Nasionalisme Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari

Nasionalisme Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari

KH Hasyim Asy'ari (1871-1947) ulama nasionalis yang berjasa dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia © GNFI

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Sejak sebelum lahir, Nyai Halimah sudah yakin, kelak calon putranya akan menjadi orang hebat. Tanda-tandanya adalah kandungannya mencapai 14 bulan. Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, hal itu diyakini sebagai sebuah petanda bahwa si jabang bayi, akan jadi anak yang cerdas. Tambah lagi ia bermimpi bulan purnama jatuh dari langit dan menimpa perutnya.

Pertanda itu ternyata benar, bayi yang dilahirkan Nyai Halimah, kelak akan menjadi salah seorang ulama berpengaruh di bumi Nusantara. Ia menjadi salah satu pelopor lahirnya organisasi Islam terbesar di Indonesia.

Anak tersebut diberi nama Muhammad Hasyim, lahir di Jombang pada 14 Februari 1871 atau pada hari Selasa Kliwon, 24 Dzulqa’dah 1287 H. Pertanda yang dirasakan ibunya perihal masa depan Muhammad Hasyim semakin menguat karena sejak kecil ia sudah menunjukkan sifat kepemimpinan.

Ia seringkali bertindak sebagai penengah dalam setiap permainan. Sementara kalau ada temannya yang ketahuan melanggar aturan, ia tidak segan menegurnya.

Berbagai ilmu agama juga sudah dikuasainya sejak usianya masih relatif muda. Pada usia 13 tahun, ia sudah bisa membantu orang tuanya mengajar para santri yang lebih senior.

Dengan berbagai anugerah dan kelebihan yang dimilikinya sejak kecil. Kelak, Muhammad Hasyim akan bergelar Hadratussyekh (maha guru) Kiai Haji Hasyim Asy’ari.

Haus Ilmu, Belajar dari Satu Pesantren ke Pesantren Lain

Kiai Hasyim Asy’ari lahir di lingkungan keluarga dengan latar belakang agama Islam yang kuat. Ayahnya merupakan seorang pendiri pesantren di Jombang, Jawa Timur, sama dengan kakeknya, yang juga pendiri pesantren dan ulama terkenal.

Dengan lingkungan keluarga yang sangat kental oleh ajaran Islam. Hal itu mendidik Kiai Hasyim Asy’ari menjadi seorang anak yang gemar belajar ilmu agama. Ia dikenal cerdas dan rajin belajar.

“Sejak kecil sudah terbiasa mengikuti pelajaran agama dari orang tuanya di Pondok Gedang, pondok yang didirikan kakeknya,” dalam buku Antologi NU: Sejarah, Istilah, Amaliah, Uswah.

Di usia yang masih relatif muda pula, ia sudah bisa mengajarkan teman-teman sebayanya ilmu yang ada di dalam buku-buku agama.

Keinginannya untuk terus memperdalam ilmu agama sangat kuat. Ia tidak puas jika hanya belajar dari ayah dan kakeknya. Pada usia 14 tahun, ia mulai berkelana dari satu pesantren ke pesantren lain untuk menimba ilmu.

Mula-mula ke Pondok Wonokoyo di Probolinggo, lalu Pondok Pesantren Langitan di Tuban, lanjut ke Pesantren Trenggilis di Semarang. Masih belum puas, kemudian ia melanjutkannya Bangkalan, Madura untuk berguru kepada Syaikhona Kholil. Hingga akhirnya singgah di Pesantren Siwalan, Sidoarjo dan dijadikan menantu oleh Kiai Ya’qub.

pesantren dan kiai hasyim asyari
Gambaran pendidikan di pondok pesantren pada masa lalu |Google Image/Pinterest

Hasratnya untuk memperdalam ilmu agama masih sangat besar. Meski sudah menghabiskan waktu bertahun-tahun berkelana ke banyak pesantren untuk menimba ilmu. Ia tetap melanjutkan pendidikannya dengan berangkat ke Makkah dan tinggal selama tujuh bulan di sana, lalu kembali ke tanah air untuk waktu yang tidak lama.

Pada tahun 1893, ia berangkat kembali ke tanah suci Makkah untuk melanjutkan pendidikannya dan bermukim di sana selama tujuh tahun. Selama di Makkah ia belajar dari banyak ulama terkenal.

Di antara ulama-ulama yang menjadi guru Kiai Hasyim adalah Syekh Ahmad Khatib Minangkabau, Syekh Nawawi Banten, Syekh Mahfudz at-Tarmisi (Pacitan), dan belasan ulama ternama lainnya.

Walaupun Kiai Hasyim berguru kepada banyak ulama, tapi hubungannya lebih dekat dengan Syekh Mahfudz at-Tarmisi. Syekh Mahfudz termasuk guru besar di Masjidil Haram.

“Syekh Mahfudz dikenal sebagai seorang isnad (mata rantai penghubung) pengajaran kitab Shahih Bukhari, yang menyambung kepada Imam Bukhari, pengarangnya,” dikutip dari Antologi NU.

Dari Syekh Mahfudz itulah, Kiai Hasyim mendapatkan ijazah untuk mengajar kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Sampai akhirnya Kiai Hasyim dikenal sebagai seorang ahli hadis.

Mendirikan Pesantren di Sarang Penjahat

Usai berguru dari banyak ulama di Arab Saudi, Kiai Hasyim pulang ke negerinya dengan membawa banyak ilmu agama. Bekal ilmunya ia amalkan dengan cara mengajar di pesantren milik kakeknya.

Setelah megajar di pesantren milik kakeknya, timbul keinginan untuk mendirikan pesantrennya sendiri. Namun, ketika hendak memilih lokasi untuk mendirikan pesantrennya. Ia tidak memilih lokasi yang biasa-biasa saja, tapi malah sebuah daerah yang terkenal merupakan sarang penjahat dan maksiat di Jombang.

Pesantren yang ia dirikan bernama Pondok Pesantren Tebuireng. Sebelum mendirikannya, “Ia menaklukkan jagoan dari daerah tersebut dengan cara yang cerdik setelah memahami kelemahannya,” dalam Buku Kedua: Tokoh Indonesia Teladan terbitan Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia (Kemendagri RI).

Di sana ia tidak hanya mendirikan pesantren, tapi juga memiliki sawah yang luas. Selain itu, Kiai Hasyim juga dikenal sebagai pedagang yang andal. Ia harus memastikan pesantrennya aman dari gangguan. Mengingat daerah berdirinya pesantren tersebut kala itu bukanlah lingkungan yang kondusif untuk menuntut ilmu agama.

Pesantren Tebuireng
Tempat mengaji santri di Pesantren Tebuireng pada tahun 1940an | Google Image/Jejakislam.net

Seiring berjalannya waktu, semakin banyak santri yang menuntut ilmu di Pesantren Tebuireng. Saat itu, Tebuireng merupakan pesantren yang tetap ramai meskipun di bulan Ramadan. Padahal, ketika Ramadan santri-santri biasanya pulang ke rumah masing-masing.

Namun, berbeda dengan di Tebuireng, di bulan Ramadan malah banyak santri dari daerah lain yang sengaja datang ke sana. Mereka bermaksud mendengarkan ceramah dan memperoleh ilmu dari Kiai Hasyim Asy’ari.

Kemajuan pesat yang dicapai Tebuireng membuatnya dengan cepat mendapat pengakuan dari pemerintah kala itu. Selain mempelajari ilmu agama, Kiai Hasyim juga mulai memasukan ilmu-ilmu umum yang wajib di pelajari santri-santrinya di sana.

Ia memasukan surat kabar dan majalah agar para santri dapat membacanya. “Tidak hanya itu, santrinya juga diharuskan untuk mepelajari bahasa asing lainnya, disamping Bahasa Arab,” dikutip dari Tokoh Indonesia Teladan.

Pada awal mula mendirikannya, Kiai Hasyim hanya memiliki 28 santri. Hingga kini, Pesantren Tebuireng masih eksis dan banyak melahirkan ulama-ulama penyebar agama Islam di Indonesia.

Nasionalisme Hadratussyekh

KH Hasyim Asy'ari
Hadratussyekh (maha guru) Kiai Haji Hasyim Asy’ari | Google Image/NU.or.id

Selain aktif mengajar di pesantrennya, Kiai Hasyim juga aktif dengan kegiatan lainnya. Tahun 1925 ia turut serta menyetujui pengiriman utusan ke Arab Saudi, yang dikenal dengan Komite Hijaz.

Berawal dari komite tersebut, akhirnya diputuskan untuk membentuk jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU) pada 16 Rajab 1344 H/31 Januari 1926. Kiai Hasyim dipilih menjadi pimpinan pengurus besar NU dengan gelar Rais Akbar dan semakin dikenal oleh banyak orang. Ia mulai memasuki dunia politik dalam lingkup nasional.

Bukanlah hal mudah bagi Kiai Hasyim bersama NU untuk menyatukan ulama-ulama yang memiliki sudut pandang berbeda. Menurutnya, perjuangan yang dilakukan sendiri-sendiri hanya akan memberi kesempatan penjajah untuk menghancurkan mereka.

Seruan-seruan dari Kiai Hasyim mengenai jihad dan mewaspadai adu domba sesama umat Islam mulai menimbulkan kekhawatiran bagi pemerintah Hindia Belanda. Mereka khawatir seruan Kiai Hasyim bisa mempengaruhi masyarakat untuk menentang pemerintah kolonial.

Kiai Hasyim adalah ulama yang tidak mau berkompromi pada penjajah, baik itu Belanda maupun Jepang. Pada masa penjajahan Belanda, sikapnya yang non kooperatif kerap membuat Belanda kelimpungan.

Berbagai cara dilakukan untuk membuat Kiai Hasyim mau tunduk kepada Belanda. Misalnya, Belanda pernah menangkapnya dengan tuduhan pembunuhan. Sebabnya, intel Belanda yang ditugaskan membuat kerusuhan di Pesantren Tebuireng tertangkap dan tewas di hajar massa.

Peristiwa itu dimanfaatkan Belanda untuk menangkap Kiai Hasyim. Namun, karena kepiawaiannya dengan hukum-hukum Belanda, ia mampu menepis semua tuduhan itu dan lolos dari jeratan hukum.

Belanda terus berusaha membuat Kiai Hasyim tunduk dengan cara-cara licik dan represif. Pernah juga Belanda mengirim beberapa kompi pasukan untuk memporak-porandakan pesantrennya. Akibatnya, hampir seluruh bangunan pesantren hancur dan banyak kitab-kitab yang terbakar.

“Perlakuan represif Belanda ini terus berlangsung hingga masa-masa revolusi fisik Tahun 1930an,” dikutip dari Alif.id.

Pada sekitar tahun 1935, Belanda mengubah taktiknya dengan menawarkan bantuan dan penghargaan dalam bentuk Bintang Perak atas jasanya di bidang pendidikan Islam. Namun, semuanya ditolak Kiai Hasyim.

Tidak putus asa, di tahun 1937, untuk kedua kalinya Kiai Hasyim didekati orang-orang suruhan Belanda dengan kembali memberi iming-iming anugerah bintang jasa. Namun, iming-iming itu lagi-lagi ditolak olehnya. Malahan Belanda dibuat gusar oleh fatwa Kiai Hasyim yang mengatakan bahwa perang melawan Belanda adalah perang suci (jihad).

Fatwa tersebut membuat Belanda kerepotan karena perlawanan gigih masyarakat muncul di mana-mana. Selain itu, Kiai Hasyim juga pernah mengharamkan naik haji dengan kapal Belanda. Akibatnya, banyak umat muslim yang telah mendaftarkan diri untuk berangkat haji mengurungkan niatnya.

Teladan Kiai Hasyim Asy'ari dan kiprahnya dalam melawan penjajah.
Keteladanan Kiai Haji Hasyim Asy'ari | GNFI

Kiprah Kiai Hasyim dalam melawan penjajah tidak berhenti sampai di situ. Pada saat Jepang menjajah Indonesia, ia juga secara terang-terangan menentangnya. Ia merupakan salah satu ulama yang menentang keras perintah seikerei (membungkukkan badan setiap pagi ke arah matahari terbit dengan tujuan menghormati Kaisar Jepang).

Karena penolakannya, ia ditangkap serdadu Jepang dan dijebloskan ke penjara selama beberapa bulan dengan tempat berpindah-pindah. “Dari penjara Jombang, Mojokerto, hingga penjara Bubutan Surabaya, bercampur dengan para tawanan sekutu,” seperti dikutip dari Antologi NU.

Jepang menyadari besarnya pengaruh yang dimiliki Kiai Hasyim, lalu memutuskan untuk membebaskan dan memanfaatkannya. Beberapa bulan kemudian, Kiai Hasyim diangkat menjadi Kepala Kantor Urusan Agama (Shumubu).

Ia menyadari bahwa Jepang ingin memanfaatkannya. Ia mulai menyusun strategi guna memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dengan memanfaatkan kedudukannya. Ia meminta Jepang yang saat itu tengah gencar membentuk organisasi militer dan semi-militer untuk melatih para santri.

Dari situ, Kiai Hasyim menyiapkan para santri untuk ikut terjun ke milisi Laskar Hizbullah dan Barisan Sabilillah yang diketuai oleh putranya Abdul Kholik. Laskar-laskar itulah pada waktu perjuangan melawan Belanda di masa revolusi ikut ambil bagian dalam usaha mempertahankan kemerdekaannya.

Sepak terjang Kiai Hasyim terus berlanjut dalam rangka memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Di antara kelebihan lain Kiai Hasyim adalah kemampuannya menyampaikan ajaran Islam dengan semangat nasionalisme dan kebangsaan. Ia mampu membuat jaringan intelektual di seluruh wilayah Nusantara, terutama Pulau Jawa.

Kiai Haji Hasyim Asy’ari merupakan salah satu tokoh modernisasi pesantren yang menginginkan bahwa pesantren tidak hanya mengajarkan ilmu agama. Namun juga bidang-bidang ilmu lain sesuai dengan perkembangan zaman.

Pada 25 Juli 1947/ 7 Ramadan 1366 H, Kiai Hasyim wafat di kediamannya di Jombang. Ia meninggalkan banyak karya dalam bentuk buku dan berjasa mendidik generasi muda untuk meneruskan perjuangannya.

Melalu pendidikan nasionalisme dan solidaritas umat yang diajarkan oleh Kiai Hasyim Asy’ari. Hingga sekarang, banyak dari kalangan santri yang menjadi tokoh nasional, salah satunya adalah cucunya sendiri, Kiai Haji Abdurahman Wahid (Gus Dur).

Berkat jasa-jasanya itu, maka Presiden Soekarno lewat Keputusan Presiden (Kepres) No. 294/1964 menetapkan KH. Muhammad Hasyim Asy’ari sebagai Pahlawan Nasional. Semoga sebagai generasi penerusnya, kita mamou meneruskan keteladanan yang diajarkan oleh Hadratussyekh Kiai Haji Hasyim Asy’ari.

Sumber: Antologi NU: Sejarah, Istilah, Amaliah, Uswah | Buku Kedua: Tokoh Indonesia Teladan terbitan Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia (Kemendagri RI) | Alif.id | Tirto.id | NU.or.id | Tebuireng.online | dan diolah dari berbagai sumber lainnya.

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga50%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi50%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
Sejarah Hari Ini (3 Mei 1985) - Tumbangkan Petinju Korsel, Ellyas Pical Harumkan Nama Indonesia Sebelummnya

Sejarah Hari Ini (3 Mei 1985) - Tumbangkan Petinju Korsel, Ellyas Pical Harumkan Nama Indonesia

Apakah TNI AL Perlu Mengoperasikan Kapal Induk? Selanjutnya

Apakah TNI AL Perlu Mengoperasikan Kapal Induk?

Pandu Hidayat
@armandu

Pandu Hidayat

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.