Cara Mengatasi Ketersediaan Pangan Masyarakat Adat Bonokeling

Cara Mengatasi Ketersediaan Pangan Masyarakat Adat Bonokeling

Masyarakat adat Bonokeling © GNFI

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Di tengah kondisi krisis akibat pandemi Covid-19 sekarang ini, ketersediaan bahan makanan pokok adalah salah satu kunci untuk bisa tetap bertahan. Namun, banyak dari masyarakat yang masih belum bisa memiliki tabungan guna memenuhi kebutuhan makanan pokok karena berbagai faktor.

Mengenai hal itu, sepertinya kita bisa belajar dari masyarakat adat Bonokeling. Masyarakat adat Bonokeling adalah wangsa atau keturunan penganut kepercayaan Jawa Kuno. Mereka sangat menjunjung tinggi leluhurnya. Bentuk penghormatan masyarakat Bonokeling terhadap leluhur adalah dengan cara menggelar ritual berziarah ke makam keramat leluhurnya yang disebut unggahan.

Bonokeling diambil dari nama seorang leluhur yang sangat dihormati oleh masyarakat desa di sekitar wilayah Kabupaten Cilacap dan Banyumas. Meski namanya menjadi identitas suatu komunitas masyarakat, tapi belum ada sumber yang pasti menyebut siapa sebenarnya sosok Kiai Bonokeling.

Namun, para penganutnya percaya, bahwa Kiai Bonokeling merupakan leluhur yang memiliki ilmu kebatinan tinggi. Karena itu apa yang diajarkannya dianggap mampu membimbing kehidupan anak cucunya agar mendapat keselamatan di dunia dan akhirat.

Ada lima ajaran utama yang diwariskan oleh Kiai Bonokeling dan masih dijalankan oleh para penganutnya hingga sekarang. Lima ajaran tersebut adalah;

  1. Monembah,yang berarti sebagai manusia dianjurkan beribadah dan menyembah kepada Tuhan sesuai keyakinan masing-masing.
  2. Moguru,yaitu patuh terhadap perintah orangtua.
  3. Mongabdi,yang berarti saling menghargai dan menjalin hubungan antarsesama manusia.
  4. Makaryo yang berarti bekerja. Tanpa bekerja, manusia tak bisa mendapatkan penghasilan yang dapat menunjang kehidupannya di dunia.
  5. Manages manunggaling kawula Gusti, yang artinya hubungan manusia dengan Tuhan tidak melalui perantara apa pun. Dalam keyakinan Bonokeling, setiap orang yang lahir di muka bumi adalah titipan Tuhan. Oleh karena itu, interaksi manusia dengan Tuhannya bersifat langsung tanpa perantara.

Kembali ke persoalan stok makanan pokok. Selain lima ajaran yang menuntun kehidupan para penganutnya. Dalam hal mengatasi ketersediaan bahan makanan, masyarakat adat Bonokeling memiliki cara sendiri untuk mengatasinya, yaitu dengan menyiapkan lumbung padi dan membuat makanan pokok pengganti nasi yang disebut oyek.

Lumbung Padi

Salah satu upaya masyarakat Bonokeling untuk mengatasi ketersediaan bahan makanan adalah dengan membuat lumbung pangan. Tradisi lumbung pangan yang telah ditinggalkan kebanyakan masyarakat, ternyata masih tetap dipertahankan oleh masyarakat Bonokeling hingga kini.

Tradisi itu telah ada secara turun temurun dari nenek moyang. Hal tersebut mereka pertahankan karena telah terbukti menolong masyarakat saat terjadi paceklik. Lumbung pangan merupakan andalan bagi warga Bonokeling jika musim kemarau panjang datang.

lumbung pangan
Lumbung pangan di salah satu desa di Banjarnegara, Jawa Tengah | Google Image/Tampang.com

Bagi masyarakat Bonokeling, lumbung pangan dipertahankan bukan hanya untuk melestarikan sebuah budaya saja. Akan tetapi, mereka telah merasakan manfaatnya secara nyata. Ketika terjadi gagal panen atau musim kemarau yang berkepanjangan datang, maka masyarakat Bonokeling akan menggantungkan kebutuhan pangan dari lumbung tersebut.

Bahan pangan yang disimpan ke dalam lumbung berupa padi yang disetorkan oleh masyarakat saat panen tiba. Kemudian padi itu disimpan secara koletif di lumbung milik desa. Dikutip dari Mongabay.id, jika rata-rata anggota masyarakat sekitar 30-40 orang dan setorannya 50kg hingga satu kwintal. Maka maksimal dalam satu lumbung, dapat menyimpan empat ton gabah.

Lumbung pangan ini merupakan solusi dari masyarakat untuk masyarakat. Secara kolektif, mereka menyisihkan hasil panennya untuk disimpan ke lumbung pangan desa.

Pemakain stok pangan yang ada di lumbung dilakukan dengan mekanisme meminjam. Dalam mekanisme tersebut, pengurus lumbung akan memprioritaskan anggota masyarakat yang paling membutuhkan.

Sejak awal peminjaman biasanya telah disepakati bahwa akan ada bunga dalam pinjaman tersebut. Misalnya, setiap satu kuintal gabah, maka bunganya adalah sebanyak 20kg atau 20% dari pinjaman.

Bunga yang terkumpul itu, nantinya juga akan dibagi lagi kepada anggota masyarakat. Tradisi semacam itu, telah dilakukan masyarakat adat Bonokeling sejak lama dan masih lestari hingga kini.

Di tengah ancaman krisis pangan akibat pandemi Covid-19 mungkin cara masyarakat Bonokeling dapat ditiru oleh masyarakat lainnya. Bila sistem lumbung dirasa cukup berat karena butuh lahan yang memadai untuk membangunnya. Ada cara lain yang hampir mirip, tapi dengan skala lebih kecil, yaitu, tradisi jimpitan yang berasal dari Jawa dan beas perelek yang berasal dari Sunda.

Pengganti Nasi

Oyek panganan pengganti nasi yang terbuat dari singkong | Google Image/Kebumenhow.com

Selain membuat lumbung, masyarakat Bonokeling juga memiliki senjata ampuh lain untuk menjaga ketersediaan stok pangan. Caranya dengan mengolah singkong menjadi varian makanan lain yang bisa dijadikan alternatif pengganti nasi.

Sejak zaman dulu, singkong telah dijadikan makanan pokok selain beras. Singkong memiliki kandungan karbohidrat yang cukup untuk menggantikan nasi. Mengapa singkong yang dipilih? Karena singkong lebih mudah tumbuh di kondisi geografis alam Indonesia dan tidak membutuhkan terlalu banyak air.

Nama makanan pengganti nasi itu adalah oyek. Untuk membuat oyek membutuhkan waktu tiga hari. Harus ada sejumlah proses yang perlu dilalui untuk membuatnya, seperti dikupas, ditumbuk, dikukus, dan dijemur. Proses tersebut membuat oyek mampu bertahan sampai satu tahun, tanpa ada bau atau kutu.

Selain oyek juga ada gaplek dan gesret, atau singkong yang diiris tipis-tipis lalu dikukus. Semuanya terbuat dari bahan dasar singkong. Meski begitu, gesret daya tahannya tidak selama oyek dan gaplek.

Semua bahan makanan ini terbuat dari singkong yang banyak tumbuh di Indonesia. Di tempat lain juga ada berbagai jenis makanan pokok pengganti nasi. Misal sagu di Papua, Maluku dan wilayah Indonesia Timur lainnya. Jika terpaksa, mungkin berbagai makanan pengganti ini bisa dimanfaatkan untuk menjaga ketersediaan makanan pokok di Indonesia selama pandemi Covid-19 masih melanda.

Baca juga:

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga50%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi50%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
Tweet Gedung Putih dan 'Hilangnya' Peran Sebuah Bangsa Sebelummnya

Tweet Gedung Putih dan 'Hilangnya' Peran Sebuah Bangsa

Guru Besar UGM Sebut Pandemi Covid-19 Jadi Momentum Berhenti Merokok Selanjutnya

Guru Besar UGM Sebut Pandemi Covid-19 Jadi Momentum Berhenti Merokok

Pandu Hidayat
@armandu

Pandu Hidayat

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.