Saji Maleman, Tradisi Kasepuhan Cirebon Sambut Malam Lailatul Qadar

Saji Maleman, Tradisi Kasepuhan Cirebon Sambut Malam Lailatul Qadar
info gambar utama

Jika di Kasunan Surakarta dan Kraton Yogyakarta mempunyai tradisi Selikuran dalam menyambut malam Lailatul Qadar. Di Kesultanan Kasepuhan Cirebon, Jawa Barat, juga memiliki tradisi serupa yang bernama Saji Maleman.

Ritual ini merupakan tradisi tahunan yang dilaksanakan setiap malam pada tanggal ganjil di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan.

Tahun ini, saji maleman dilaksanakan pada Rabu (13/5/2020) di komplek makam Sunan Gunung Jati, Desa Astana, Kecamatan Gunungjati, Kabupaten Cirebon. Sebelum upacara tersebut, lebih dahulu diselenggarakan Jamasan Gerbong Maleman pada Selasa (12/5/2020).

Dalam prosesinya, dinyalakan lilin, delepak, serta ukup di makam Sunan Gunung Jati dan makam Sultan Sepuh XII.

Delepak merupakan lampu minyak yang terbuat dari piring tanah dengan sumbu kecil yang terbuat dari kapas dan menggunakan minyak kelapa sebagai bahan bakar. Sementara ukup, terbuat dari kayu-kayuan serta akar wangi yang dicacah, lalu disangrai dengan gula merah.

Ukup berfungsi sebagai pengharum ruangan yang bekerja dengan cara dibakar. Setelah ukup dinyalakan dan memunculkan aroma wangi. Delepak dan lilin dinyalakan sebagai penerang ruangan.

Makna Filosofis

Ada makna filosofis dari dinyalakannya delepak dan ukup. Di antaranya, makna ukup adalah umat Islam harus dalam keadaan bersih dan wangi, khususnya saat menyambut kedatangan malam yang lebih mulia dari malam seribu bulan itu.

''Itu makna dari ukup yang dinyalakan sebagai pengharum ruangan di makam Sunan Gunung Jati,'' ujar Sultan Sepuh XIV Pangeran Raja Adipati (PRA) Arief Natadiningrat, dikutip dari TribunCirebon.com.

Pasalnya, di malam Lailatul Qadar para malaikat akan turun ke Bumi dan mendoakan umat Islam yang saat itu sedang beribadah. Itu sebabnya, untuk menyambut malam yang mulia tersebut, umat Islam harus menyiapkan diri dengan kebersihan dan keharuman.

Ia juga mengingatkan, di malam ganjil selama sepuluh hari terakhir bulan Ramadan, umat Islam disarankan memperbanyak beribadah kepada Allah Swt.

Menyalakan lilin dan delepak, menurutnya, merupakan gambaran dari hati serta pikiran manusia yang harus terang-benderang. ''Kita harus menyambut malaikat dalam keadaan bersih, wangi, dan terang, melalui salat, zikir, serta doa yang dipanjatkan,’’ tutur PRA Arief Natadiningrat.

pusaka kasepuhan cirebon
info gambar

Tetap Ikuti Protokol Kesehatan

Ritual lainnya sebelum prosesi saji maleman adalah jamasan pusaka. Jamasan sendiri artinya adalah pencucian pusaka Kasepuhan Kesultanan Cirebon. Pusaka yang dicuci merupakan perlengkapan yang akan digunakan untuk ritual tradisi saji maleman.

''Pusaka yang dicuci terdiri dari gerbong, peti dari papan, guci dan mangkuk keramik, serta botol untuk diisi minyak kelapa,'' jelas Sultan Sepuh XIV Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat, seperti dikutip dari AyoBandung.com.

Gerbong yang dimaksud adalah peti yang terbuat dari kayu. Fungsi gerbong maleman itu untuk mengangkut pusaka dan perlengkapan ritual lainnya seperti lilin, delepak dan ukup yang dikemas dalam guci dan mangkuk keramik yang berusia sekitar 700 tahun.

Usai jamasan, keesokan harinya gerbong maleman diangkut ke komplek makam Sunan Gunung Jati oleh para pembawanya yang disebut Kraman Astana Gunung Jati. Sebelum berangkat, PRA Arief Natadiningrat, tampak memimpin doa dan melepas rombongan gerbong maleman itu.

Sebagai atribut para Kraman Astana Gunung Jati dilengkapi juga dengan tombak. Mereka menempuh perjalanan dengan berjalan kaki sekitar sejauh enam kilometer yang dimulai dari Kasepuhan Cirebon hingga makam Sunan Gunung Jati. "Mulai Rabu, delepak, lilin, dan ukup dinyalakan karena sudah malam ganjil," ujarnya.

Sultan Sepuh XIV PRA Arief Natadiningrat saat melepas iringan gerbong maleman untuk prosesi Saji Maleman di Keraton Kasepuhan Cirebon | TribunCirebon.com
info gambar

Pada masa pandemi Covid-19 ini, Sultan Sepuh XIV PRA Arief Natadiningrat memastikan pengiriman gerbong maleman akan mengikuti protokol kesehatan Covid-19. Para kraman akan memakai masker dan menjaga jarak satu sama lain sepanjang perjalanan.

Selama perjalanan mereka akan saling menjaga jarak minimal satu meter dengan orang di dekatnya sehingga tidak saling berdekatan.

Kata dia, di tengah keprihatinan wabah ini, Jamasan Gerbong Maleman maupun Siji Maleman menjadi salah satu tradisi yang tetap harus dijalankan pihaknya. ''Memang harus dilaksanakan, ada atau tidak ada wabah. Ibadah Ramadan kan harus dijalankan, begitu juga dengan tradisi ini,'' ujarnya.

Tradisi ini, tambahnya, dilaksanakan dalam rangka menyambut malam Lailatul Qadar atau yang dikenal dengan malam yang lebih baik dari 1.000 bulan. Bagi umat Islam, malam Lailatul Qadar merupakan momen di mana malaikat diyakini turun ke bumi untuk memberi rahmat, taufik dan hidayah dari Allah SWT.

Oleh karena itu, meski dalam masa pandemi yang mengharuskan masyarakat untuk selalu menjaga jarak ini. Tradisi untuk memperingatinya masih tetap akan dilakukan walaupun dengan beberapa modifikasi tanpa mengurangi kekhidmatannya.

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini