Ramadan, Melatih Empati untuk Meraih Lailatul Qadar

Ramadan, Melatih Empati untuk Meraih Lailatul Qadar
info gambar utama

Kawan GNFI yang beragama Islam, tentunya kita patut beryukur masih dapat bertemu kembali dan menjalani rutinitas ibadah puasa di bulan Ramadan tahun ini. Bagi umat muslim, Ramadan merupakan bulan penuh berkah, rahmat, hidayah, karomah, dan ampunan.

Karenanya, Rasulullah mengajarkan untuk memaksimalkan ibadah di bulan Ramadan. Ganjarannya jelas, pahalanya berlipat ketimbang bulan lainnya.

Ramadan tahun ini juga menjadi bulan ujian bagi beberapa keluarga. Misal, dari beberapa kalangan pesohor—terlepas mereka keluarga muslim atau bukan—seperti berpulangnya musisi Erwin Prasetya dan Didi Kempot. Terakhir, aktor kawakan Adi Kurdi, juga dikabarkan menghadap Sang khalik.

Mirisnya, beberapa perilaku tanpa adab juga dilakukan segelintir orang di bulan suci ini. Sebut saja aksi kurang ajar Ferdian Paleka cs, aksi mesum, dan aksi pembunuhan.

Belum lagi soal kebijakan pemerintah terkait larangan mudik atau pulang kampung yang menyulut rantai emosi dan kebimbangan masyarakat.

Lantas, apa korelasi paparan cerita barusan dengan judul di atas?

Jelas ada. Nyatanya kita perlu lebih mengasah rasa empati kita di bulan yang penuh rahmat ini.

Bagaimana Membangun Empati?

Tentunya rasa syukur, empati, dan optimisme bersama inilah yang patut kita jadikan bekal untuk menjalani ibadah pada Ramadan tahun ini.

Suka-cita ibadah tentunya perlu kita bangkitkan dalam menjalankan ibadah puasa sambil merajut tali persaudaraan dan kemanusiaan kembali, agar kita lebih kuat.

Harapannya, perasaan campur aduk antara sedih, prihatin, dan amarah, agar lekas bisa terobati.

Lalu, apa yang sebaiknya kita lakukan?

Introspeksi (muhasabah) adalah langkah awal untuk memperbaiki keadaan. Ramadan adalah bulan yang baik untuk introspeksi dengan landasan keikhlasan dan kejujuran.

Dengan berintrospeksi, sejatinya kita sadar bahwa apa yang kita alami sekarang ini adalah ujian untuk membuat kita menjadi lebih baik, lebih kuat, dan lebih bermartabat. Bukan sebaliknya.

Kita juga perlu mengapresiasi umat Islam di Indonesia yang memiliki tradisi ragam tradisi di bulan Ramadan. Seperti mengaji, berdakwah, dan hal-hal positif lainnya.

Tradisi ini masih bertahan hingga sekarang. Dalam kondisi PSBB seperti sekarang ini, para kyai atau ustaz masih gencar menyiarkan dakwah dengan metode live streaming acara ngaji kitab melalui kanal Facebook, Youtube, maupun apliksi lain.

Ramadan juga momentum untuk mengasah kepekaan sosial dan mengembangkan sikap empati untuk berbagi kepada orang lain. Terutama saat pandemi yang saat ini menyerang negeri ini.

donasi ramadan 2020
info gambar

Imam Syafi'i mengingatkan kita untuk selalu bersikap simpati kepada orang lain melalui kutipan syair berikut:

"Pandangan simpati dapat menutup segala cacat, sebaliknya pandangan benci menampakkan segala cacat (keburukan)."

Di dalam Islam, sikap rendah hati (tawadlu') bisa dilatih dengan cara memandang orang lain lebih baik dari diri sendiri sehingga kita perlu menaruh hormat dan tidak congkak.

Jika kita melihat orang yang lebih tua, kita menganggap ilmu dan pengalamannya lebih kaya. Jika melihat orang yang lebih muda, kita melihat orang tersebut dosanya lebih sedikit sehingga tetap lebih baik dari diri kita sendiri.

Bersikap rendah hati berarti menghormati yang tua dan menyayangi yang lebih muda. Prinsip yang telah menjadi budaya masyarakat Indonesia secara turun-temurun.

Dengan menumbuhkan empati kepada orang lain, berarti kita sedang menjalankan nilai agama sekaligus menjunjung tinggi budaya bangsa.

Upaya Meraih Lailatur Qadar

Hal lain yang tak kalah penting di bulan Ramadan bagi umat muslim adalah mendapatkan kebaikan dan manfaat malam Lailatul Qadar.

Allah SWT menjanjikan pahala yang luar biasa besar bagi umat muslim yang bisa meraihnya, yakni dengan pahala setara melakukan ibadah sepanjang 1.000 bulan (83 tahun).

Dituliskan, ada lima keutamaan di malam Lailatul Qadar, yakni;

  • Malam yang mulia,
  • Malam diturunkannya Al-Qur'an,
  • Malaikat-malaikat turun ke bumi,
  • Dituliskannya takdir tahun depan, dan
  • Malam dikabulkannya ampunan.

Malam Lailatul Qadar boleh jadi menjadi memiliki misteri tersendiri, karena tanggal kedatangannya yang tak bisa dipastikan. Namun diyakini keberkahannya turun saat hari-hari ganjil di 10 malam terakhir Ramadan, yakni malam 21, 23, 24, dst.

Namun banyak yang memulai upaya untuk mendapatkan kebaikan tersebut yang dimulai pada malam Nuzulul Quran, yakni pada malam 17 Ramadan.

Cara raih meraihnya pun tak gampang, yakni dengan upaya keras dan tidak kenal lelah untuk selalu meningkatkan kualitas ibadah, yakni dengan menghidupkan seluruh malam Ramadan dengan ibadah.

Meraih Lailatul Qadar dapat dilakukan dengan menjalani amalan-amalan tertentu. Amalan ini pada intinya adalah langkah untuk mendekatkan diri pada Allah SWT.

Lailatul Qadar
info gambar

Untuk mendapatkan manfaat dan meraih Lailatul Qadar, kawan GNFI bisa mencoba langkah-langkah berikut;

Iktikaf

Iktikaf adalah berdiam saat beribadah dengan syarat-syarat tertentu, serta dengan niat semata-mata beribadah hanya untuk Allah SWT.

Iktikaf juga disebut sebagai sarana komunikasi diri kepada Allah SWT dengan melakukan serangkaian ibadah. Ada beberapa syarat untuk sahnya iktikaf, antara lain beragam Islam, sudah baligh, dilaksanakan di masjid (baik masjid jami' maupun masjid biasa), dan memiliki niat iktikaf.

Membaca Alquran

Kegiatan belajar, membaca, memahami, dan menghayati Alquran merupakan salah satu cara untuk meraih Lailatul Qadar.

Rasulullah SAW pernah bersabda;

''Bacalah oleh kalian Alquran. Karena sesungguhnya Alquran itu akan datang menghampiri kalian di hari kiamat sebagai syafaat.'' (HR. Bukhari)

Salat Malam

''Barangsiapa melaksanakan salat pada malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.'' (HR. Bukhari)

Setelah salat tarawih dan tadarusan, kita bisa tidur terlebih dahulu. Lalu saat tengah malam atau menjelang sahur, kita bangun untuk menunaikan salat malam.

Dengan melaksanakan ibadah salat malam ini, maka peluang untuk mendapat Lailatul Qadar akan terbuka lebar. Yang penting fokuskan ibadah untuk mendekatkan diri pada Allah SWT.

Perbanyak Doa

Perbanyak doa di malam-malam terakhir bulan Ramadan juga diyakini bakal membuka peluang untuk meraih kemuliaan Lailatul Qadar.

Rasulullah SAW memerintah Ummul Mukminin Aisyah untuk berdoa di malam-malam itu.

Aisyah bertanya; ''Wahai Rasulullah, apa pendapatmu jika aku ketepatan mendapatkan malam Lailatul Qadar, apa yang harus aku ucapkan?''

Rasulullah SAW menjawab; ''Ucapkanlah; Allahumma innala ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anna” (Ya Allah, sesungguhnya Engkau maha pemaaf mencintai kemaafan, maka maafkanlah aku).”

(HR. Ibnu Majah, yang dishahihkan oleh Al Albani)

Bertobat

Yang terakhir, kita berupaya untuk bertobat dari segala kesalahan dan kemaksiatan yang kita lakukan. Karena sejatinya manusai tak luput dari dosa dan salah.

Jadikanlah Ramadan sebagai ''aji mumpung'' untuk bertobat dan meminta ampunan Allah. Disarankan juga, isi malam-malam terakhir Ramadan dengan memperbanyak salat taubat. Bahkan jika dilakukan bertepatan dengan malam Lailatul Qadar, berkahnya akan sangat luar biasa.

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini