata dalam waktu yang relatif singkat, hasilnya sangat menggembirakan, seluruh pasien tersebut berhasil hidup. Kasus lainnya, lima orang yang kondisinya lebih kritis dan sudah menggunakan ventilator juga sembuh melalui terapi plasma konvalesen.

Lain lagi dengan di Korea Selatan, dua orang pasien yang sangat kritis juga berangsur sembuh dengan terapi tersebut. Sementara di AS, uji coba dilakukan kepada tiga kelompok pasien, kata Monica, “saya dapat kabar hasilnya menggembirakan.”

Berkaitan dengan kabar baik tersebut,Food and Drug Administration (FDA) AS pun sudah mengizinkan penggunaan plasma konvalesen sebagai salah satu terapi bagi penderita Covid-19. Badan pengawas obat dan makanan Amerika itu merekomendasikan para pasien Covid-19 yang telah sembuh mendonorkan plasma darah mereka.

Saat ini, tambah Monica, di Indonesia sendiri sedang disiapkan pusat-pusat program untuk melakukan terapi plasma konvalesen demi kesembuhan pasien Covid-19.

Bukan Hal Baru

TPK sebenarnya bukan hal baru dalam dunia medis. Sebelumnya, TPK pernah diterapkan dalam mengatasi penyakit akibat virus ebola. Rekomendasinya langsung dari World Health Organization (WHO) pada tahun 2014.

Selain itu, kata Prof David Muljono, Deputy Director Eijkman Institute of Molecular Biology, sebelumnya terapi ini pernah dilakukan untuk mengobati penyakit SARS, MERS, hantavirus, dan flu burung.

Di Hong Kong, misalnya, saat terjadi wabah SARS CoV pada 2003, H1N1 pada 2009-2010, dan MERS-CoV pada 2012, terapi plasma konvalesen juga dilakukan untuk menanganinya.

Bila menilik lebih jauh ke belakang, terapi konvalesen sebenarnya sudah ada sebelum pandemi flu Spanyol pada tahun 1918.

Dalam wawancara di stasiun televisi nasional itu, Monica juga menjelaskan, metode TPK ini merupakan salah satu bentuk daripada vaksin.

Kata dia, vaksin terdiri dari dua jenis, ada vaksin aktif dan vaksin pasif. Terapi plasma konvalesen ini adalah bentuk vaksinasi pasif, dimana plasma yang berasal dari tubuh pasien yang sudah sembuh, dimasukan ke dalam tubuh pasien yang masih menderita penyakit. Selanjutnya, plasma yang mengandung immunoglobulin atau daya tahan tubuh, membantu menyembuhkan penyakit tersebut.

Dengan kata lain, terapi ini bergantung pada fakta bahwa orang yang telah pulih dari infeksi virus corona, memiliki antibodi dalam darah mereka. Antibodi itu mempunyai kemampuan cepat mendeteksi dan menghancurkan virus pada saat ia menyerang. Memasukan plasma ke pasien yang terinfeksi, dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh mereka.

Proses TPK

Terapi plasma konvalesen untuk corona
info gambar

Prof David Muljono mengatakan, bahwa terapi plasma konvalesen sangat mungkin dilakukan di Indonesia. Apalagi jika melihat tingkat keberhasilannya yang cukup tinggi di Tiongkok.

Kata Monica, proses TPK mirip seperti transfusi darah. Bedanya, untuk keperluan terapi ini yang diambil plasma pasien Covid-19. “Satu pasien sembuh bisa diambil plasma 500cc. Ini sama seperti proses donor darah,” kata Monica.

Satu pendonor dapat memberikan plasmanya untuk dua pasien dan bisa kembali menjadi pendonor dalam waktu 14 hari sekali. Selanjutnya, pemberian plasma kepada pasien Covid-19 yang belum sembuh dilakukan perlahan-lahan selama empat jam.

“Dalam satu jam pertama dimonitor apakah ada efek atau tidak, lewat dari situ aman,” terang Monica.

Hanya saja, ada kriteria khusus bagi pasien sembuh yang akan diambil plasma darahnya. “Plasma diambil dari darah pasien yang sembuh, tetapi ada kriterianya,” ujar David.

Kriteria yang harus dimiliki oleh pendonor di antaranya berusia 18-55 tahun, berat badan lebih dari 50 kliogram, tidak memiliki penyakit penyerta, serta mampu mendonorkan darahnya.

“RNA [asam ribonukleat] pasien harus pernah positif, dengan indikasi pasien tersebut harus yang memiliki progress (penyembuhan yang cepat dan penyakitnya tidak lebih dari tiga minggu,” tutur David.

Segera Dilakukan di Indonesia

Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Amin Soebandrio mengatakan, dalam waktu tiga pekan lagi, TPK untuk pasien Covid-19 sudah bisa dilakukan di Indonesia. “Diperkirakan sekitar dua minggu atau tiga minggu ini sudah bisa mulai,” katanya.

Dilansir dari Mediaindonesia.com, diketahui bahwa Lembaga Eijkman bersama Palang Merah Indonesia (PMI) sedang menjalin kerja sama agar TPK dapat segera diwujudkan di Indonesia.

Saat ini, kata Amin, pihaknya sedang menyiapkan unit tranfusi darah (UTD) yang nanti akan dijadikan tempat pengambilan plasma darah pasien Covid-19 yang telah dinyatakan sembuh.

“PMI sudah menentukan jaringan UTD yang memiliki kapasitas pengambilan plasma dan memiliki sertifikat CPOB. Nanti PMI akan memastikan UTD siap. Eijkman dalam hal ini bertugas memastikan bahwa kadar antibodi sesuai dengan syarat minimum,” ungkapnya.

Selanjutnya, pemberian plasma darah kepada pasien akan dilaksanakan dalam bentuk pelayanan berbasis penelitian. Artinya, pelayanan tersebut akan diselenggarakan di rumah sakit yang dipilih terlebih dulu dan bersedia untuk melakukan terapi plasma darah.

“Nanti akan diselenggarakan di beberapa kota besar seperti Jakarta, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Malang, Bandung. Akan diuji di RS yang fasilitasnya memadai,” pungkasnya.

plasma darah
info gambar

Masih Perlu Diuji

Informasi mengenai kesembuhan pasien corona dengan metode TPK telah banyak beredar. Namun, kata David, masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa metode ini memang efektif guna menyembuhkan pasien Covid-19.

Tambahnya, itulah alasannya, mengapa Infectious Diseases Society of America (IDSA) telah mengeluarkan rekomendasi yang menyebutkan bahwa TPKbukanlah pengobatan terakhir, karena masih belum banyak pengalaman klinis. “Butuh studi lebih banyak yang diobservasi secara ketat untuk membuktikan efektifitasnya,” ujarnya.

Meski begitu, harapan dan peluang sekecil apapun sepertinya patut diuji dalam kondisi seperti sekarang ini. Hal itu demi semakin cepat teratasinya virus corona yang tengah menjadi pandemi dunia.


Sumber: Kompas TV| Kompas.com| MediaIndonesia.com| Nationalgeographic.grid.id| Republika.co.id| CNNIndonesia.com| idsociety.org| FDA.gov | Alodokter.com

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini