Bunga Bangkai Mekar Kembali dan Mengenal Perbedaannya dengan Rafflesia Arnoldi

Bunga Bangkai Mekar Kembali dan Mengenal Perbedaannya dengan Rafflesia Arnoldi
info gambar utama

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengumumkan bunga bangkai atau amorphophallus titanum kembali mekar di Kebun Raya Cibodas, Cianjur, Jawa Barat pada Sabtu (2/5/2020).

“Mekarnya bunga bangkai kali ini memiliki keunikan tersendiri yang berbeda dengan peristiwa mekar bunga pada individu yang lain dan pada individu yang sama,” ujar Destri, peneliti Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Cibodas, LIPI, dikutip dari akun Instagram, @lipiindonesia.

Keunikannya, kata Destri, adalah bunga tersebut berbunga tanpa melewati masa dorman, yang artinya sudah mekar sebelum daun terakhir benar-benar habis atau membusuk. Tidak seperti biasanya, tunas bunga langsung muncul pada awal tahun ini. Bunga bangkai tersebut memiliki tinggi 352 sentimeter (cm) dan memiliki diameter mekar bunga 166 cm.

Mekarnya amorphophallus titanum di tahun 2020 ini, menjadi peristiwa mekar bunga yang keenam dari individu yang sama. Pertama kali individu ini mekar pada tahun 2003. Sebelumnya, individu ini terakhir kali mekar pada 2017 lalu.

Sebagai informasi, koleksi bunga bangkai di Kebun Raya Cibodas LIPI berasal dari Sungai Manau, Batang Suliti, Kawasan Nasional Kerinci Seblat, Sumatera Barat. “Dikoleksi oleh mendiang Subekti Purwantoro dan kawan-kawan. Umbinya ditanam di Kebun Raya Cibodas LIPI pada tahun 2000,” seperti dikutip dari akun Instagram @lipiindonesia.

Masih Banyak yang Keliru

Perihal bunga bangkai ini, masih banyak orang yang keliru karena menyamakannya dengan bunga rafflesia arnoldi. Hal itu disebabkan, oleh ukuran yang sama besar dan juga sama-sama mengeluarkan bau bangkai. Bahkan di buku pelajaran sekolah, kerap terjadi kesalahan penyebutan bunga bangkai untuk bunga rafflesia.

Dikutip dari Nationalgeographic.grid.id, menurut Yuzami, peneliti di Pusat Konservasi Tumbuhan (PKT) Kebun Raya-LIPI, yang disebut bunga bangkai adalah tumbuhan amorphophallus titanum ini.

Nama amorphophallus titanum yang disematkan untuk bunga bangkai diambil dari Bahasa Yunani. Amorphos artinya tidak berbentuk (rusak) dan phallos berarti kelamin laki-laki (penis). Sementara titan artinya besar.

Bunga ini memang memiliki ukuran yang lebih besar dibanding tanaman dari jenisnya yang lain. Ia bisa tumbuh hingga empat meter. Hal itulah yang membuat amorphophallus titanum mendapat julukan bunga bangkai raksasa. Tanaman ini berasal dari suku talas-talasan (Aracea).

Sedangkan bunga rafflesia atau dalam Bahasa Latin dikenal dengan rafflesia arnoldi (padma raksasa) merupakan tumbuhan parasit yang hidupnya menempel pada akar atau batang tumbuhan inangnya.

“Inangnyalah yang memberikan ia makan, minum, dan tempat berbiak,” kata Sofie Mursidawati, MSc, peneliti LIPI seperti dikutip dari LIPI.go.id.

Bunga raflesia tidak mempunyai batang dan daun, karena memang tidak memerlukannya. Ia berkembang biak melalui biji yang dihasilkan oleh bunga betina.

Dalam bunga raflessia, bunga jantan dan betina tidak terdapat dalam satu tumbuhan yang sama. Terkadang malah tumbuh berjauhan, sehingga dibutuhkan serangga untuk membantu mengantarkan serbuk sari dari bunga jantan ke bunga betina.

Bau menyengat yang dikeluarkannya, dipakai untuk mengundang serangga agar membantu proses penyerbukan. Mengenai masa pertumbuhannya, Rafflesia membutuhkan waktu 21 bulan untuk tumbuh, mulai dari munculnya kuncup sampai mekarnya bunga.

Ironisnya, meski membutuhkan waktu yang relatif lama untuk berbunga. “Raflessia hanya mekar selama lima hari,” kata Sofie.

Biji rafflesia, tambahnya, berjumlah ribuan dengan ukuran sangat kecil dan halus seperti pasir. Ia hanya bisa dilihat dengan bantuan mikroskop. Sedangkan bunga bangkai, bijinya berjumlah ratusan dengan ukuran 2-4 cm. Ia akan berwarna merah bila telah matang.

perbedaan bunga bangkai dan rafflesia arnoldi
info gambar

Bunga bangkai (amorphophallus titanum) yang masuk dalam jenis talas-talasan (aracea), tidak memerlukan inang karena bisa hidup sendiri. Tumbuhan ini memiliki umbi, batang, dan daun yang mampu menyuplai makanannya sendiri.

Mengenai cara berkembang biaknya, bunga bangkai menggunakan biji, umbi dan daunnya. Bunga jantan dan betina terdapat dalam satu tumbuhan. Akan tetapi bunga betinanya matang lebih dulu daripada bunga jantannya. Hal tersebut menyebabkan bunga jantan tidak dapat menyerbuki bunga betina.

Itu berarti diperlukan lebih dari satu bunga supaya bunga betinanya dapat diserbuki oleh bunga jantannya lewat bantuan serangga.

Pemberian nama bunga bangkai karena bunga ini mengeluarkan bau menyengat yang tak sedap. Bau tak sedap yang dihasilkannya, mengundang serangga agar membantunya dalam proses penyerbukan.

Jika rafflesia membutuhkan waktu selama 21 bulan untuk tumbuh dan mekar. Bunga bangkai memerlukan waktu satu hingga tiga bulan mulai dari munculnya kuncup sampai bunganya mekar. Waktu mekarnya pun lebih lama daripada rafflesia.

"Kalau rafflesia dapat bertahan sampai lima hari, bunga bangkai mekar sempurna hanya membutuhkan satu hari saja, tapi masih bisa bertahan sampai tujuh hari sebelum terkulai layu," kata Sofie.

Kurang lebih begitu perbedaan yang cukup signifikan antara bunga bangkai (amorphophallus titanum) dan bunga rafflesia arnoldi. Semoga tidak ada yang tertukar lagi di antara keduanya, ya.

Berkaitan dengan kembali mekarnya bunga bangkai di Kebun Raya Cibodas LIPI. Banyak pihak berharap agar kelestarian tumbuhan endemik Indonesia itu dapat terjaga, sehingga keberadaannya bisa tetap ditemukan oleh generasi penerus kelak.

Sumber: IG @lipiindonesia | Lipi.go.id | Nationalgeographic.grid.id | Antaranews.com | Minews.id

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini