Sejarah Hari Ini (15 Mei 1962) - Pengajuan Tarif Bemo

Sejarah Hari Ini (15 Mei 1962) - Pengajuan Tarif Bemo

Transportasi becak bermotor atau bemo pabrikan Jepang, Mazda, mulai dipasarkan di Indonesia pada 1962. © Harian Merdeka

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Transportasi becak bermotor atau bemo hadir sebelum Asian Games IV digelar di Jakarta pada Agustus 1962.

Bemo yang didatangkan berasal dari Jepang dengan merek Daihatsu dan Mazda.

Bila bus kota (Leyland dan Ikarus) menjadi pengganti transportasi trem, bemo pada saat itu diproyeksikan menjadi pengganti becak.

Transportasi becak yang sudah ada di Jakarta sejak zaman kolonial atau awal abad ke-20 memang mendapatkan stigma dari masyarakat dan petinggi negara.

Presiden Republik Indonesia, Soekarno (Bung Karno), bahkan pernah marah pada aktris cantik, Jeans Simmons, ketika keduanya bertemu di Hollywood, Amerika Serikat.

Saat itu Simmons mengungkapkan keinginannya naik becak jika berkunjung ke Jakarta.

Bung Karno pun marah pada aktris kelahiran Inggris itu karena menurutnya pekerjaan menarik becak tidak patut dibanggakan dan tidak pantas menjadi ikon ibu kota Jakarta.

Bagi Bung Karno profesi tukang becak adalah bentuk nyata dari "penghisapan manusia oleh manusia lainnya".

Jadilah bemo yang merupakan bagian dari pampasan perang Jepang didatangkan ke Jakarta untuk menjadi pengganti becak.

Pada 15 Mei 1962, panitia penyalur bemo di Jakarta telah mengajukan tarif penumpang kepada Gubernur DKI Jakarta, Dr. Sumarno.

Unit bemo di Jakarta.
Pada awal Mei 1962, Presiden Direktur PN Karya Jasa, Raden Soekamto, bersama Komisaris Besar Oentoeng Margono, menginspeksi transportasi bemo yang akan dioperasikan di Jakarta. Sumber: Harian Merdeka

''Penentuan rencana tarif angkutan bemo didasarkan atas kemungkinan rakyat untuk memikul ongkos pengangkutan dengan bemo dan tidak memberatkan pemilik bemo. Jadi tarif tersebut tidak akan jauh berkisar antara tarif taksi dan tarif becak yang merupakan kendaraan rakyat,'' tulis Harian Merdeka dikutip oleh GNFI pada Jumat (15/5/2020).

Saat itu belum ada rincian berapa tarif menumpang bemo, tetapi pihak terkait yang mengajukan menyatakan tarifnya tidak jauh dari tarif becak yang saat itu berada di kisaran Rp2 (2 kilometer) dan Rp10 (10 km).

Pemerintah tetap memperhatikan nasib tukang becak meskipun bemo telah didatangkan sebagai transportasi pengganti.

Nantinya para tukang becak mendapatkan prioritas utama untuk memiliki bemo dengan cara dicicil.

Tukang becak yang bisa membaca dan menulis juga mendapatkan latihan cuma-cuma mengemudi bemo dari Yayasan Motor.

Baca Juga:

Referensi: Harian Merdeka | Alwi Shahab, "Kasino Bernama Kepulauan Seribu" | Erwiza Erman & Ratna Saptari, "Dekolonisasi Buruh Kota dan Pembentukan Bangsa"

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
Ekonomi Indonesia Masih Unggul dari AS dan Tiongkok di Tengah Pandemi Sebelummnya

Ekonomi Indonesia Masih Unggul dari AS dan Tiongkok di Tengah Pandemi

Guru Besar UGM Sebut Pandemi Covid-19 Jadi Momentum Berhenti Merokok Selanjutnya

Guru Besar UGM Sebut Pandemi Covid-19 Jadi Momentum Berhenti Merokok

Dimas Wahyu Indrajaya
@dimas_wahyu24

Dimas Wahyu Indrajaya

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.