Kala Habibie Perlakukan Rupiah Seperti Pesawat Terbang

Kala Habibie Perlakukan Rupiah Seperti Pesawat Terbang
info gambar utama

Kawan GNFI, pasar keuangan Indonesia bisa dibilang pernah mengalami kepanikan pada 2 April 2020 lalu.

Saat itu nilai rupiah sempat menyentuh level Rp16.741 per dolar AS. Sedikit lagi mencapai Rp16.800 per dolar AS yang merupakan posisi terlemah rupiah saat terjadi krisis moneter (krismon) 1998.

Namun tidak disangka sepanjang April itu juga kinerja rupiah bisa menguat hingga lebih dari 9 persen dan hanya mencatat pelemahan sebesar 0,44 persen.

Berkali-kali juga kestabilan mata uang rupiah menjadi yang terbaik di Asia. Kali ini rupiah sedang menguji, apakah bisa terus bertahan di bawah level Rp15.000 per dolar AS? Atau bahkan mampu ke bawah Rp10.000 per dolar AS?

Keadaan seperti ini seperti mengingatkan kita pada kondisi krismon ’98. Nilai rupiah saat itu juga kurang lebih sama seperti sekarang. Bedanya sekarang pandemi Covid-19 yang jadi penyebabnya.

Meski pernah di posisi terlemah yang sama, namun kalau ditelaah, ada beberapa kondisi ekonomi yang membedakan.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira pernah mengatakan kepada GNFI pada 4 Mei 2020 lalu bahwa saat krismon ’98 inflasi tinggi terjadi disebabkan gangguan pada supply.

Sedangkan kondisi pandemi Covid-19 justru terjadi gangguan di sisi supply dan demand. Ada kontraksi di daya beli masyarakat. Banyak usaha gulung tikar, roda ekonomi dan perputaran uang seketika terhambat.

Pemerintah dan bank sentral kini sedang sekuat tenaga menghadapi kondisi ini. Setidaknya membuat nilai rupiah stabil yang diprediksi masih akan berada di kisaran Rp15.000 per dolar AS hingga akhir tahun.

Gubernur BI Perry Warjiyo juga pernah menegaskan bahwa nilai tukar rupiah masih akan mengikuti perkembangan situasi global meski kasus Covid-19 mulai mereda. Maklum, Indonesia merupakan negara ekonomi terbuka.

Semisal terjadi sesuatu pada AS, China, Uni Eropa, atau negara lainnya, tetap akan menjadi penggerak fundamental nilai rupiah kita.

Pendekatan Aeronautika Untuk Hadapi Krismon ‘98

Mengingat sejarah, kala itu nilai rupiah sedang adem di level Rp8.000an per dolar AS. Sampai akhirnya Krisis Finansial Asia yang dimulai sejak 1997 membuat nilai rupiah meroket sampai ke Rp16.000an per dolar AS.

Ditambah dengan sentimen politik pasca Soeharto mundur dari kursi presiden semakin menambah beban rupiah.

Masa transisi orde baru ini memang diupayakan untuk “mengangkat” ekonomi Indonesia. Namun apa daya, layaknya pesawat saat kehilangan daya angkat malah hanya membuat moncong pesawat terangkat hingga 15 derajat, maka terjadi stall.

Keadaan yang tidak seimbang itu sangat mungkin membuat pesawat crash, jatuh, dan hancur. Kondisi stall tersebut akibat kecepatannya berada di bawah kecepatan minimum.

Agar pesawat tak jatuh maka harus mengkondisikan keseimbangan antara gaya angka atau lift dengan gravitasi. Agar moncong pesawat tidak terus terangkat.

Inilah yang dilihat Habibie dari kondisi rupiah pada 1998 ibarat pesawat terbang yang mengalami stall. Bukan hanya soal permasalahan sisi statik ekonomi.

‘’Gerakan rupiah itu seperti gerakan di udara, mengalami turbulensi. Sementara struktur ekonomi itu, kan, keseimbangan. Makanya Pak Habibie selalu sebut kata-kata keseimbangan itu banyak sekali,’’ jelas Ekonom Umar Juoro dikutip Kompas pada Oktober 2018 silam.

Ekonomi digambarkan layaknya pesawat udara, pesawat jet. Ketika terjadi stall, jangan sampai terjadi crash. Ketika itu terjadi maka konstruksi pesawat akan hancur. Bisa dibayangkan ketika ekonomi benar-benar digambarkan seperti pesawat sedang crash, maka…

Upaya Riil dari Adopsi Teori Aeronautika

Habibie Perlakukan Rupiah Seperti Pesawat Terbang
info gambar

Teori Aeronautika sebenarnya merupakan salah satu teknik pada ilmu penerbangan. Teknik itu merupakan ilmu yang mengajarkan tentang pengkajian, perancangan, dan pembuatan mesin-mesin yang memiliki kemampuan terbang.

Artinya, Habibie mengupayakan membuat “mesin-mesin” khusus untuk mengatasi permasalahan yang menimpa pada ekonomi Indonesia kala itu.

Salah satunya melakukan restrukturisasi dan rekapitulasi perbankan melalui pembentukan Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) dan unit pengelolaan aset negara.

Upaya restrukturisasi dilakukan dengan menggabungkan empat bank milik pemerintah, yaitu Bank Bumi Daya, Bank Dagang Negara, Bank Ekspor Impor Indonesia, dan Bank Pembangunan Indonesia menjadi satu bank yang kita kenal hingga saat ini, Bank Mandiri.

Sedangkan untuk bank-bank lain, Habibie mengeluarkan kebijakan melikuidasi beberapa bank yang memang bermasalah. Ia juga akhirnya membentuk lembaga pemantau penyelesaian masalah utang luar negeri.

Ya, utang luar negeri sebenarnya yang jadi “biang” masalahnya. Alih-alih krisis dimulai dari Thailand, namun ternyata efek domino krisis tidak bisa terhindarkan oleh Indonesia.

Kenyataannya, pada saat itu Indonesia telah menanamkan uang di Asian Economic Miracle Countries (Negara-Negara Keajaiban Ekonomi Asia) sejak satu dekade sebelum 1997. Artinya, Indonesia juga hidup dalam utang.

Sedangkan untuk mengendalikan inflasi, Habibie mempertahankan kebijakan subsidi BBM dan listrik. Dari sisi kebijakan moneter, dengan berani Habibie mengeluarkan kebijakan terkait independensi BI dalam mengatur kebijakan moneternya secara mandiri yang sampai kini masih berjalan.

Hasil pendekatan aeronautika itu, Habibie berhasil membuat rupiah ke posisi terkuatnya di Rp6.500 per dolar AS. Indonesia terlepas dari hiperinflasi yang pernah mencapai 77 persen. Pertumbuhan ekonomi dari minus 13,13 persen pada tahun 1998, tumbuh menjadi 0,79 persen pada 1999.

“Bayangkan pesawat sudah stall, mau jatuh, sama dia (Habibie) bisa stabil lagi sehingga cruising (terbang datar), descending (pesawat terbang turun), dan bisa soft landing,” ungkap Umar lagi.

Baca Juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini