Pendidikan Dehumanisasi Era Covid-19, Benarkah?

Pendidikan Dehumanisasi Era Covid-19, Benarkah?
info gambar utama

Akhir-akhir ini tak sedikit para peserta didik memikul beban saat berproses dalam mengenyam pendidikannya, baik itu di tingkat menengah pertama, atas, bahkan di bangku perkuliahan sekalipun.

Hal ini dirasakan sendiri oleh penulis selaku masih mengenyam pendidikan di suatu perguruan tinggi di Malang. Awalnya, sistem pembelajaran dilaksanakan secara tatap muka langsung dengan guru atau dosen. Kini, semenjak pandemi Covid-19, sistem pembelajaran berganti menjadi sistem daring.

Mengapa demikian? Tujuannya ialah menghindari atau memutuskan rantai virus tersebut, kira-kira seperti itu sederhananya. Namun, hal ini tidak terlalu dipermasalahkan karena juga untuk keselamatan umat manusia.

Di sini, peserta didik yang merantau juga memanfaatkan momen pandemi untuk pulang kampung dan bisa berkumpul dengan keluarga, toh sistem pembelajaran dilaksanakan secara daring.

Ketika dilaksanakannya pembelajaran daring ini yang tujuannya tetap sama dengan tatap muka langsung di kelas, yakni sebagai pengajar harusnya mengajari atau menyampaikan materinya kepada peserta didik, dilanjutkan dengan diskusi atau membantu peserta didik untuk berkembang menjadi manusia yang potensial secara intelektual melaui transfer of knowledge.

Justru, sebagian besar pengajar memanfaatkan kondisi ini dengan memberikan banyak tugas, bahkan tugas yang diberikan pun tanpa ada penjelasan atau stimulus terlebih dahulu dari pendidik kepada terdidik.

Dengan demikian, banyak dari mereka yang kebingungan bahkan stres untuk menyelesaikan tugasnya. Jadi, dalam pembelajaran ini mereka mendapatkan banyak tugas, bukan wawasan pengetahuan yang seharusnya didiskusikan bersama hingga melahirkan sikap kritis dari peran dialogis yang dibangun antara pengajar dengan yang diajar.

Apakah ini pendidikan dehumanisasi? Bisa jadi. Di sini, penulis sedikit memberikan paradigma kepada seluruh pengajar, baik itu guru ataupun dosen. Ketika sistem pembelajaran kita berganti seperti saat ini, banyak sekali masalah-masalah yang harus kita hadapi untuk mengikuti pembelajaran dengan aktif, kondusif, dan efektif.

Namun, hal itu tidak mudah untuk mewujudkannya. Di sini, kita memerlukan biaya lagi untuk membeli paket internet, atau membayar wifi. Lantas, bagaimana nasib mereka yang tinggal di daerah pedalaman atau desa yang jauh dari perkotaan dan sangat sulit untuk menjangkau akses internet? Apakah pengajar tidak menyadari hal itu?

Kalau berkaca pada kaum borjuis saja, permasalahan tersebut tentu tidak dipertimbangkan. Paulo Freire seorang teoritikus pendidikan yang berpengaruh di dunia dari Brazil mengatakan bahwa macam sistem pendidikan seperti itu merupakan pendidikan yang menindas, di mana seorang pengajar bertindak layaknya penindas dan peserta didikpun menyadarinya kalau mereka ditindas, karena model pendidikan yang digunakan ialah antidialogis.

Model ini pasti ditandai dengan usaha menguasai manusia itu sendiri dengan melihat situasi saat ini dengan sistem pembelajaran daring. Beberapa indikasi yang mengacu pada kriteria penindasan atau menatar dehumanisasi, yakni pengajar tidak memperhatikan peserta didiknya, baik itu keluhan dari banyaknya tugas tanpa ada pertimbangan, atau tambahan biaya pendidikan yang dipergunakan untuk pembelajaran daring (paket data atau wifi). Artinya, model atau sistem pembelajaran yang di terapkan jauh dari sifat kooperatif.

Maka dari itu, seyogyanya dengan sistem pembelajaran daring saat ini, ada baiknya para guru maupun dosen untuk lebih kreatif dalam menerapakan sistem pembelajaran daring dengan mengutamakan sifat dialogis dari kedua peran, memperhatikan peserta didiknya jika mengalami kesulitan, baik itu dari aspek ekonomi dan sosial.

Buatlah pembelajaran menjadi tidak monoton, pada akademik atau pada aspek penguasaan kognitif saja. Utamakan juga pendidikan yang berfaedah, seperti memahami pandemi Covid-19 baik dari sisi pencegahannya, bahayanya, hingga cara mengobatinya.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini