Ketika e-Commerce Saling Serobot Berebut Tahta

Ketika e-Commerce Saling Serobot Berebut Tahta
info gambar utama

Kawan GNFI, para pelaku industri e-commerce di Indonesia mengklaim mendapatkan kenaikan volume penjualan saat pandemi Covid-19. Hal itu bisa jadi penerapan PSBB yang dilakuka pemerintah berdampak pada pola konsumsi dan belanja masyarakat.

Pemerintah juga melihat pertumbuhan transaksi para konsumen sektor e-commerce ini sebagai salah satu solusi mengatasi defisit pajak akibat pelambatan ekonomi.

Ketua Asosiasi e-Commerce Indonesia (idEA), Ignatius Untung, mengatakan bahwa di tengah pandemi ini masyarakat lebih banyak berbelanja untuk kebutuhan pokok di e-commerce.

''Trennya kalau kita lihat sekarang orang mulai belanja hanya untuk kebutuhan pokok saja. Back to basic," kata Untung dalam teleconference, Selasa (28/4/2020).

Selain bahan pokok, sambungnya, masyarakat juga banyak berbelanja alat-alat kesehatan di e-commerce. Untung mengatakan, pihaknya mencatat tren kenaikan terjadi pada makanan sehat dan beberapa alat kesehatan, seperti masker misalnya.

Meski begitu, Untung tak menampik jika ada juga beberapa e-commerce yang terpuruk dalam situasi ini. Misalnya seperti yang dialami oleh e-commerce agen perjalanan.

Dalam kurun tiga tahun terakhir, kami mencatat pergerakan perusahaan e-commerce untuk memperebutkan hati pelanggan cukup alot, bahkan saat pandemi seperti sekarang ini.

Seperti apa pergerakannya? Berikut rangkumannya.

Urusan AppStore, Shopee dan Tokped Tak Terkejar

Dalam catatan Iprice Indonesia, beberapa nama e-commerce dalam 13 kuartal terakhir yang dimulai pada kuartal I (Q1) 2017, tiga perusahaan e-commerce lokal berhasil masuk dalam daftar lima besar e-commerce paling populer di mata publik. Mereka adalah Tokopedia (Tokped), Bukalapak, dan Blibli.

Dalam kurun tiga tahun terakhir itu, nama Shopee dan Tokped masih menjadi yang teratas dalam rangking AppStore. Artinya, kedua e-commerce raksasa itu cukup memberikan daya pikat dan kepercayaan konsumen terkait layanan dan kemudahan bertransaksi.

Sementara secara keseluruhan, dalam kurun itu ada tujuh nama e-commerce di Indonesia yang berebut tahta tertinggi di mata pelanggan. Mereka adalah;

  • Shopee,
  • Tokopedia,
  • Lazada,
  • Bukalapak,
  • Blibli,
  • Zalora, dan
  • JD.id.

geliat e-commerce Indonesia

Dalam paparan grafik di atas, tergambar bahwa Lazada berhasil mempertahankan eksistensinya sebagai jajaran e-commerce paling memikat ke-3, meski pada Q4 2017 hingga Q2 2019 bersaing ketat dengan Bukalapak.

Kemudian untuk merebut tempat ke-5, Blibli berupaya keras meraihnya dari Zalora. Sempat terpuruk ke posisi ke-7 pada Q4 2018 hingga Q1 2019, perusahaan e-commerce milik grup Djarum ini berhasil bangkit pada Q2 2019 hingga Q4 2019, dan mampu mepertahankan posisinya hingga sekarang (Q1 2020).

Lain dengan JD.id yang sempat moncer ke posisi ke-3 pada Q4 2017, e-commerce yang mengusung kampanye ''Yang penting ori'' ini harus drop ke posisi ke-8 pada Q2 2019, meski kemudian berhasil naik satu peringkat pada Q3 2019 hingga sekarang.

Dari perebutan tahta yang cukup alot itu, pada akhirnya konsumen akan memilih layanan mana yang lebih mudah, fleksibel, dan cepat. Terutama dalam situasi pandemi seperti sekarang ini.

e-Commerce Lokal Tak Kalah Moncer

Berbicara soal e-commerce lokal, nyatanya mereka mampu berkompetisi dengan beberapa e-commerce asing. Terutama soal kunjungan bulanan laman web dalam kurun tiga tahun terakhir.

Jumlah pengunjung bulanan tertinggi saat ini (Q1 2020) masih dipegang oleh Shopee, yang pada Q4 2019 hingga Q1 2020 berhasil merebutnya dari Tokped.

Tercatat jumlah kunjungan bulanan pada Q1 2020 mencapai rerata 71,5 juta pengunjung. Sedangkan Tokped kalah tipis dengan catatan rerata 69,8 juta pengunjung.

Kemudian pegunjung bulanan tertinggi tempat ke-3 pada periode yang sama ditempati oleh Bukalapak dengan membukukan 37,6 juta pengunjung saban bulan. Disusul kemudian oleh Lazada yang berhasil memikat pengunjung bulanan sebanyak 24,4 juta.

Sementara tempat ke-5 jumlah pengunjung terbanyak diraih oleh Blibli dengan 17,6 juta kunjungan konsumen. Angka itu turun dari jumlah akses konsumen pada Q4 2019 yang tercatat 26,8 juta.

geliat e-commerce Indonesia

Blibli, Shopee, dan Lazada, Jawara di Media Sosial

Jumlah kunjungan tadi tentunya merupakan dampak dari promosi masing-masing perusahaan e-commerce di kanal media sosial. Kami merangkum interaksi media sosial dari tujuh e-commerce di Indonesia pada periode Q1 2017 hingga Q1 2020.

Pada tiga tahun terakhir, terangkum interaksi dari tujuh e-commerce peringkat atas. Jumlah interaksi terbaik kami catat berdasarkan aplikasi paling populer, yakni Twitter, Instagram, dan Facebook.

Dalam kurun itu, soal interaksi di twitter nampaknya Blibli tak terkejar dengan menjadi pengumpul interaksi terbanyak, dan terus meningkat tiap kuartal (501.200 interaksi/Q1 2020).

Selanjutnya ada ada Lazada yang berhasil memikat melalui interaksi followernya. Sepanjang periode itu, interaksinya tercatat baik (379.020 interaksi/Q4 2019), meski pada Q1 2020 sempat tersalip tipis oleh Tokped (387.800 interaksi).

Yang menarik dari Tokped, meski tak memiliki catatan memuaskan, terutama sejak drop pada Q3 2017 (148.000 interaksi), akhirnya berhasil bangkit sejak Q3 dan Q4 2019. Bahkan pada Q1 2020 berhasil mengangkangi Lazada.

Pertarungan interaksi seperti Lazada dan Tokped, juga dialami oleh Bukalapak dan Shopee. Bukalapak sempat stabil sejak Q1 2017, meski sempat drop pada Q1 2019, nyatanya Bukalapak berhasil bangkit hingga Q4 2019 (181.210 interaksi). Sayangnya, Shopee berhasil melibasnya pada kuartal pertama 2020 (210.300 interaksi).

data twitter ecommerce

Jika melihat media sosial Instagram, maka pertarungan interaksi tak kalah sengit dari twitter. Sebagai platform interaksi paling populer saat ini, perusahaan e-commerce juga menjaring para pendengung (influencer) untuk meningkatkan interaksi mereka di instagram.

Tercatat Shopee memiliki interaksi paling ngebut sejak Q1 2017, dan dipertahankan hingga Q1 2020 (4,2 juta interaksi). Dengan angka yang cukup jauh soal interaksi itu, platform e-commerce lain nampaknya mustahil untuk mengejar.

Kemudian pertarungan sengit saling serobot terjadi untuk merebutkan tempat ke-2, ke-4, dan ke-6.

Untuk merebutkan tempat ke-2, Tokped dan Lazada beradu konten promosi di instagram. Nyatanya, keduanya nyaris mencapai puncak secara berbarengan, yakni dengan catatan akhir (Q1 2020) 1,7 juta interaksi untuk keunggulan Lazada.

Pertarungan dua e-commerce lokal, yakni Bukalapak dan Blibli hadir untuk meraih posisi ke-4. Bukalapak sempat drop pada Q1 2019 (711.700 interaksi), hingga kemudian mengungguli Blibli pada Q4 2019 (964.010 interaksi).

Namun sayang, pada Q1 2020 Bukalapak harus mengakui keunggulan Blibli yang cukup aktif di periode itu dengan satu juta interaksi.

Lainnya, ada Zalora dan JD.id yang bersaing berebut posisi ke-6. Zalora memang sempat drop pada Q3 2019, namun kemudian pada Q4 2019 hingga Q1 2020 berhasil mengungguli JD.id dengan membukukan catatan akhir 551.700 interaksi.

data instagram ecommerce

Sementara untuk media sosial Facebook, tercatat nama-nama seperti Lazada, Shopee, dan Blibli yang berada pada peringkat tiga teratas.

Meski begitu, ada catatan interaksi tujuh e-commerce itu yang terjun bebas pada Q4 2019. Tak ada kejelasan terkait fenomena itu. Namun, mereka mampu bangkit dengan mempertahankan posisi sebelumnya.

Di facebook, Lazada unggul telak dengan catatan akhir 29 juta interaksi/Q1 2020. Meski tak ada pertarungan berarti pada kategori ini, nyatanya upaya Shopee untuk menduduki peringkat ke-2 tampak tak mudah.

Sejak Q1 2017, platform e-commerce ini berada pada titik terendah, yakni 404 ribu interaksi. Kemudian perlahan bangkit, hingga Q1 2018 dengan berhasil mengangkangi lima e-commerce lain dan bertahan hingga Q1 2020 (16,7 juta interaksi).

Yang menarik, pada interaksi media sosial Bukalapak sejak delapan bulan terakhir (Q4 2019-Q1 2020) tak tercatat intensitasnya.

Bukalapak pun akhirnya ditelikung JD.id pada kurun itu, dengan catatan pada Q1 2020 JD.id berhasil mendulang 765.500 interaksi.

Selain itu, tak ada cerita menarik soal saling serobot antar-platform facebook..

data facebook ecommerce

Strategi Manfaatkan Momentum Pandemi

Saat pandemi seperti sekarang ini, nyatanya perusahaan e-commerce memang mengambil momentum, dengan melihat masyarakat yang lebih dekat dengan gawai untuk mendapatkan beragam akses. Seperti akses berita, layanan telekonferensi, atau memesan barang dan makanan.

Ada peningkatan signifikan yang tercatat dalam Statista, bahwa pengguna internet di Indonesia terus mengalami peningkatan saban tahunnya.

pengguna internet

Sementara, idEA kemudian mengungkap sejumlah strategi para perusahaan e-commerce Tanah Air guna meraup untung selama masa pandemi. Salah satu strateginya adalah mereka berperan sebagai service solution.

Para perusahaan e-commerce menjamin bahwa barang yang mereka kirim aman. Contoh lain dari service solution, adalah mereka mengampanyekan e-wallet (dompet digital) untuk digunakan secara maksimal. Jadi tak perlu ada transaksi tunai yang berpotensi sebagai media penyebar virus.

Namun idEA menyebut strategi ini hanyalah ritme jangka pendek, dan boleh jadi hanya diterapkan saat pandemi.

"Kita berusaha bertahan dan cepat ambil keuntungan, saat kita keluar dari masa ini, kita punya sesuatu yang bisa jadi modal sebab kita hidup dari series of fund raising (serangkaian penggalangan dana)," jelas Untung, menukil CNN Indonesia.

Catatan Positif Saat Pandemi

Sebelumnya, data penjualan bahan-bahan pokok atau sembako di toko online dilaporkan meningkat 400 persen sejak Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diberlakukan pada 31 Maret 2020.

Terutama soal pola belanja sembako untuk kebutuhan sehari-hari oleh masyarakat yang mulai memanfaatkan layanan toko online untuk menekan penyebaran wabah virus Corona .

Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2020 yang membatasi masyarakat ke luar rumah, direspons masyarakat dengan berbondong-bondong menggunakan aplikasi e-commerce untuk membeli produk kebutuhan pokok. Mulai dari kebutuhan bumbu dapur, sayur, dan sembako lainnya.

Menukil Telunjuk.com, transaksi pembelian sembako di Tokopedia, Shopee, dan Bukalapak, bahkan mencapai 670.755 transaksi sejak Maret 2020.

Chief of Customer Experience Lazada Indonesia, Ferry Kusnowo, mengatakan pada Katadata.co.id (30/3), bahwa selain transaksi yang terus meningkat, para pembuat akun baru di Lazada juga melesat tajam.

Sementara Public Relations Lead Shopee, Aditya Maulana Noverdi, mengabarkan bahwa transaksi dan jumlah kunjungan pengguna Shoppee di masa pandemi ini tetap tinggi.

''Adanya peningkatan terhadap pencarian barang-barang kebutuhan esensial di kategori kesehatan dan barang-barang kebutuhan sehari-hari,'' katanya.

Lain itu, data internal Bukalapak menyebut bahwa saat pandemi produk yang paling laris dicari masyarakat adalah produk-produk kesehatan yang dapat menunjang pencegahan dini virus Covid-19.

''Sebelumnya barang-barang elektronik dan rumah tangga merupakan produk-produk yang paling dicari. Namun kami juga mencatat kenaikan para produk kesehatan dan alat penunjang kesehatan, bahan pokok, serta alat pendukung bekerja dari rumah,'' kata Head of Corporate Communications Bukalapak, Intan Wibisiono.

Sementara soal pengguna baru Bukalapak, Intan menyebut sekira ada peningkatan sebesar 10 persen sejak Maret 2020.

e-Commerce lokal lain, Blibli, juga mengaku bahwa penjualan produk kesehatan, makanan ringan, dan makanan instan melonjak selama pandemi Corona.

''Memasuki tahap kerja di rumah, peningkatan pembelanjaan mulai beralih ke produk makanan segar, multivitamin dan suplemen, serta obat-obatan," ungkap Vice President of Public Relations Blibli, Yolanda Nainggolan.

Jasa Kurir Pun Melejit

Dengan peningkatan konsumsi barang yang dipesan melalui e-commerce, tentunya berdampak pada perusahaan logistik.

Bahkan tercatat, selama pandemi ini para perusahaan berbasis layanan antar itu membukukan kenaikan pengiriman barang hingga 80 persen.

Beberapa perusahaan seperti Paxel, J&T, Prahu Hub, Ninja Xpress, Gojek, hingga Grab, juga telah menyiapkan strategi guna mencegah penularan Covid-19 dari pengiriman barang.

COO Paxel, Zaldy Ilham Masita, mengatakan bahwa perusahaan mencatatkan kenaikan pengiriman makanan dan bahan makanan segar yang cukup signifikan.

Mayoritas para pengguna jasa merupakan para pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) serta pedagang di pasar. Selain itu, ada juga reseller dari peritel yang terdaftar di e-commerce.

Senada dengan Paxel, CEO J&T Ekspress, Robin Lo, mengatakan pihaknya juga mencatat ada kenaikan pengiriman barang sejak wabah virus corona merebak. Ada sekira 60 persen sampai 70 persen kenaikan transaksi pengiriman barang perusahaan berasal dari e-commerce.

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini