Kemeriahan Tumbilotohe Jelang Idulfitri, Seribu Lampu Hiasi Langit Gorontalo

Kemeriahan Tumbilotohe Jelang Idulfitri, Seribu Lampu Hiasi Langit Gorontalo
info gambar utama

Penyambutan malam Lailatul Qadar dan Hari Suci Idulfitri tahun ini di Gorontalo memang terasa tidak seperti biasanya. Tidak ada 1 juta lampu yang dinyalakan di seluruh Pantai Bolihutuo, Kabupaten Boalemo, Gorontalo. Pun, tidak ada riak-riak Festival Tumbilotohe yang selalu memeriahkan langit Gorontalo.

Suka cita menyambut Hari Kemenangan tahun ini, tidak bisa dipungkiri kerap diselimuti rasa sedih. Marten Taha, Walikota Gorontalo mengaku merasakan hal tersebut.

‘’Dalam situasi seperti ini, yang kita sering sebut malam Lailatul Qadar atau malam seribu bulan, namun perayaannya bertepatan dengan musibah wabah,’’ katanya dikutip Kronologi.id.

Seharusnya di Pusat Kota Gorontalo juga tersebar lampu-lampu menyala yang menambah syahdu suasana Ramadan pada 10 hari terakhir yang istimewa. Seluruh rumah, kantor, gedung-gedung pemerintahan akan memasang rangkaian lampu botol dengan menggunakan bahan bakar minyak tanah.

Tak mau diliputi rasa sedih, Bupati Gorontalo, Nelson Pomalingo, tetap melaksanakan tradisi malam pasang lampu di rumah dinasnya.

‘’Walaupun sederhana, tapi tetap kita laksanakan. Artinya tradisi keagamaan ini kita terus lakukan,’’ ungkap Nelson dikutip Kumparan.

Tradisi Tumbilotohe Adalah...

Tradisi Tumbilotohe
info gambar

Tumbilotohe berasal dari dua suku kata, yaitu tumbilo dan tohe. Tumbilo artinya pasang dan tohe artinya lampu. Jadi tumbilotohe diartikan dengan ‘’pasang lampu’’. Ini adalah sebuah tradisi yang tidak pernah alpa dilakukan oleh masyarakat Gorontalo.

Tradisi yang selalu di lakukan sejak abad ke 15 silam.

Tumbilotohe dirayakan masyarakat Gorontalo sebagai penanda bahwa hari Raya Idulfitri, Hari Kesucian, Hari Kemenangan sudah berada di depan mata. Bahkan tradisi ini kerap dilakukan sebagian besar masyarakat Gorontalo sejak 10 hari terakhir Ramadan tiba.

Kebahagiaan pada 10 hari terakhir Ramadan memang berlipat ganda. Sebab, pada momen inilah berkah malam Lailatul Qadar dan malam Idulfitri hadir sekaligus.

Biasanya, pemerintah provinsi Gorontalo akan mengadakan sebuah Festival Tumbilotohe. Ribuan masyarakat, baik itu lokal, wisatawan nasional, bahkan sampai pengunjung mancanegara kerap hadir dalam festival tersebut.

Sedikitnya 1 juta lampu akan tersebar sepanjang Pantai Bilihutuo, Kabupaten Boalemo. Tidak hanya sekitar pantai, pada tahun lalu Pemprov Gorontalo juga menyiapkan 200 Perahu Bagan dan perahu-perahu kecil nelayan untuk penempatan lampu-lampu agar menerangi setiap sudut bibir pantai.

Festival Tumbilotohe pada 2007 bahkan mendapatkan penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) karena berhasil menyalakan sampai 5 juta mata lampu.

Meski sudah mulai banyak masyarakat menggunakan lampu listrik, namun Pemprov Gorontalo berusaha untuk tetap menggunakan lampu pijar minyak tanah. Alasannya, agar nyala dari lampu-lampu tersebut tetap terjaga.

Pada 2019 silam, pemprov bahkan membagikan 14.000 liter minyak tanah secara gratis yang disebar ke pemerintah daerah, masjid-masjid, dan sejumlah titik keramaian pelaksanaan tumbilotohe.

Makna Tradisi Tumbilotohe

Tradisi Tambilotohe di Gorontalo
info gambar

Melansir Kronologi.id, sejak abad ke-15 ada dua makna atau kepercayaan masyarakat Gorontalo kala melakukan tradisi tumbilotohe. Terutama terkait nilai-nilai keislaman, yaitu:

1. Penerang Jalan Menuju Masjid untuk Membayar Zakat Fitrah

Sulitnya akses listrik pada masa lampau membuat masyarakat di setiap desa berinisiatif menyalakan lampu pijar di sisi jalan yang mengarahkan masyarakat ke masjid.

Bagi warga Gorontalo, kewajiban bagi seorang muslim untuk membayar zakat fitrah sering disebut juga dengan tradisi Mo Luhuta Pitara atau Mo He’Upa Pitara, yang artinya sama-sama memaknai zakat fitrah.

Oleh karena itu, agar pembayaran zakat fitrah lebih mudah, maka sepanjang jalan menuju masjid akan diterangi oleh lampu pijar yang sudah dipersiapkan masyarakat.

Selain itu, tumbilotohe yang diletakkan di setiap rumah juga memudahkan para amilin untuk mendeteksi jumlah wajib zakat. Misalnya, jika ada 10 buah lampu yang diletakkan di depan rumah seseorang, itu artinya ada 10 orang wajib zakat di rumah tersebut.

2. Pengingat Akan Malam Lailatul Qadar

Tradisi tumbilotohe sering dikaitkan dengan cerminan rasa kerinduan masyarakat Gorontalo akan malam Lailatul Qadar yang disebut malam terbaik sepanjang bulan Ramadan. Malam yang juga dipercaya lebih baik dari seribu bulan.

Pada malam-malam pelaksanaan tradisi tumbilotohe, masyarakat Gorontalo juga memanfaatkan momen ini untuk kembali mengingat pesan-pesan para leluhur terkait nilai-nilai Islam yang harus dipegang teguh oleh para muslim.

Tradisi tumbilotohe hanyalah sebagai bentuk sukacita dengan tidak mengurangi ritual ibadah yang pahalanya lebih besar dilakukan jika dilakukan pada bulan Ramadan. Momen kesenangan ini harus disambut sama halnya dengan momen mendapatkan berkah dan pahala yang berlipat.

Tradisi Tumbilotohe di Tengah Pandemi

Tradisi Tambilotohe di Tengah Pandemi
info gambar

Tak mau merusak momen dan kehilangan suka cita Ramadan di tengah pandemi, anak-anak dan para orang tuanya tetap akan merangkai beberapa lampu minyak di depan rumah. Dengan tetap disiplin pada protokoler kesehatan, mereka tetap memakai masker kain meski hanya untuk keluar ke teras rumah.

Gubernur Gorontalo, Rusli Habibie, sudah mengatakan bahwa Idulfitri tahun ini akan sangat berbeda. Di tengah pandemi, dia menegaskan tidak ada shalat Id di lapangan dan masjid di seluruh kabupaten dan kota.

Untuk shalat berjamaah saja tidak ada, apalagi untuk pelaksanaan tradisi tumbilotohe. Jadi, masyarakat Gorontalo tetap berbesar hari untuk tetap melaksanakan budaya dan tradisi meski dilakukan secara sederhana.

Toh, kita tidak akan kehilangan makna kemenangan hari suci Idulfitri. Hari kemenangan seluruh umat muslim setelah ibadah di bulan Ramadan selama sebulan penuh. Insya Allah.

Selamat hari raya Idulfitri, Kawan GNFI!

--

Sumber: Antara | Kronologi.id | Kumparan | Kompas | Kontan | Medcom.id

--

Baca Juga:

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dini Nurhadi Yasyi lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dini Nurhadi Yasyi.

Terima kasih telah membaca sampai di sini