Tradisi Membangunkan Sahur Kala Ramadan

Tradisi Membangunkan Sahur Kala Ramadan
info gambar utama

Salah satu tradisi Ramadan yang selalu ditunggu-tunggu anak muda adalah kegiatan membangunkan sahur. Biasanya kegiatan tersebut dilakukan secara berkelompok sambil berkeliling membawa alat-alat seadanya untuk membuat bebunyian.

Sambil berteriak “sahur…sahur…sahur…” para pemuda membunyikan berbagai alat sederhana yang mereka bawa. Ada yang membawa beduk, panci, galon air mineral, baskom, botol atau apapun saja yang penting bisa menghasilkan bunyi.

Beberapa waktu lalu, viral di media sosial sekumpulan anak muda yang membangunkan sahur dengan cara yang unik. Mereka mengumandangkan syair-syair berbahasa lokal dengan menggunakan pengeras suara di masjid. Mereka adalah para pemuda dari Masjid Al-Furqon, Gampong Beurawe, Kuta Alam, Banda Aceh.

Paduan syair berbahasa lokal, suara merdu, dan irama khas kampung halaman, membuat masyarakat yang dibangunkan merasa senang, bukannya malah terganggu. Budaya membangunkan sahur di Gampong Beurawe sebenarnya sudah berlangsung sejak lama. Namun, untuk tradisi unik yang satu ini, mulai ada sejak sebelas tahun lalu.

Awalnya, kata Badrun Nafis (32), penggagasnya, masyarakat kurang senang dengan cara para remaja itu membangunkan sahur. Masyarakat merasa terganggu karena mereka membangunkan sahur dengan gurauan.

Bukannya mereka mendapat pujian karena berniat baik membangunkan sahur. Masyarakat malah marah dengan kelakuan mereka yang kekanak-kanakan seperti itu. “Ditegur, kami yang tidur di masjid kena imbasnya,” kata Badrun, dikutip dari Liputan6.com.

Karena protes warga tersebut, akhirnya Badrun yang saat itu anggota remaja masjid, diminta pembina untuk mencari cara lain agar tradisi membangunkan sahur tetap bisa dilakukan, tapi warga tidak marah.

Badrun yang merupakan lulusan Bahasa dan Sastra Arab itu memutar otak guna mencari cara yang lebih santun dan bisa diterima masyarakat. Lalu, muncul ide dalam benaknya, ia mengusulkan untuk menggunakan syair. “Jadi, saya bilang, apa kita pakai syair? Jadi kita ciptakan, tapi jangan saya yang bawakan, ada kawan saya yang bersuara merdu. Syair saya tulis malam itu juga,” tutur Badrun.

Badrun bersama remaja masjid lainnya mencoba melantunkan syair yang mereka buat untuk membangunkan sahur. Awalnya mereka pun merasa cemas, apakah cara ini akan diterima atau diprotes lagi?

Ternyata, warga sekitar merespon positif hasil kreativitas Badrun dan kawan-kwannya. “Eh, kok beda? Kok udah bagus? Akhirnya, kami tambah semangat, besok malamnya semakin ramai, dari awalnya cuma empat sampai lima orang,” kata Badrun yang kini menjabat sebagai pembina Masjid Al-Furqon.

Lirik dan Irama Khas Kampung Halaman

Mungkin yang membuat warga tidak protes mendengar syair yang dilantunkan Badrun dan kawannya karena irama yang digunakan adalah alunan khas kampung halaman mereka. Hal itu membuat warga merasa familier.

Irama semacam itu kerap dikumandangkan di kampung-kampung yang ada di Aceh menjelang perayaan maulid. Ketika digelar perayaan maulid, ada sebuah tradisi yang disebut dike. Dike biasanya dilakukan di masjid-masjid sambil menunggu hidangan kenduri yang akan dibagi-bagikan.

Prosesi dike biasanya dilakukan dengan posisi duduk--kadang berdiri--dua barisan atau lingkaran, diiringi lantunan selawat yang berirama khas budaya setempat. Sambil melantunkan selawat, disertai pula pembacaan syair secara bersama-sama, saling berbalas rima dipadukan dengan gerakan badan serta kepala yang lincah.

Nah, cara Badrun dan kawan-kawannya membacakan syair buatannya, persis seperti lantunan selawat dan syair-syair dalam prosesi dike. Mungkin hal tersebut yang membuat masyarakat menerimanya.

Untuk lebih mengetahuinya, berikut potongan syair hasil kreativitas Badrun yang sampai saat ini masih digunakan oleh remaja Masjid Al-Furqon, Gampong Beurawe, Kuta Alam, Banda Aceh.

Hai ibu bapak, ibu bapak, ibu bapak/

Hai kajeut bedoh(Ini waktunya bangun)

Watee ka sahoe(Waktunya sahur)/Watee ka sahoe(Waktunya sahur).

Hai ibu bapak yang mantong tenget (Ibu bapak yang masih tidur)

Hai kajeut bedoh watee ka sahoe (Sudah bisa bangun, ini waktunya sahur)

Ta pe suum bu pe suum kuah(Segera panaskan nasi serta sayur)

Ngat jeut ta pajoeh ngon keluarga (Biar segera bisa dinikmati bersama keluarga).

Tidak Hanya di Aceh

tradisi membangunkan sahur
info gambar

Tradisi membangunkan sahur tidak hanya ada di Aceh. Daerah-daerah lain di Indonesia pun memiliki tradisi serupa meskipun dengan cara dan sebutan yang berbeda-beda.

Di wilayah pantai utara Jawa (pantura) misalnya, masyarakat menyebut tradisi membangunkan sahur dengan sebutan komprekan. Geser sedikit ke Kabupaten Majalengka, komprekan berubah istilah menjadi ngoprek. Sedangkan di Cirebon, walau wilayahnya tidak terlampau jauh, masyarakat di sana menyebutnya obrok-burok.

Sementara itu, di Jawa Timur, tradisi serupa disebut tektekan. Di Semarang, Jawa Tengah istilah itu berubah menjadi dekdukan. Tidak berhenti sampai di Jawa, di Gorontalo, ada tradisi serupa yang disebut tumbilotohe.

Di ibu kota Jakarta sendiri, masyarakat Betawi juga memiliki tradisi untuk membangunkan orang sahur. Menariknya, meskipun caranya sama, yaitu dengan cara menabuh beduk dan memukul barang-barang lain seadanya. Namun, di setiap wilayah menyebutnya dengan istilah berbeda.

Untuk masyarakat Betawi di daerah Joglo, Palmerah, Rawabelong, Condet, Buncit, hingga ke wilayah Tangerang, tradisi itu dikenal dengan istilah ngarak bedug. Sedangkan untuk masyarakat Betawi yang tinggal di daerah timur Jakarta, seperti Bekasi, sering menyebutnya dengan istilah beduk saur.

Bila menilik sejarahnya, ngarak beduk atau beduk saur sudah dilakukan sejak lama. Dikutip dari Republika.co.id, pada waktu wilayah Jakarta masih diselimuti hutan dan rawa-rawa, bunyi beduk tak hanya jadi penanda waktu sahur, tapi juga waktu berbuka puasa.

Tradisi serupa dengan Istilah-istilah lain juga masih banyak kita jumpai di daerah lain di Indonesia. Di Kuningan, tradisi itu disebut ubrug-ubrug; di Salatiga Jawa Tengah disebut percalan; di Kalimantan Selatan (Kalsel) dikenal dengan bagarakan sahur. Bahkan, Pemprov Kalsel rutin menyelenggarakan festival bagarakan setiap tahunnya.

Indonesia memang kaya akan tradisi, setiap daerah memiliki caranya sendiri-sendiri untuk mengekspresikan kegembiraan dalam menjalani ibadah di bulan suci Ramadan. Lalu, bagaimana dengan di tempat Kawan GNFI? Apakah ada tradisi serupa?

Sumber: Liputan6.com | Republika.co.id | idntimes.com

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini