Sejarah Hari Ini (19 Mei 2007) - Penemuan Ikan Purba Coelacanth Ketiga di Manado

Sejarah Hari Ini (19 Mei 2007) - Penemuan Ikan Purba Coelacanth Ketiga di Manado

Kepala ikan purba Coelacanth (Latimeria menadoensis) dipamerkan di Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta, Indonesia pada 2010. © Commons Wikimedia/Amelia Guo

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Seekor ikan Coelacanth (Latimeria menadoensis) tertangkap oleh mata pancing nelayan ikan Justinus Lahama dan putranya, Delvi Lahama, di pantai Malalayang, kota Manado, Sulawesi Utara, pada 19 Mei 2007.

Dijuluki Sea King Fish atau Ikan Raja Laut, Coelacanth merupakan ikan purba yang hidup 360 juta tahun yang lalu dan dinyatakan punah sejak akhir zaman Cretaceous sekitar 65-70 juta tahun silam.

Eksistensinya sudah ada sejak era Devonia, lebih tua dari dinosaurus dan tidak berevolusi.

Bagian kepala dari ikan raja laut CCC no. 215 yang tertangkap pada 27 Mei 2007 di pantai Malalayang, Manado. Tampak mata pancing masih tertinggal di bagian mulutnya.
Bagian kepala dari Coelacanth dengan nomor registrasi CCC no. 215 yang tertangkap pada 19 Mei 2007 di pantai Malalayang, Manado. Tampak mata pancing masih tertinggal di bagian mulutnya. Sumber: Oseana (Nomor 2, Tahun 2011)/Augy Syahailatua

Coelacanth dengan jenis kelamin betina yang tertangkap itu memiliki panjang 129 sentimeter dan berat 51 kilogram.

Setelah dibedah, ditemukan terdapat 25 butir telur di dalam perutnya.

Coelacanth dengan nomor registrasi CCC 215 tersebut merupakan Coelacanth ketiga yang ditemukan di perairan Manado.

Sebelumnya, Coelacanth ditemukan di tempat yang sama pada tahun 1997 dan 1998.

Peta dunia yang menunjukkan letak penemuan pertama ikan Coelacanth.
Peta dunia yang menunjukkan letak penemuan pertama ikan Coelacanth. Sumber: Iwata, 2009

Fenomena penemuan Coelacanth di Indonesia membuat peneliti membagi fokusnya.

Karena pada awalnya, Coelacanth dianggap hanya hidup di perairan benua Afrika sebelah timur, tenggara, dan selatan (Samudera Hindia sebelah barat).

Penemuan Colecanth pertama berada di Afrika Selatan pada 1938.

Spesimen ini diidentifikasi dan diberi nama ilmiah Latimeria chalumnae.

Semenjak itu, selama 60 tahun, Coelacanth ditemukan di perairan Kenya, Tanzania, Komoro, Mozambik, Madagaskar, dan Afrika Selatan.

Coelcanth atau Latimeria chalumnae yang tertangkap di Kepulauan Komoro, dekat Madagaskar, dipamerkan di National Museum of Natural History, Amerika Serikat, pada 20 Agustus 1957.
Coelacanth atau Latimeria chalumnae yang tertangkap di Kepulauan Komoro, dekat Madagaskar, dipamerkan di National Museum of Natural History, Amerika Serikat, pada 20 Agustus 1957. Sumber: Smithsonian Institution Archives

Coelacanth yang ditemukan di perairan sekitar Sulawesi Utara jelas memiliki perbedaan dengan spesimen dari Afrika.

Latimeria menadoensis berwarna cokelat, sedangkan Latimeria chalumnae berwarna biru keunguan.

Setiap ikan memiliki pola bintik putih yang berbeda sehingga memungkinkan peneliti membedakan satu individu dengan yang lainnya.

Coelacanth adalah perenang yang lamban, menggunakan sirip-siripnya sebagai dayung untuk mendorong tubuhnya mengarungi air.

Ketika melayang-layang di dasar laut, Coelacanth akan memosisikan badannya secara vertikal dengan kepala di bawah dan semua sirip terkembang melambai, sehingga indah dilihat.

Bagian tubuhnya unik karena sirip perut dan dayungnya yang berjumlah empat tampak seperti kaki.

Latimeria menadoensis.
Latimeria menadoensis. Sumber: Ocean.org

Banyak ilmuwan berpendapat karakteristik unik ini menjadi tahap awal dalam evolusi ikan menjadi hewan berkaki empat seperti amfibi.

Coelacanth hidup di kedalaman hingga 150-200 meter di bawah permukaan laut pada suhu 12-18 derajat celsius.

Ikan ini aktif pada malam hari (nocturnal) mencari mangsa ikan-ikan kecil dan menghabiskan siang hari dengan berdiam diri di dalam gua.

Mereka bisa tumbuh sampai 2 meter atau lebih dan berat mencapai sekitar 90 kilogram.

Para ilmuwan memperkirakan mereka sanggup hidup hingga 60 tahun atau lebih.

Meskipun bisa berumur panjang, menurut situs Oceana.org, Coelacanth berstatus terancam punah.

Coelacanth Manado temuan ketiga bukanlah Coelacanth terakhir di Indonesia.

Menurut jurnal "History, Conservation and Research Program of Indonesian Coelacanth", terdapat delapan penemuan Coelacanth di Indonesia di mana yang terakhir di Raja Ampat pada 2018.

Coelacanth dalam Budaya Pop

Di mata orang-orang kreatif, keberadaan Coelacanth sanggup menjadi sumber inspirasi.

Dalam budaya pop misalnya, Coelacanth dimunculkan sebagai karakter dalam gim/anime asal Jepang, Digimon dan Pokemon.

Di gim Digimon, terdapat monster bernama Coelamon, seekor karakter berwujud monster yang mempunyai rupa ikan berkaki empat.

Monster dalam gim Digimon, Coelamon.
Monster dalam gim Digimon, Coelamon. Sumber: Fandom

Sementara di Pokemon lebih detail dengan karakteristik Coelacanth yang asli.

Di gim tersebut terdapat monster bernama Relicanth yang hidup di air dengan tampilan fisik berwarna cokelat mirip Latimeria menadoensis.

''Pokemon langka yang bisa ditemui saat mengeksplorasi bawah laut. Fisiknya tidak berubah selama 100 juta tahun,'' seperti itulah deskripsi Relicanth dalam gim Pokemon edisi Diamond, Pearl, dan Platinum.

Monster dalam gim Pokemon, Relicanth.
Monster dalam gim Pokemon, Relicanth. Sumber: Pokemondb

Dalam gim Pokemon terdapat monster tipe shiny yaitu monster dengan corak warna berbeda yang langka.

Relicanth tipe shiny di gim itu didesain dengan warna biru sesuai dengan Latimeria chalumnae atau Coelacanth asal perairan Afrika.

Baca Juga:

Referensi: Ocean.org | Nationalgeographic.com | Kompas.com | Darilaut.id | Ocean.si.edu | Nature.com | Koran Tempo | Augy Syahailatua, Oseana 2011, "Ikan Raja Laut (Indonesian Coelacanth, Latimeria menadoensis): Status Riset Terkini" | F. F. Hukom, Masamitsu Iwata, et.al, "History, Conservation and Research Program of Indonesian Coelacanth"

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga25%
Pilih SedihSedih17%
Pilih SenangSenang8%
Pilih Tak PeduliTak Peduli8%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau42%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
Perkembangan Alat Musik Gambus di Nusantara Sebelummnya

Perkembangan Alat Musik Gambus di Nusantara

Guru Besar UGM Sebut Pandemi Covid-19 Jadi Momentum Berhenti Merokok Selanjutnya

Guru Besar UGM Sebut Pandemi Covid-19 Jadi Momentum Berhenti Merokok

Dimas Wahyu Indrajaya
@dimas_wahyu24

Dimas Wahyu Indrajaya

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.