Laju Bus Bintang di Bumi Priangan

Laju Bus Bintang di Bumi Priangan
info gambar utama

Sejak Jumat 24 April lalu, masyarakat Indonesia mulai menjalankan ibadah puasa. Selain berpuasa, normalnya masyarakat Indonesia juga akan mempersiapkan hajatan besar tiap tahun, yaitu mudik untuk berlebaran ke kampung halaman.

Akan tetapi, Ramadan kali ini berbeda seperti sebelumnya karena pemerintah mengeluarkan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 25 Tahun 2020 terkait larangan mudik yang disampaikan oleh Presiden Joko Widodo. Imbasnya, banyak perjalanan transportasi yang dibatalkan terutama yang berasal dari daerah zona merah Covid-19.

Sebagai ibu kota negara, sudah tentu banyak sarana tranportasi dari Jakarta menuju ke daerah-daerah lain. Salah satu sarana transportasi yang marak ditemukan adalah bus. Sejak masa kolonial, bus menjadi salah satu moda transportasi pilihan bagi masyarakat. Ada beberapa perusahaan di masa kolonial yang bergerak dalam bidang ini, salah satunya S.H. Autobus Dienst yang dimiliki oleh seorang warga Jepang bernama Sato Shigeru.

Menurut koran Algemeen Handelsblad voor Nederlandsch-Indië edisi 30 Agustus 1932, Sato Shigeru ialah seorang pengusaha yang tinggal di Garut. Ia kemudian mendirikan perusahaan bus S.H. Autobus Dienst pada 1924 yang melayani rute Garut–Bandung dengan bus Bintang. S.H. Autobus Dienst lalu memperluas jaringannya pada 1926 dengan membuka rute Batavia–Bandung via Sukabumi, dan Garut–Pameungpeuk seperti yang ditulis dalam koran Bataviaasch Nieuwsblad edisi 10 Desember 1926.

Saat itu, S.H. Autobus Dienst memiliki 16 armada bus Federal yang memuat 20 kursi penumpang. S.H. Autobus Dienst membedakan tiket busnya dalam dua kelas, kelas I dan II. Kelas I merupakan kelas yang paling mahal harga tiketnya.

Setahun kemudian, pada 1927 Sato Shigeru membuka rute baru dari Bandung menuju Cirebon dan sebaliknya. Dalam iklan di koran De Koerier edisi 7 Mei 1927, bus Bintang melayani perjalanan Bandung–Cirebon dan sebaliknya dua kali dalam sehari yang berangkat pada pukul 6.30 pagi dan 1.30 siang.

Saat itu, perjalanan Bandung–Cirebon dan sebaliknya memakan waktu perjalanan sekitar 6.5 jam. Selain Bintang, ada bus lain yang juga membuka rute Bandung–Cirebon. Menurut Bataviaasch Nieuwsblad edisi 27 Februari 1927 bus ini dikelola oleh Goh-Ing dan menjadi pesaing berat Bintang.

S.H. Autobus Dienst kembali melakukan terobosan dengan membuka rute Batavia-Bandung via Puncak pada 3 Maret 1929. Seperti yang diwartakan oleh koran Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië edisi 2 Maret 1929, S.H. Autobus Dienst menggunakan bus keluaran Studebaker yang memuat 12 orang penumpang.

Perjalanannya sendiri memakan waktu 4,5 jam dengan suguhan spesial, pemandangan indah di daerah Puncak. S.H. Autobus Dienst mematok tarif 6.50 gulden per penumpang. Uniknya, bus ini hanya melayani satu kelas saja dengan jumlah penumpangnya yang lebih sedikit.

Perjalanan S.H. Autobus Dienst mulai terganggu sejak 1930 saat Hindia Belanda ikut terpengaruh depresi Besar yang melanda dunia. S.H. Autobus Dienst dan perusahaan-perusahaan bus lain mencoba bertahan dari kondisi ekonomi yang mulai tidak menentu.

Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië edisi 14 November 1931 menyebut ada satu perusahaan bus besar yang akhirnya gulung tikar. Perusahaan bus yang masih bertahan banyak yang mengurangi gaji karyawan. Bahkan yang lebih buruk mengurangi jumlah karyawannya. S.H. Autobus Dienst masih bisa bertahan hingga tahun 1932 sebelum dinyatakan bangkrut dan akhirnya berhenti beroperasi.

Seiring berjalannya waktu, semakin banyak perusahaan-perusahaan bus yang berdiri di Indonesia. Perusahaan-perusahaan tersebut berlomba-lomba menarik konsumen dengan berbagai cara, salah satunya adalah meningkatkan kenyamanan armada mereka.

Kini, jamak ditemui bus dengan kelas-kelas yang dapat memanjakan penumpangnya, seperti slepeer seat, super eksekutif, dan eksekutif dengan berbagai fasilitas dan hiburan di dalamnya. Namun, jangan lupa juga dengan kelas ekonomi yang harganya ramah dengan dompet.*

Referensi: Algemeen Handelsblad voor Nederlandsch-Indië edisi 30 Agustus 1932 | Bataviaasch Nieuwsblad edisi 10 Desember 1926 dan 27 Februari 1927 | De Koerier edisi 7 Mei 1927 | Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië edisi 2 Maret 1929 dan 14 November 1931

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini