Nganteuran dan Munjung, Tradisi Berbagi Makanan Jelang Idul Fitri

Nganteuran dan Munjung, Tradisi Berbagi Makanan Jelang Idul Fitri

Tradisi berbagi makanan jelang Idul Fitri terdapat di beberapa daerah di Indonesia salah satunya adalah ngantueran © Google Image/Pikirkanrakyat.com

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Menjelang perayaan Idul Fitri, banyak tradisi unik yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Misalnya, Keraton Yogyakarta, setiap tahun rutin menyelenggarakan tradisi Grebeg Syawal. Tradisi itu merupakan simbol rasa syukur karena sudah diberi kesempatan merayakan Idul Fitri setelah menunaikan ibadah puasa selama sebulan penuh.

Sementara pada warga Bugis dan Makassar, terdapat tradisi yang disebut Ma'burasa'. Ma'burasa' dalam bahasa lokal Bugis dan Makassar artinya kegiatan membuat burasa'.

Burasa' adalah sebuah panganan tradisional yang terbuat dari beras yang dicampur santan dan diberi sedikit garam. Setelah semua bahannya tercampur dan menjadi adonan, maka akan dibungkus dengan daun pisang dan diikat dengan teknik khusus sebelum akhirnya dikukus.

Jika sudah matang, burasa' akan dimakan bersama dengan menu tambahan lain yang khas dengan Idul Fitri seperti coto makassar, opor ayam, kari ayam, daging dan telur. Momen kebersamaan dalam menyantap burasa' ini sangat dirindukan ketika Hari Raya Idul Fitri.

Tradisi merayakan Idul Fitri atau Lebaran yang berkaitan dengan berbagi dan menyantap makanan bersama juga ada di suku dan budaya lainnya.

Di budaya Sunda, misalnya, tradisi saling hantar dan bertukar makanan antar tetangga atau kerabat terdekat disebut Nganteuran. Di sebagian wilayah Jawa Tengah, ada juga tradisi serupa yang disebut Munjung. Berikut ini GNFI akan jelaskan hal-hal yang berkaitan dengan tradisi nganteuran dan munjung.

Nganteuran

nganteuran
Tradisi Nganteuran menjelang Idul Fitri, tradisi ini sudah mulai jarang dilakukan oleh masyarakat Sunda | Google Image/jabar.sindonews.com

Tradisi semacam nganteuran sebenarnya dimiliki oleh hampir semua daerah dan suku yang ada di Indonesia. Hanya saja, tiap daerah dan suku tersebut memiliki cara atau nama tersendiri untuk menyebut tradisi itu.

Salah satu nilai luhur yang terkandung dalam tradisi nganteuran ini adalah, terjalinnya tali silaturahmi diantara tetangga dan keluarga. Selain itu, tradisi ini juga merupakan ajang untuk bercengkrama hingga bercanda bersama teman dan keluarga.

Secara keseluruhan, tata cara tradisi saling antar makanan ini memiliki kesamaan di tiap daerah. Masyarakat yang tinggal di suatu pemukiman akan memasak nasi beserta lauk pauk yang lengkap.

Usai memasak, mereka akan mengemas dan membagi makanannya ke dalam beberapa wadah. Ada wadah yang diperuntukan untuk orang rumah, juga ada wadah untuk tetangga dan keluarga dekat.

Wadah yang digunakan untuk mengantar makanan itu biasanya berupa rantang susun. Selain berisi nasi dan lauk pauknya, rantang-rantang itu terkadang juga diisi kue hingga buah-buahan.

Biasanya nganteuran dimulai dari orang yang paling muda ke rumah orang-orang yang lebih tua atau dituakan. Ketika makanan tersebut diantarkan, orang yang menerimanya biasanya akan memberi balasan berupa makanan dan amplop yang berisi uang jajan untuk si pengantar (yang biasanya masih anak-anak).

Saling antar makanan itu terus dilakukan antara satu keluarga dengan yang lainnya. Tradisi ini bisa sangat menarik jika di suatu pemukiman, masyarakatnya terdiri dari orang-orang dengan berlatar suku dan budaya yang berbeda. Mengingat, di masa kini, suatu pemukiman sudah jarang ada yang bersifat homogen meski ia berada di wilayah yang identik dengan suku atau budaya tertentu.

Bayangkan saja, jika pemukiman tersebut heterogen, walaupun dalam suatu rumah hanya memasak satu atau dua macam hidangan, pada akhirnya akan mendapatkan banyak jenis makanan hasil hantaran makanan dari para tetangga dan kerabatnya.

Misal jika ada orang Palembang, ia akan membuat pempek. Sementara orang Jawa, mungkin akan membuat tempe atau ayam bacem. Orang Maluku atau Papua akan memasak papeda dengan ikan kuah kuningnya. Maka, setelah saling antar makanan, masing-masing rumah akan mendapatkan hidangan yang beragam. Sungguh suatu tradisi yang sangat menyenangkan.

Munjung

munjung
Tradisi Munjung merupakan tradisi serupa Nganteuran yang ada di Jawa Tengah dan sebagian kota di Jawa Barat | Google Image/NU.or.id

Selain nganteuran ada juga tradisi serupa yang disebut munjung. Tata cara munjung sangat mirip dengan tradisi nganteuran, di mana masing-masing rumah saling hantar makanan antara satu dengan yang lain.

Meski tidak sebanyak dulu, tradisi munjung masih kerap dijumpai di beberapa daerah di Pulau Jawa, khususnya Jawa Tengah dan Jawa Barat. Menu yang menjadi hantaran biasanya hidangan-hidangan khas Lebaran seperti, ketupat, opor ayam, sambal goreng kentang, dan lain sebagainya.

Munjung biasa dilakukan di hari terakhir bulan Ramadan. Sore hari menjelang berbuka puasa di hari terakhir Ramadan, masyarakat saling berkunjung ke rumah kerabat atau tetangga. Mereka membawa makanan berupa ketupat, opor ayam atau sejenisnya untuk diberikan kepada yang punya rumah.

Dalam tradisi munjung mengandung nilai edukasi berupa rasa saling berbagi. Sebab itu, untuk mengajarkan anak-anaknya arti berbagi, biasanya orang tua memerintahkan anaknya sebagai penghantar punjungan (makanan yang di hantarkan).

Tujuan tradisi ini adalah sebagai wujud syukur dan berbagi kebahagiaan kepada orang tua, sanak saudara, tetangga, atau kepada orang-orang yang kurang beruntung.

Munjung juga merupakan wujud implementasi dari nilai-nilai yang diajarkan selama berpuasa, yaitu sedekah atau berbagi. Melalui tradisi ini, masyarakat yang kurang mampu dapat merasakan kebahagiaan di Hari Raya Idul Fitri.

Dalam perkembangannya, saat ini tradisi munjung tidak melulu dengan membawakan makanan khas Lebaran seperti ketupat dan opor ayam. Masyarakat sekarang lebih memilih cara praktis dengan menggunakan bingkisan parcel. Bila menilik maknanya, parcel juga bisa dikategorikan sebagai tradisi munjung yaitu kebiasaan saling berbagi dan memberi menjelang Hari Raya Idul Fitri.

Saat ini tradisi nganteuran dan munjung sudah tidak semasif dulu lagi. Namun, di beberapa daerah, tradisi ini masih tetap terus dipertahankan sebagai momen menyambut Hari Lebaran. Apakah tradisi semacam ini masih ada juga di tempat tinggal Kawan GNFI?

Baca juga:










WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang50%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau50%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
Kemeriahan Tumbilotohe Jelang Idulfitri, Seribu Lampu Hiasi Langit Gorontalo Sebelummnya

Kemeriahan Tumbilotohe Jelang Idulfitri, Seribu Lampu Hiasi Langit Gorontalo

Guru Besar UGM Sebut Pandemi Covid-19 Jadi Momentum Berhenti Merokok Selanjutnya

Guru Besar UGM Sebut Pandemi Covid-19 Jadi Momentum Berhenti Merokok

Pandu Hidayat
@armandu

Pandu Hidayat

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.