Pawai Hadrat di Kaimana, Tradisi Rayakan Idulfitri Tanpa Sekat

Pawai Hadrat di Kaimana, Tradisi Rayakan Idulfitri Tanpa Sekat

Kunjungan rombongan pawai hadrad di rumah kediaman Kapolres Kaimana AKBP Adam Erwindi Sik pada 2017. © Cyberspaceandtime.com

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Hari raya besar umat Islam, Lebaran atau Idulfitri, biasa dirayakan dalam sebuah bentuk tradisi oleh suku bangsa yang ada di Indonesia. Perlu diingat, terdapat 300 kelompok etnik atau lebih tepatnya 1.340 suku bangsa di Indonesia menurut sensus Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2010. Berhubung Indonesia adalah negara dengan pemeluk Islam terbesar di dunia dan suku bangsa yang beragam pula, tradisi merayakan Idulfitri pun berbeda-beda di setiap daerah.

Salah satu yang biasanya menggelar tradisi perayaan Idulfitri secara meriah ialah Kota Kabupaten Kaimana yang terletak di Papua Barat. Di kota seluas 18.500 km2 yang dihuni sekitar 58 ribu jiwa itu sering diselenggarakan pawai hadrat pada hari kedua Idulfitri.

Lalu, apakah pawai hadrat itu dan seberapa kemeriahannya? Pawai hadrat adalah tradisi yang dilakukan warga kota Kaimana setiap Idulfitri dengan cara berkeliling sekaligus bersilahturahmi. Bukan sekadar berkeliling, karena pawai dimeriahkan dengan tabuhan gendang khas tanah Papua, Tifa, sambil diiringi rebana dan selawat. Sambil berkeliling dan bersilahturahmi, warga kota akan menari bersama-sama.

Tradisi Lama Sejak 70-an

Menurut penuturan Wakil Ketua Badan Komunikasi Remaja Masjid Indonesia (BKRMI), Muhammad Karet, pada 2017, tradisi tahunan pawai hadrat sudah dilakukan sejak 1970-an. ''Hadrat merupakan budaya Islam yang kami ambil dari Syekh Abdul Qodir Jailani. Pukulan Hadrat ini di mana-mana ada, tapi di Kaimana punya pukulan tersendiri,'' jelas Muhammad Karet dilansir GNFI dari Kompas.

Dijelaskan Karet, kegiatan silahturahmi hadrat ini biasanya dilakukan pada hari kedua Idul Fitri. '''Silaturahmi hadrat dilakukan dua hari, pertama berkeliling di dalam Kota Kaimana dari Kampung Sran (Seran), Kampung Bumi Surmai, Kampung Anda Air, hingga ke Kampung Kaki Air. Dan pada hari berikutnya dengan menggunakan kendaraan roda dua dan empat keluar kota seperti Kampung Kroy, Kampung Baru, dan Kampung Coa,'' urai Karet.

Alat musik khas Papua, Tifa, dimainkan dalam pawai hadrat di Kaimana, Papua Barat, pada 2017.
Alat musik khas Papua, Tifa, dimainkan dalam pawai hadrat di Kaimana, Papua Barat, pada 2017. Sumber: Youtube.com/Kaimana Papua Barat - Kaimana Punya Cerita

Pada 2017 lalu, Idulfitri jatuh pada hari Jumat sehingga pawai Hadrat digelar sehari setelahnya. Saat itu dua ratusan anggota remaja Masjid dari anak kecil hingga dewasa sejak pagi telah berkumpul di Masjid Baitul Rahim, Kampung Sran. Mereka kemudian berjalan membentuk barisan memanjang dari remaja masjid diikuti rombongan penabuh rebana mengiringi pelantun shalawat yang berada di atas mobil pengangkut pengeras suara.

Iring-iringan rombongan silahturahmi hadrat berlangsung lambat karena sewaktu-waktu berhenti mendengar tabuhan rebana yang diikuti tarian dari para remaja masjid yang menari sambil melambai-lambaikan ranting dedaunan yang mereka bawa. Para peserta hadrat tidak perlu takut kehausan atau kelaparan, karena warga menjajakan kue-kue dan minuman di depan rumah mereka khusus bagi rombongan pawai.

Warga di sekitaran jalan yang dilalui pawai hadrat menjajakan makanan dan minuman di depan rumah mereka.
Warga di sekitaran jalan yang dilalui pawai hadrat menjajakan makanan dan minuman di depan rumah mereka. Sumber: Youtube.com/Kaimana Papua Barat - Kaimana Punya Cerita

Tak jarang anak-anak yang ikut rombongan terlibat rebutan minuman dan kue, yang menjadi pemandangan tersendiri dan meramaikan kegiatan ini. Kesempatan ini juga dipakai untuk saling memberikan ucapan Idul fitri. Pawai juga semakin meriah karena ada warga yang sengaja menunggu untuk bergabung dengan rombongan hadrat.

Tanpa Sekat, Muslim dan Non-Muslim Ikut Merayakan

Dibandingkan pemeluk agama Islam, pemeluk agama Kristen menjadi yang terbesar di Kaimana. Tercatat dalam laporan BPS, pemeluk Kristen berada di angka 56,46 persen, Islam 41,94 persen, sementara sisanya pemeluk agama Hindu, Buddha, dan lainnya. Namun, tidak ada permusuhan di sana, yang ada justru toleransi dan itu diperlihatkan dalam pawai hadrat.

Masih pada tahun 2017, tokoh Pemuda Kaimana, Randy Ombaier, menjelaskan pawai hadrat adalah wadah tempat Muslim dan Non-Muslim membaur. ''Tradisi hadrat dilaksanakan setiap Lebaran. Ini merupakan tradisi peninggalan sejak zaman dahulu oleh nenek moyang kami. Ajang silahturahmi ini juga diikuti warga Non-Muslim,'' ucap Randy dikutip dari Papua Barat Oke.

Kembali menurut Muhammad Karet, kegiatan ini memang merupakan ajang silaturahmi dengan semua warga tanpa mengenal perbedaan. Para peserta pawai akan bersilahturahmi dengan warga biasa sampai singgah ke rumah tokoh masyarakat setempat.

Peserta pawai Hadrat memenuhi ruas jalan di Kaimana.
Peserta pawai Hadrat di Kaimana memenuhi ruas jalan. Sumber: Youtube.com/fauzan ajeh

Unik menurut Karet, kegiatan ini juga diikuti oleh warga yang beragama lain. Ada yang memeriahkan di tempat-tempat yang menyediakan makanan dan minuman sambil ikut menari di tengah jalan serta ada pula yang memberikan sumbangan di kotak amal.

''Sejak awal kita ada toleransi, sebagian umat Kristiani ikut rombongan dengan tifa panjang dan ada juga memberikan sumbangan di kotak amal. Silaturahmi ini memang sangat bermakna, bukan hanya untuk umat Muslim tapi dirasakan seluruh warga Kaimana,'' ungkap Karet.

Meski perjalanan terbilang jauh, rombongan tak pernah lelah untuk berselawat diiringi suara rebana sambil diikuti anak-anak remaja masjid yang tetap semangat untuk menari. Hasil sumbangan yang mereka dapatkan, menurut Karet, nantinya akan dibagikan ke seluruh masjid dari Kampung Sran hingga ke Kampung Coa.

Baca Juga:

Referensi: Kompas.com | Papuabaratoke.com | Kaimanakab.bps.go.id

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
Benteng Terakhir Keragaman Alam yang Unik, Satu-satunya yang Tersisa di Dunia Sebelummnya

Benteng Terakhir Keragaman Alam yang Unik, Satu-satunya yang Tersisa di Dunia

Sejarah Hari Ini (4 Juli 1927) - Pembentukan PNI oleh Sukarno dan Cipto Mangunkusumo Selanjutnya

Sejarah Hari Ini (4 Juli 1927) - Pembentukan PNI oleh Sukarno dan Cipto Mangunkusumo

Dimas Wahyu Indrajaya
@dimas_wahyu24

Dimas Wahyu Indrajaya

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.