Alkisah Warteg, Penyelamat Perut Rakyat

Alkisah Warteg, Penyelamat Perut Rakyat

Pilihan menu warteg. © Shutterstock/Andri Seto Baskoro

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Warung Tegal (warteg) adalah penyelamat. Tepatnya, penyelamat perut rakyat yang keroncongan. Agak lebay memang menyematkan julukan itu pada warteg, tetapi saya merasakan itu di dalam hidup saya, apa mungkin Kawan GNFI juga begitu?

Maaf, bilamana sedikit curhat. Kembali pada masa-masa awal Sekolah Menengah Atas (SMA), sekolah saya memiliki dua gedung yang disatukan sebuah jembatan. Dua gedung, tapi hanya memiliki satu kantin yang terletak di gedung lama dan itu jauh dari kelas saya yang berada di gedung baru.

Jujur saja, saya dan teman-teman malas ke kantin sekolah yang jaraknya jauh. Mesti naik-turun tangga dulu. Ketimbang kantin, jarak ke warteg lebih dekat ke kelas saya. Sayangnya, warteg berada di luar sekolah sedangkan keluar pada jam pelajaran dan istirahat pada saat itu dilarang. Solusinya saya dan teman-teman mesti memanjat pagar untuk memesan beberapa bungkus nasi warteg.

“Mas! Lima bungkus, lauknya orek tempe, mi goreng, sama tahu goreng,” teriak teman saya pada penjual warteg. Si penjual pun memberikan pesanan kami dengan harga seporsi Rp 5.000 saja! Dengan pilihan lauk yang banyak, tetapi menggugah selera makan, mengenyangkan, dan yang paling penting murah, warteg benar-benar menjadi mesias, bukan?

Ya, sebenarnya selain warteg juga ada warung makan lain yang menawarkan menu yang tak kalah murah. Namun, karena menjamur di mana-mana dan kepalang dikenal sebagai penyedia kuliner murah meriah, warteg menjadi favorit banyak kalangan termasuk saya.

Kuliner yang tersedia di warteg kebanyakan sebenarnya terbilang sederhana, tetapi cita rasa yang kaya dan mengena di lidah itulah yang menjadi daya tariknya yang lain. Rasa yang nikmat plus harga relatif murah, daya tarik inilah yang tetap terjaga sejak dulu hingga sekarang.

Sejarah Kehadiran Warteg di Ibu Kota Jakarta

Merujuk dari namanya, warteg akan langsung dicap berasal dari kota Tegal, Jawa Tengah. Meskipun begitu, tak selamanya para pengusaha warteg berasal dari kota pesisir di Pulau Jawa itu karena beberapa di antaranya datang dari kota-kota wilayah Pantai Utara (Pantura) Jawa seperti Brebes, Kuningan, dan Pemalang.

Warteg mulai muncul kira-kira sesudah Indonesia merdeka. Pada saat itu, warteg belum dikenal sebagai “warteg” seperti sekarang ini.

"Jika mengacu pada konsep warteg yang sekarang ini (artinya sudah menggunakan nama "warteg"), warteg mulai muncul akhir dekade 1940-an," terang jurnalis sejarah, M.F. Mukhti, ketika dihubungi GNFI pada Rabu (29/4/2020).

Warteg di daerah Jakarta Timur.
Sebuah Warteg di daerah Jakarta Timur. Sumber: Shutterstock/Edwin Eka Nugraha

Dari Tegal lalu menjalar hingga ke mana-mana. Para pengusaha warteg kemudian membuka usaha di kota-kota besar termasuk ibu kota Jakarta. Hal ini tak lepas dari pandangan orang desa yang melihat kota besar sebagai tempat mereka mengadu nasib.

Warteg baru hadir di Jakarta sekitar tahun 1950-an. Maraknya transportasi becak di Ibu kota menjadi satu pemicu tumbuhnya warteg di Jakarta.

Banyak dari tukang becak (sebutan bagi pengemudi becak) datang dari wilayah Pantura seperti Indramayu, Brebes, dan tentunya Tegal. Selain dari Pantura, tukang becak di Jakarta juga datang dari wilayah Jawa Barat bagian tengah dan selatan.

Persaingan muncul karena tukang becak dari Pantura dikenal lebih gesit mencari penumpang. Sistem shift pun diberlakukan agar tidak terjadi keributan. Tukang becak dari Jawa Barat mulai beroperasi pada shift pagi, sementara Pantura shift sore hari.

Tukang becak Pantura biasanya membawa serta keluarganya hidup di Jakarta. Keluarga inilah yang menyediakan makanan bagi kelompok tukang becak lain. Dari situ usaha membuka warung makan berkembang dan sanak famili mereka di kampung tertarik membantu dan mencari peruntungan di Jakarta.

Tukang becak melintas di depan Bioskop Megaria, Cikini, Jakarta.
Tukang becak melintas di depan Bioskop Megaria, Cikini, Jakarta (sekitar 1960-1980-an). Transportasi becak memang banyak di Jakarta sejak awal abad ke-20. Pada 1951, diperkirakan ada 25.000 tukang becak yang beroperasi di Jakarta. Sumber: Tropenmuseum

"Jasa jual makanan rumahan ini berkembang mengikuti warung nasi yang ada sejak 1950-an di wilayah proyek (pada 50 sampai 60-an sedang gencar-gencarnya proyek mercusuar di Jakarta), harganya pun sama murahnya," tulis Zeffry Alkatiri dalam Pasar Gambir, Komik Cina, Es Shanghai: Sisi Melik Jakarta 1970-an (2010).

Tidak diketahui pasti siapa yang menjadi pengusaha warteg pertama di Indonesia. Karena pada awalnya usaha warteg dibuat lebih ke arah bertahan hidup dari ekonomi yang sulit dibandingkan mencari keuntungan.

"Sejauh ini tidak ada, karena usaha warteg tidak dipelopori oleh seseorang sebagaimana misalnya Kolonel Sanders mendirikan KFC (Kentucky Fried Chicken, resto cepat saji asal Amerika Serikat). Warteg lebih bersifat pola umum masyarakat tertentu di Tegal dalam menyambung hidup di tengah kondisi sulit. Memang ada beberapa nama yang hingga kini dianggap sebagai pelopor warteg, yang paling populer adalah Warmo (Tebet, Jakarta Selatan)," terang Mukhti.

Warteg di Ibu kota kian menjamur pada dekade 1970-an. Proyek pembangunan gedung dan jalan yang semakin gencar dilakukan pemerintah jelas membutuhkan para pekerja kasar alias kuli. Pengusaha warung makan seperti warteg pun dengan jeli membuka usahanya di sekitaran proyek pembangunan tersebut.

"Popularitas warteg baru datang jauh setelah itu. Sekira awal dekade 1970-an seiring dengan pembangunan Jakarta. Banyak pemilik warteg membuka warung makan sederhana di sekitar proyek untuk mengakomodasi kepentingan makan para kuli bangunan," sambung Mukhti.

Nama sebutan warteg lebih populer di luar kota asalnya. Penyematan nama “Tegal” dimaksudkan sebagai identitas dari sang pengusaha warung makan.

“Sepengetahuan saya nama warteg justru populer di luar Tegal, tempat orang-orang Tegal mengadu nasib. Hal itu terkait dengan upaya pemertahanan jati diri sebuah komunitas di dalam pluralitas kota besar yang jelas berisi banyak komunitas masyarakat," papar Mukhti.

Pola seperti itu telah umum digunakan sejak lama. Di Jakarta bisa diambil contoh nama-nama kampung; ada Kampung Melayu, Kampung Bali, Kampung Jawa, dll. Sementara di Singapura ada Jalan Bugis, yang diambil dari perkampungan pelaut Nusantara asal daerah itu.

Pengusaha Warteg yang Tajir Melintir

"Awalnya, orang-orang yang berusaha dengan membuka warteg kebanyakan berasal dari Sidakaton, Cabawan, Krandon, Sidapurna," kata Mukhti menjelaskan daerah asal para pengusaha warteg.

Warteg dengan kekhasannya, salah satunya relatif murah, dapat mampu menarik banyak pembeli. Semurah-murahnya barang jika pembelinya banyak tentu bakalan untung. Seperti itulah yang dirasakan para pengusaha warteg. Di tempat asalnya sebagian dari mereka dipandang sebagai pengusaha yang sukses dengan memiliki rumah yang megah nan mewah.

Contohnya di Sidakaton dan Sidapurna, sejumlah rumah tingkat dua menghiasi kedua desa tersebut. Namun rumah tersebut biasanya terkesan sepi seperti tidak ditinggal penghuninya.

Rumah pemilik usaha warteg.
Salah satu rumah pemilik usaha warteg yang ditinggal merantau. Sumber: Tempo.co

Menurut warga sekitar, rumah-rumah tersebut sepi karena pengusaha warteg sedang merantau ke kota. Sebenarnya rumah pengusaha warteg tidak kosong, tetapi biasanya ditunggui oleh anggota keluarga mereka atau orang yang mereka percaya. Si empunya rumah biasanya baru akan balik ketika hari raya Idul Fitri atau keperluan mendesak yang lain.

Hasil jerih payah pengusaha warteg tidak hanya untuk pribadi sendiri atau keluarganya semata, tetapi juga disalurkan untuk kebaikan desanya. Mereka turut andil dalam pembangunan desa seperti membangun gapura dan jalan beraspal.

Kowantara, Wadah Pengusaha Warteg Se-Jabodetabek dan Pantura

Banyaknya warteg di sejumlah kota besar membangkitkan semangat persatuan dari para pelaku usahanya. Melihat itu, Koperasi Warteg Nusantara (KOWANTARA) akhirnya dibentuk pada 2011 dengan tujuan mesejahterahkan para pengusaha warteg.

"Pada awalnya teman-teman dari para pemilik atau pedagang warteg pada tahun 2004 berembug membuat semacam paguyuban yang bernama Paguyuban Warteg Pantura yang terdiri dari para pedagang warteg yang ada di pantura dari Tangerang, Banten, sampai ke Semarang. Tujuan dari paguyuban Warteg Pantura ini sekadar ingin bersama-sama untuk turun rembug terhadap masalah-masalah yang dihadapi para pedagang warteg dari mulai harga sembako dan retribusi (pajak) daerah," jelas pendiri dan penasehat KOWANTARA, Mukroni, pada GNFI, Rabu (29/4).

"Kemudian pada tahun 2011 tepatnya bulan Maret, para pedagang warteg yang bergabung dalam Paguyuban Warteg Pantura ini membentuk sebuah koperasi yang dinamakan Koperasi Warteg Nusantara yang disingkat KOWANTARA," sambungnya lagi.

Kegiatan pembentukan KOWANTARA.
Kegiatan pembentukan KOWANTARA pada 2011. Sumber: KOWANTARA/Mukroni

KOWANTARA fokus pada warteg sekitar Jabodetabek serta wilayah Pantura dan berambisi ingin memperluas jangkauannya dengan membentuk Yayasan Komunitas Warteg Nusantara. Nantinya tidak hanya pengusaha warteg saja, tetapi penjual martabak—yang banyak berasal dari Lebaksiu, Tegal—di seluruh Indonesia diharapkan bisa bergabung.

Terdapat 6.000 warteg di Jabodetabek dan Pantura yang berhasil didata KOWANTARA. Di Pantura sendiri kota-kota yang terdata ialah Karawang hingga Cirebon. Sejauh ini, KOWANTARA baru mengusahakan pendataan sampai Semarang.

Pada era internet seperti ini, KOWANTARA berharap bisa segera meluncurkan aplikasi untuk memudahkan pendataan. "Sangat perlu dan harus mengikuti perkembangan teknologi, dari mulai pendataan lewat online dan nantinya kita memanfaatkan aplikasi Android dan IOS untuk memudahkan dan mengefisiensikan cara kerja dan sistemnya. Apa lagi jumlah warteg cukup signifikan di Jabodetabek ini, baik untuk keperluan bisnis dan lainnya," tutup Mukroni.

KOWANTARA turut mendapat perhatian dari Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil-Menengah (Kemenkop UKM). Contohnya pada pandemi virus corona ini, KOWANTARA yang berkolaborasi dengan Aksi Cepat Tanggap (ACT), mengabarkan ada 100 warteg gratis bagi pekerja informal dan ojol yang kemudian disiarkan lagi oleh Kemenkop UKM.

Warteg Milenial dan Warteg ala Amerika

Perkembangan zaman membuat inovasi dilakukan oleh pengusaha warteg demi menggaet konsumen milenial. Caranya beragam, mulai dari menyuguhkan menu baru sampai menambahkan fasilitas terkini di warungnya.

Salah satu warteg dengan konsep “kekinian” bisa ditemui di Warteg Margonda, Depok, Jawa Barat. Di Warteg Margonda, selain menu yang ada pengunjung juga dimanjakan dengan wifi gratis.

Cara pembayaran pun beragam, selain tunai bisa juga cashless melalui e-money, debit card, atau credit card. Beberapa promo minuman juga kadang-kadang dimunculkan oleh pemilik warung pada saat-saat tertentu. Pembeli yang males gerak alias mager, juga bisa memesan lewat aplikasi ojol karena Warteg Margonda dan warteg sejenisnya sudah mendaftarkan usahanya lewat aplikasi tersebut.

Tak cuma hanya ada di Indonesia, warteg juga ada di Queens, New York, Amerika Serikat. Pada 2013, sebuah resto makan bernama Java Village mengadopsi konsep warteg di mana makanannya sudah tersaji. “(Orang) di sini kebanyakan maunya cepat,” terang sang pemilik warung, Ibu Dewi, dikutip dari VOA Indonesia.

Sama halnya dengan beberapa warteg di Indonesia yang membuka 24 jam, Java Village juga buka sampai larut malam. “Anda boleh datang juga jam 11 malam kita mulai busy,” katanya lagi.

Referensi: VOA Indonesia | Instagram.com/@warteg.margonda | Tempo.co | Radartegal.com

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
Rekam Jejak Perang Dunia II di 7 Wilayah Indonesia Sebelummnya

Rekam Jejak Perang Dunia II di 7 Wilayah Indonesia

Apakah TNI AL Perlu Mengoperasikan Kapal Induk? Selanjutnya

Apakah TNI AL Perlu Mengoperasikan Kapal Induk?

Dimas Wahyu Indrajaya
@dimas_wahyu24

Dimas Wahyu Indrajaya

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.