Ragam Sepatu Buatan Indonesia yang Disangka Produk Luar

Ragam Sepatu Buatan Indonesia yang Disangka Produk Luar

Sebuah toko sepatu di Situbondo, Jawa Timur, Indonesia pada 2019. © Shutterstock/Mohammadridwan

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Semenjak tahun 2018 dan 2019, gaung #localpride menggema dari industri fesyen tanah air. Local pride alias bangga produk lokal digaungkan agar masyarakat Indonesia cinta dengan merek Indonesia yang sudah dipasarkan.

Lewat kampanye #localpride diharapkan produk lokal bisa menjadi raja di negerinya sendiri. Karena dengan membeli produk lokal, negara bisa mendapatkan devisa, memperluas lapangan pekerjaan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan meningkatkan kualitas produksi.

Di antara banyak produk fesyen, sepatu menjadi yang paling sering diburu. Sepatu buatan tangan-tangan kreatif orang Indonesia tersedia dengan banyak pilihan dan ragam kegunaan, ada yang khusus untuk olahraga atau pun kasual.

Dalam segi harga, sepatu lokal jelas dibanderol dengan harga yang lebih murah ketimbang sepatu merek impor. Awalnya dalam segi kualitas, sepatu lokal dipandang sebelah mata.

Namun, para pengusaha industri sepatu melakukan berbagai macam cara untuk menarik minat masyarakat membeli produk mereka, baik itu menciptakan desain baru atau melengkapi produknya dengan teknologi terkini. Selain itu dalam beberapa kesempatan para pengusaha sepatu lokal berpatisipasi dalam beberapa event untuk memperkenalkan produknya, contohnya Urban Sneaker Society yang dihelat di Jakarta.

Sayangnya tidak semua produk sepatu lokal dikenal publik. Salah satu alasannya ialah penamaan merek produk yang jauh dari kesan ke-Indonesia-an. Hal itu dianggap wajar bagi para pelaku industri sepatu lokal. Penamaan merek yang bercorak asing dianggap sebagai salah satu strategi untuk menarik minat pasar.

Walaupun sekali lagi, penamaan itu membuat masyarakat mempertanyakan identitasnya. Lantas apa saja merek sepatu lokal yang biasa dianggap produk luar negeri? Berikut uraiannya:

Kodachi, Pakai Nama Jepang demi Cuan

Sepatu Kodachi.
Sepatu Kodachi. Sumber: Pemoeda.co.id

Di Jepang, kodachi merupakan sebutan untuk salah satu jenis pedang tradisional Jepang yang biasa digunakan samurai pada zaman feodal Jepang. Namun, di Indonesia nama Kodachi tersemat dalam sebuah nama merek sepatu yang dibuat pengusaha asal Bandung.

Diceritakan oleh Youtuber dan pengusaha bergelar dokter, Tirta Mandira Hudhi, lewat Vlog-nya, sepatu Kodachi berhubungan dengan sepatu asal Cina, yakni Warrior. Sang pengusaha membeli lisensi Warrior dari Warrior Cina pada 70-an, dengan kesepakatan Warrior Indonesia tidak boleh dijual ke luar negeri begitu pula Warrior Cina.

Melihat sepatu Warrior bergaya kasual dan tahun 70-an sedang hype olahraga bulu tangkis, sang pengusaha membuat sepatu untuk bulu tangkis pada 1975. Selain bulu tangkis, sepatu Kodachi juga dibuat untuk olahraga voli.

Sang pengusaha sepatu itu pun menamakannya dengan nama berbau Jepang, Kodachi, dengan alasan minat masyarakat Indonesia yang masih tinggi dengan merek sepatu luar negeri. ‘’Mereka berpikir, orang Indonesia nggak suka yang lokal-lokalan, gengsinya masih luar negeri. Lalu mereka membuat namanya Kodachi, seolah-olah brand Jepang, padahal Indonesia,’’ terang dr. Tirta.

Sepatu Kodachi sendiri tidak pernah mengatakan Made in Japan, tetapi Mode Japan atau model Jepang. Untuk memamerkan kesan ke-Jepang-Jepangan boks sepatu dan solnya dilengkapi dengan tulisan-tulisan Jepang.

Piero, Tak Ada Hubungannya dengan Del Piero

Sepatu Piero.
Sepatu Piero. Sumber: Dok. Piero Indonesia

Sepatu merek Piero mulai muncul pada tahun akhir 90-an. Saat itu di dunia olahraga sepak bola, nama striker asal Italia, Alessandro Del Piero, sedang mencuat. Lalu apakah sepatu Piero ada hubungannya dengan sang pesepak bola tersebut atau negara Italia? Ternyata tidak.

Kesan awalnya memang seperti nama Italia, tetapi nama sepatu Piero sebenarnya diambil dari bahasa Jawa yaitu Urip yang berarti hidup. Piero bila dibalik menjadi Oreip, benar ‘kan?

Menurut penuturan Brand Communication Piero, Albertus Agastya, di Urban Sneakers Society pada 2019, dalam sebuah rapat direksi, pendiri Piero yang berasal dari Solo, mengatakan: ‘’Sing penting urip (yang penting hidup), karena 3.000 karyawan bakal kesusahan kalau nggak urip’’.

Karena nama Urip kurang menjual, namanya lalu dibalik dan ditambahkan satu huruf dan jadilah Piero.

Eagle, Sempat Tenggelam Lalu Terbang Lagi

Sepatu Eagle.
Sepatu Eagle. Sumber: Eagle.co.id

Eagle dalam bahasa Inggris berarti elang dalam bahasa Indonesia. Dari namanya saja kesan luar sudah mengena dari merek sepatu lokal ini.

Sepatu Eagle berdiri sejak 1986 dengan ambisi menjadi merek sepatu nasional yang terdepan dalam industri sepatu lifestyle dan olahraga, salah satunya olahraga lari. Sempat tenggelam pada awal 2000-an, Eagle lalu bangkit pada 2006.

Eagle pun memproduksi sepatu yang tidak sekadar gaya, tetapi juga menonjolkan kenayamnan bagi pemakainya. Kualitas yang diperbaiki membuat Eagle mendapatkan berbagai penghargaan salah satunya Indonesia Original Brand dari SWA Magazine pada 2011.

Wakai, Jepang Sumber Inspirasi

Sepatu Wakai.
Sepatu Wakai. Sumber: Medium.com

Nama berbahasa Jepang tampaknya memang menjual. Sepatu Wakai yang hadir di Indonesia juga melakukannya pada 2012.

Wakai adalah bahasa Jepang yang berarti anak muda. Sekali lagi, merek sepatu ini juga asli Indonesia.

Wakai secara konsisten menjaga kualitas dan mutu pada setiap pengembangan produk. Desainernya pun selalu menghadirkan produk dengan desain khas yang terinspirasi dari Jepang.

Permata Yudha, Senior Product Design Manager Wakai mengatakan konsep awal yang dibawa memang bukan sekadar produk fesyen tetapi menciptakan brand dan sebuah pengalaman yang unik.

“Kami ingin ketika pelanggan datang ke gerai untuk berbelanja, mereka bukan hanya mendapatkan sepatu berkualitas tetapi pengalaman berbeda. Ini kami wujudkan melalui wewangian yang khas, serta tampilan gerai yang memanjakan imajinasi visual pelanggan,” ujar Yudha dikutip dari Bisnis.com.

910 (Nineten), Sepatu Lari dengan Teknologi Mumpuni

Sepatu 910.
Sepatu 910. Sumber: Dok. 910 Shoes Instagram

Namanya 910 atau dibaca Nineten, tiap variannya memiliki nama yang berbau Jepang seperti Agito, Fujiwara, Amaru, dsb. Dari situ cap merek Jepang pastinya langsung jatuh pada sepatu tersebut.

Produk sepatu 910 biasanya ditujukan bagi mereka yang gemar olahraga lari. Sepatu 910 sendiri tidak asal dalam mendesain sepatunya, mereka memiliki konsultan desain dari Jepang sehingga tidak heran varian sepatunya memiliki nama Jejepangan.

Meskipun dibanderol murah, tetapi tidak murahan. Sepatu 910 dilengkapi teknologi yang membuat nyaman para pelari. ''Di mana artinya 910-Nineten bukan hanya sebagai pembuat sepatu, tetapi sebagai merek olahraga lari yang memberikan nilai lebih (value added) dengan teknologi terbaru yang mumpuni, berkontribusi, yang siap meramaikan persaingan merek-merek sepatu olahraga lainnya besar lainnya di mancanegara, dan akan menjadi kebanggaan bangsa Indonesia, sekarang dan di masa depan,” terang CEO 910, Hartono Wijaya, pada 2018, dilansir dari Tribunnews.

Sepatu 910 mulai menjadi bahan perbincangan pada 2017 setelah pejabat publik, Sandiaga Uno, memakainya dalam sebuah acara. ''Sepatu ini adalah sepatu milik bangsa kita, bisa bersaing,'' kata Sandiaga kala itu.

---

Penamaan merek dengan nama berbau luar memang menjadi hobi untuk mencari hoki bagi para pengusaha sepatu lokal. Selain sepatu di atas, masih banyak sepatu lokal lain yang dianggap produk luar. Sebut saja sepatu Compass, Ventela, Patrobas, Geoff Max, Brodo, Ortuseight, Phoenix, Seji, Zethro dan masih banyak lagi.

Meskipun namanya tidak ke-Indonesia-an, semoga saja sepatu lokal berjaya di negeri sendiri, ya.

Referensi: Pemoeda.id | Bisnis.com | Kompas.com | Tribunnews.com | Pieroindonesia.com | Youtube.com/InCipengWeTrust

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga50%
Pilih SedihSedih6%
Pilih SenangSenang17%
Pilih Tak PeduliTak Peduli6%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi6%
Pilih TerpukauTerpukau17%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
Cara Mengatasi Ketersediaan Pangan Masyarakat Adat Bonokeling Sebelummnya

Cara Mengatasi Ketersediaan Pangan Masyarakat Adat Bonokeling

Guru Besar UGM Sebut Pandemi Covid-19 Jadi Momentum Berhenti Merokok Selanjutnya

Guru Besar UGM Sebut Pandemi Covid-19 Jadi Momentum Berhenti Merokok

Dimas Wahyu Indrajaya
@dimas_wahyu24

Dimas Wahyu Indrajaya

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.