Meriam Kapal Hitam Amerika di Teluk Edo, dan Kunci Modernitas Jepang

Meriam Kapal Hitam Amerika di Teluk Edo, dan Kunci Modernitas Jepang

Samurai @ shutterstock.com

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Pada Rabu pagi hari, 8 Juli 1853, Komodor Matthew Perry dari Angkatan Laut AS berlayar ke Teluk Edo, di Jepang dengan dua kapal uap dan dua kapal layar yang berwarna hitam, di bawah komandonya. Dia mendaratkan skuadron pelaut dan marinir yang bersenjata lengkap; lalu memindahkan salah satu kapalnya dengan gesit ke pelabuhan, agar banyak orang bisa melihat ukuran ke’angkeran’ kapal perang tersebut. Komodor ini punya misi. Ia membawa surat dari Presiden AS waktu itu, Millard Fillmore kepada Kaisar Jepang, dan menuntut agar Jepang menandatangai perjanjian dengan AS untuk membuka pelabuhan mereka untuk perdagangan Amerika dan dunia barat. Saat itu, negara-negara imperialis barat sedang mencari pasar-pasar baru untuk memasarkan produk-produknya, juga untuk mencari bahan baku industri barat.

"Kunjungan" Perry | Wilhelm Heine - http://ids.si.edu/ids/deliveryService?id=NPG-8200262B_1

Perry dan armadanya bisa saja memaksa Jepang segera menyetujui tuntuan Presiden AS melalui tekanan militer. Saat itu, kekaisaran Jepang tidak punya angkatan laut. Melihat kapal-kapal uap yang besar adalah hal baru sekaligus mengerikan bagi orang Jepang kala itu. Perry memahami sekali hal tersebut. Saat kapal-kapal hitam itu pergi, Perry memerintahkan kapalnya untuk menembakkan meriam mereka ke udara. Suara dari kejauhan itu menggelegar. Mengejutkan penduduk Edo (kini Tokyo). Di pelabuhan, orang-orang ketakutan: "Kedengarannya seperti guntur di kejauhan," tulis seorang penulis buku kontemporer pada saat itu, "dan gunung-gunung menggemakan kembali suara tembakan. Sangat mengerikan hingga orang-orang di Edo ketakutan. ”

Komodor Matthew Perry

Tapi suara menggelegar dari meriam-meriam Kapal Hitam AL AS tersebut bukanlah satu-satunya yang menakutkan bagi Jepang. Ekspedisi Perry tersebut juga begitu dikenal karena berhasil meyakinkan para petinggi kekaisaran Jepang bahwa sistem politik, pertahanan, dan teknologi mereka tidak mampu mengatasi ancaman-ancaman baru di dunia. Sebelumnya, orang Jepang di pulau mereka yang terpisah dari daratan Asia merasa aman, para penguasa Jepang telah diyakinkan selama beberapa dekade keunggulan budaya mereka. Jepang itu unik, istimewa, tanah air para dewa, menurut mereka. "Posisi Jepang, di puncak bumi, menjadikannya standar bagi negara-negara di dunia," pemikir nasionalis Jepang Aizawa Seishisai hal ini kira-kira tiga dekade sebelum kedatangan Perry. Tetapi kapal uap dan suara Meriamnya mengubah semua itu.

Tiba-tiba, Jepang menyadari bahwa budaya mereka, sistem politik mereka, dan teknologi mereka sudah ketinggalan zaman. Para pemimpin samurai-prajurit dan budaya kehormatan mereka tidak mampu bersaing di dunia yang didominasi oleh sains.

Setahun kemudian, Jepang menyetujui traktat perdagangan dengan Amerika Serikat. Dan pada tanggal 31 Maret 1854, Konvensi (Persetujuan) Kanagawa ditandatangani. Konvensi inilah yang kemudian digunakan AS untuk memaksa dibukanya pelabuhan-pelabuhan Jepang di Shimoda dan Hakodate kepada Amerika Serikat dan mengakhiri kebijakan tertutup Jepang yang telah berjalan lebih dari dua abad.

Konvensi ini juga menjamin keselamatan kapal Amerika yang karam dan mendirikan kedutaan Amerika yang permanen. Yang terjadi selanjutnya adalah periode pengaruh Barat yang akan mengubah Jepang selamanyaa. Banyak orang Jepang yang kemudian mengesampingkan tradisi kuno demi ide-ide yang lebih modern, meskipun banyak juga yang ingin mempertahankan cara-cara lama.

Hingga datanglah tahun 1868, yang merupakan tahun yang sangat penting dalam sejarah Jepang. Di tahun itu, struktur dasar pemerintahan feudal, yang kita kenal sebagai Keshogunan atau pemerintahan militer, berpusat di kota Edo. Pada 1868, kota itu berganti nama menjadi Tokyo. Sementara itu sang Kaisar, berada di kota Kyoto, yang menjadi ibukota Jepang, sampai tahun 1868.

Kaisar memang tidak memiliki kekuasaan absolut. Pemerintah militer (keshogunan) lah yang menjalankan pemerintahan. Dan itu adalah pemerintahan feudal di Jepang jala itu. Sistem ini juga berlaku menurun di seluruh negeri, dan sudah berlangsung lebih dari 250 tahun. Pada tahun tahun itu, di bawah tekanan dari Barat, dan di bawah tekanan dari Jepang, sistem tersebut runtuh.

Kaisar Meiji | Wikimedia.com

Muncullah kemudian Restorasi Meiji, yang merupakan revolusi politik yang mengakhiri kekuasaan Keshogunan Tokugawa dan mengembalikan kekuasaan negara kepada pemerintahan kekaisaran di bawah Mutsuhito (Kaisar Meiji). Restorasi yang dimulai pada tahun 1868 ini menandai titik balik sejarah Jepang pada abad modern. Banyak sejarawan membandingkan peristiwa tersebut dengan Revolusi Prancis 1789 dan Revolusi Bolshevik 1917 di Rusia.

Di periode ini, timbul kesadaran bersama bahwa Jepang perlu dengan memodernisasi diri dengan cara yang mirip dengan Barat, karena mereka menyadari Barat sangat kuat. Orang Jepang memang, waktu itu, tidak menghormati budaya, agama, maupun masyarakat barat, namun mereka paham, secara politis dan militer, negara-negara Barat jauh lebih kuat dari Jepang. Dan modernisasi Jepang pun dimulai pada akhir abad 19.

Para pemimpin Restorasi melakukan serangkaian langkah cepat untuk membangun kekuatan nasional di bawah institusi kapitalis dan dengan cepat mendorong Jepang menuju kekuatan regional dan dunia.

Di Jepang, ada upaya nasional yang serius kontinyu dan seriys untuk mencapai tingkat modernisasi dan kapasitas militer yang diinginkan. Kekayaan dan kekuatan, itulah masalahnya, kekayaan dan kekuatan. Itu rumus Jepang. Kekayaan nasional dapat mengarah pada kekuatan nasional. Dan kemudian kekuatan nasional dapat meningkatkan kekayaan nasional.

Ini sudah mandarah daging dalam benak banyak orang Jepang.

Peluncuran Hikari, kereta cepat pertama di dunia | Britannica

Jepang yang terkenal pekerja keras, bekerja cepat, tak cepat puas, pun tak terbendung menjadi kekuatan baru dari Asia. Meskipun Perang Dunia II sempat meruntuhkan ambisi Jepang dan menunda kemajuannya, mereka tak perlu waktu lama kembali bangkit. Hanya 19 tahun pasca Jepang luluh lantak karena perang, Negeri Matahari Terbit itu mengejutkan dunia dengan meluncurkan kereta api tercepat di dunia, Hikari, yang menghubungkan Tokyo dan Osaka, dua kota terbesar di Jepang. Tepatnya bulan Oktober 1964. Yang sebelumnya makan waktu sehari penuh, kereta peluru ini hanya perlu 4 jam perjalanan. Kereta cepat ini diluncurkan seiring dengan dimulainta pelaksanaan Olimpiade 1964 yang berlangsung di Tokyo.

Olimpiade Tokyo 1964 | Olympic.org

Sejak itulah, kepercayaan diri bangsa Jepang bangkit dan menebal. Berturut-turut, sektor elektronik, otomotif, dan industri berat negara tersebut mulai membanjiri pasar-pasar dunia, dan masuk ke rumah-rumah jutaan orang.

Lalu, apa sebenarnya rahasia Jepang, begitu cepat mengejar ketertinggalan, dari sebuah negara yang tertutup dan terbelakang secara teknologi, menjelma menjadi negara no.1 di dunia?

Setelah terjadinya serangkaian reformasi politik dan sosial di Jepang yang diinisiasi oleh Kaisar Meiji, negara tersebut mulai mengenalkan kewajiban bagi semua orang untuk mendapatkan Pendidikan. Pemerintah Meiji mereformasi sistem pendidikan meniru Perancis dan kemudian meniru sistem Pendidikan Jerman. Fokus Pendidikan Jepang di era itu adalah mengindentifikasi ketinggalan-ketinggalan Jepang terhadap bangsa barat, dan cara bagaimana mereka mengejarnya. Pendidikan kedisiplinan mendapatkan prioritas tinggi, karena, menurut pemerintah waktu itu, orang yang berpendidikan tinggi, cerdas, dan disaat yang sama di disiplin, adalah kunci bagi Jepang mengejar ketertinggalan, dan mengungguli bangsa lain.

Selain itu, bagi Jepang, mengejar ketinggalan secara militer adalah prioritas utama. Era itu adalah era imperialisme Eropa dan Amerika Serikat. Hal ini ini didorong oleh perjanjian yang memalukan dan tidak setara antara Jepang dengan AS, yang terpaksa dituruti karena inferioritas militer mereka dibandingkan dengan militer AS (dan barat). Angkatan Perang Jepang dibangun dengan meniru system militer Prusia (kini Jerman) dan angkatan lautnya mengikuti sistem armada laut Inggris.

Untuk mengubah ekonomi dari yang negara agraris menjadi negara industri maju, Jepang mengirim para ilmuwannya untuk belajar ilmu pengetahuan dan bahasa Barat, sementara ilmuwan-ilmuwan dari seluruh dunia diundang untuk mengajar di Jepang. Pemerintah Jepang juga banyak berinvestasi dalam pekerjaan umum seperti transportasi kereta api dan jaringan komunikasi.

Meskipun miskin sumber daya alam, tapi Jepang mampu memanfaatkan keunggulannya memproduksi Sutra untuk diekspor. Di akhir abad 19, ekspor sutra ke Eropa mencapai 40% dari total ekspornya. Selain itu, teh Jepang juga dikenal khas dan laris di pasar Eropa. Hasil dari ekspor ini kemudian digunakan Jepang untuk berinvestasi di bidang industry dalam negeri. Jepang mulai membeli mesin-mesin pemintal benang. Tujuannya adalah untuk mengakhiri ketergantungan kebutuhan tekstil dari negara-negara luar. Anggaran negara mereka pakai untuk mengimpor barang-barang modal (misalnya mesin dan bahan baku yang tak bisa didapatkan di Jepang), bukan untuk mengimpor barang-barang kebutuhan sehari-hari. Dan ini berhasil. Di awal abad 20, kegigihan Jepang di sektor ini saja, mampu menjadikannya negara dengan industry tekstil terbesar di dunia.

Ini juga yang menginspirasi Jepang untuk ‘mengambil alih’ dominasi negara-negara barat akan beberapa produk, misalnya Motor Inggris, Jam Swiss, Mobil dari Jerman atau AS. Semuanya bisa diproduksi oleh Jepang pada akhirnya. Dan hal ini, diinisiasi di masa Kaisar Meiji.

Ketika perdagangan internasional meningkat, maka perbankan Jepang juga menggeliat hebat. Jepang juga menjelma menjadi salah satu pusat finansial Asia dan dunia di era modern. Berturut-turut, Jepang juga mengejar ketertinggalan di bidang teknologi transportasi, komunikasi, dan sektor lain.

Periode-periode kemajuan Jepang, adalah periode-periode sejarah yang penuh dengan kisah yang bisa kita ambil hikmah. Meski begitu, perlu juga kita menoleh jauh ke belakang, Jepang yang begitu maju dan kayanya seperti yang kita kenal saat ini, menjadi seperti itu, karena 1.5 abad yang lalu, bangsa Jepang sadar, bahwa mereka tertinggal. Kesadaran kolektif yang kemudian dihimpun menjadi kekuatan kolektif, usaha kolektif, dan kebanggan kolektif.

Meriam Perry yang menggelegar di Teluk Edo 1.5 abad lalu, telah membangun semangat bersama bangsa Jepang, bahwa perubahan besar harus dimulai, jika tak ingin terus tertinggal.

===

Referensi:

Applebaum, A. (2020, March 20). The Coronavirus Called America's Bluff. Retrieved from https://www.theatlantic.com/ideas/archive/2020/03/coronavirus-showed-america-wasnt-task/608023/

The Era of Modernization in Japan. (n.d.). Retrieved from https://www.facinghistory.org/resource-library/video/era-modernization-japan

Thomson, S. (n.d.). 5 Japanese innovations that changed the world. Retrieved from https://www.weforum.org/agenda/2016/10/5-japanese-innovations-that-changed-the-world/

Sumikawa, S. (1999). The Meiji Restoration: Roots of Modern Japan. Asia 163, Work Paper, 1-18.

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi100%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
Indeks Pembangunan Manusia Menurut Provinsi di Indonesia (2010-2019) Sebelummnya

Indeks Pembangunan Manusia Menurut Provinsi di Indonesia (2010-2019)

Apakah TNI AL Perlu Mengoperasikan Kapal Induk? Selanjutnya

Apakah TNI AL Perlu Mengoperasikan Kapal Induk?

Akhyari Hananto

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.