Sugeng Tindak Maestro Campur Sari, Selamat Jalan Didi Kempot

Sugeng Tindak Maestro Campur Sari, Selamat Jalan Didi Kempot
info gambar utama

Entah ada apa dengan tahun 2020 ini, rasanya awan hitam terus-menerus merundungi Tanah Air. Belum kering air mata kita atas berpulangnya sang “Dewa Lagu Cinta” Glenn Fredly. Musisi, komposer, dan eks bassist grup band Dewa 19, Erwin Prasetya, Sabtu (2/5/2020) lalu juga baru saja meninggal dunia. Tambah lagi dengan pandemi Covid-19 yang belum juga usai.

Pagi ini, Selasa (5/5/2020), baru saja lewat waktu terang tanah, kabar duka kembali menyelimuti langit Tanah Air. ‘The God Father of Broken Heart’ Didi Kempot meninggal dunia di Rumah Sakit Kasih Ibu, Solo, Jawa Tengah pada pukul 07.45 WIB di usia 53 tahun.

Kabar mengenai meninggalnya Lord Didi--sapaan akrab Sobat Ambyar [penggemarnya] kepadanya-- tentu saja membuat banyak pihak terkejut. Pasalnya, Didi Kempot diketahui tidak memiliki riwayat penyakit berat apapun.Bahkan, menurut Lilik, kakak kandungnya, sebelum meninggal ia masih beraktivitas seperti biasa.

Dikutip dari wawancara di KompasTV, Wali Kota Solo, FX Hadi Rudyatmo, misalnya, mengaku sangat terkejut dengan kabar kepergiannya. Katanya, baru-baru ini, ia bersama Didi Kempot masih sempat berbincang-bincang soal lagu barunya yang berjudul Ojo Mudik. Di lagu itu, Didi Kempot dan FX Rudy mengimbau kepada masyarakat untuk menahan diri dulu agar tidak pulang ke kampung halaman demi memutus rantai penularan Covid-19.

Tidak hanya Wali Kota Solo, Pemimpin Redaksi Kompas TV, Rosiana Silalahi yang dihubungi via telepon juga menangis ketika mendengar kabar kepergian Didi Kempot. Sambil mencoba menahan tangisnya, Rosi mengenang sosok Didi Kempot sebagai seorang yang rendah hati, ikhlas, dan senang membantu sesama.

Sebelumnya, Didi Kempot pernah menggalang donasi untuk membantu masyarakat yang terdampak pandemi Covid-19. Penggalangan donasi tersebut, bertajuk “Konser dari Rumah” yang diselenggarakan di Kompas Tv pada Sabtu (11/4/2020).

Rosi yang kala itu menjadi pemandu acara, mengenang sosok Didi Kempot sebagai seniman yang tidak pernah bertanya akan memperoleh apa, saat diajak menggelar konser amal tersebut. “Sama sekali tidak ada pikiran Mas Didi dapat apa, ngga ada biaya apapun untuk pribadi,” ujarnya sambil menahan tangis.

Ia ikhlas membantu masyarakat yang terdampak Covid-19 tanpa pamrih. Padahal, konser amal itu berhasil menggalang dana sebesar Rp7,6 miliar.

“Donasi tersebut telah disalurkan ke empat lembaga yakni Laziz NU, Laziz Muhammadiyah, Jaringan Lintas Iman untuk Covid (JIC), dan Sobat Ambyar,” dikutip dari Kompas.com.

Lain lagi dengan Gofar Hilman, penyiar radio dan presenter yang pernah mewawancarai Didi Kempot dalam program Ngobam (Ngobrol Bareng Musisi) di channel Youtube-nya. Baginya, kehilangan sosok Didi Kempot adalah kehilangan sebuah kultur. “Kita bangga mendengarkan punk, metal, rock tapi ketika patah hati kita mendengarkan lagu Cidro,” kata Gofar.

Mengenang sosok Didi Kempot adalah mengingat tentang kesederhanaan yang selalu dicontohkannya. Gofar menceritakan bagaimana seorang Didi Kempot yang tidak pernah merasa menjadi seorang legenda, “padahal namanya sudah begitu besar,” ujarnya.

Ia ingat Didi Kempot pernah menanyakan padanya, “untuk apa artis ibukota mau menemui dan membuat acara dengan seniman udik sepertinya?”

Lho Mas Didi ini legend,” kenang Gofar, “tapi ia sendiri tidak pernah menyadarinya.” Begitu rendah hati dan sederhananya sosok Didi Kempot di mata Gofar Hilman.

Padahal karya-karyanya sudah sangat banyak dan dinikmati masyarakat Indonesia dari berbagai kalangan. Dalam wawancaranya dengan Gofar, ia mengaku sudah menciptakan sekitar 700-800 lagu sepanjang karirnya. “Kadang-kadang saya sendiri lupa pernah membuatnya,” aku Didi.

Tembang-tembang hits hasil tangan dinginnya antara lain Stasiun Balapan, Cidro, Kalung Emas, Sewu Kuto, Suket Teki hingga Pamer Bojo yang baru-baru ini populer dan banyak di-cover penyanyi lain.

Sementara untuk penghargaan jangan ditanya lagi. Sudah banyak penghargaan yang ia raih. Mulai dari Anugerah Musik Indonesia, Indonesia Dangdut Awards hingga penghargaan internasional pun sudah diraihnya.

Pada tahun 2013 lalu, Didi Kempot pernah dinyatakan sebagai “The Most Popular Singer in Suriname”. Penghargaan tersebut disampaikan oleh Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Suriname, Soewarto Moestadja, berdasarkan anugerah musik nasional yang banyak dimenangkan oleh penyanyi bernama asli Dionisius Prasetyo itu.

Didi Kempot meninggal dunia
info gambar

Kenangan Pribadi

Sementara untuk saya sendiri, maestro campur sari yang lahir di Surakarta, 31 Desember 1966 itu, merupakan sosok yang karyanya banyak menemani momen suka dan duka saat menempuh pendidikan di Semarang, Jawa Tengah.

Kala itu, bersama teman-teman yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, saya kerap memutar lagu Pakdhe Didi--sebutan kami untuknya--saat sedang berkumpul atau mengerjakan tugas kuliah. Meski lirik-liriknya bernuansa patah hati, sulit rasanya mengendalikan badan agar tidak bergoyang, kalau sudah mendengarkan alunan tembang-tembangnya.

Terkadang, nuansa patah hati yang harusnya dipenuhi kesedihan. Seketika hilang, berubah menjadi suasana riang gembira saat lagu-lagu Pakdhe Didi sudah diputar. Karya-karyanya seakan selalu membawa pesan, “patah hati itu bukan untuk ditangisi tapi dijogeti”.

Kini, Lord Didi telah dipanggil lebih dulu. Sebagai salah seorang penggemarnya, saya tidak akan menulis daftar karya dan penghargaan yang telah diraihnya. Sebab, hal itu sudah banyak tersebar di berbagai situs berita dan media massa lain.

Akan tetapi saya akan mengajak Kawan GNFI untuk mengucapkan selamat jalan melalui lirik-lirik lagunya yang menyayat hati.

(Kalung Emas[2013]) Loro atiku, atiku ke loro-loro... Sakitnya hatiku, sesakit-sakitnya mengingat engkau telah pergi lebih dulu. Meninggalkan kami yang akan sangat merindukan karya-karyamu. Lirik-lirik menyayat hati, tapi dibungkus alunan campur sari yang membuat kami senantiasa bergoyang.

(Kalung Emas[2013]) Rasane nganti tembus neng dodo... Meskipun kepedihan karena kehilanganmu terasa hingga menembus ke dalam dada. Namun kami akan ikhlas mengantarkanmu dengan barisan doa dan ucapan terima kasih atas semua dedikasimu dalam mengangkat dan melestarikan kebudayaan lokal.

(Kalung Emas[2013]) Nangisku iki mergo kowe sing jalari... Tangis dan air mataku ini memang karena kepergianmu. Namun akan kami relakan kepergianmu dengan ucapan “daa..daa…daa.. sayaang.. daaa…selamat jalan” seperti dalam tembang Stasiun Balapan (1999), karya fenomenalmu.

Selamat jalan maestro campur sari Dionisius Prasetyo alias Didi Kempot alias Lord Didi alias Pakdhe Didi alias Bapak Patah Hati Nasional alias The Godfather of Broken Heart (31 Desember 1966-5 Mei 2020).

Kami akan selalu mengenang dedikasi dan karyamu. Kami doakan, semoga Tuhan menerima amal ibadahmu dan menempatkan dirimu di tempat terbaik di sisi-Nya.

Sumber: Kompas TV | Kompas.com |Antaranews.com

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini