Posisi Matahari di Atas Ka'bah, Waktunya Periksa Arah Kiblat

Posisi Matahari di Atas Ka'bah, Waktunya Periksa Arah Kiblat
info gambar utama

Sebagai negara dengan umat Islam terbesar di dunia. Indonesia tentunya sangat memperhatikan berbagai ketentuan dan kebutuhan syarat beribadah untuk umat muslim. Salah satu ibadah wajib yang tidak boleh ditinggalkan dalam keseharian umat Islam adalah salat lima waktu, yaitu Subuh, Zuhur, Ashar, Magrib, dan Isya.

Salah satu syarat sah dalam salat adalah menghadap ke arah kiblat atau Ka’bah yang terletak di Masjid Al-Haram yang berlokasi di Makkah, Arab Saudi. Ketentuan tersebut ditegaskan dalam sejumlah dalil yang terdapat di Al-Qur’an dan hadis Rasulullah saw.

Dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 144, Allah Swt., berfirman, “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke arah kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjid Al-Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya.”

Perintah Allah Swt dalam Al-Qur’an tersebut, kembali ditegaskan oleh hadis Rasulullah saw yang berbunyi, ”Bila kamu hendak mengerjakan salat, hendaklah menyempurnakan wudu kemudian menghadap kiblat lalu takbir.” (HR Bukhari dan Muslim).

Atas dasar ayat Al-Qur’an dan hadis itulah, para ulama bersepakat bahwa menghadap ke Baitullah (Ka’bah) hukumnya wajib bagi orang yang melakukan salat. Dari dalil-dalil yang sudah dijabarkan tadi, kita bisa melihat betapa pentingnya arah kiblat dalam salat bagi umat Muslim di seluruh dunia.

ka'bah
info gambar

Berkaitan dengan arah kiblat, dalam dua hari ini (27-28 Mei 2020) ada fenomena penting untuk memeriksa kembali arah kiblat. Kata Agus Salim, Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah (Urais Binsyar), berdasarkan data astronomi, Rabu (27/05/2020) dan Kamis (28/05/2020), matahari akan melintas tepat di atas Ka’bah.

“Peristiwa alam ini akan terjadi pada pukul 16.18 WIB atau 17.18 WITA. Saat itu, bayang-bayang benda yang berdiri tegak lurus, di mana saja, akan mengarah lurus ke arah Ka’bah,” papar Agus Salim, di Jakarta, Selasa (26/05/2020) seperti dikutip dari Bimasislam.kemenag.go.id.

Agus menerangkan, peristiwa semacam ini dikenal dengan nama Istiwa A’dham atau Rashdul Qiblah. Kedua istilah tersebut bisa dimaknai sebagai waktu matahari di atas Ka’bah di mana bayangan benda yang terkena sinar matahari menunjuk arah kiblat.

Momentum ini, lanjutnya, bisa digunakan oleh umat Islam untuk memverifikasi kembali arah kiblat salatnya selama ini. Caranya adalah dengan menyesuaikan arah kiblat dan arah bayang-bayang benda pada saat rashdul qiblah.

Menurut Agus, ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam proses verifikasi arah kiblat. Pertama, pastikan benda yang menjadi patokan harus benar-benar berdiri tegak lurus. Bisa menggunakan lot atau bandul sebagai alatnya.

Kemudian, permukaan harus betul-betul datar atau rata. Terakhir, jam pengukuran harus disesuaikan dengan standar dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), RRI atau Telkom.

Tidak Semua Wilayah

Keterangan dari Agus juga diperkuat oleh peneliti dari Pusat Sains Antariksa Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Andi Pangerang. “Tahun ini, kalibrasi arah kiblat terjadi pada hari Rabu (27/05/2020) pukul 16.18 Waktu Indonesia Barat bertepatan dengan 4 Syawal 1441 Hijriah,’’ jelas Andi seperti dikutip dari Wartaekonomi.co.id.

Ia menambahkan, sedangkan kalibrasi arah kiblat kedua terjadi pada hari Rabu, 15 Juli 2020 pukul 16.27 WIB, bertepatan dengan 24 Dzulqa'dah 1441 Hijriah.

Andi mengungkapkan setiap tahun memang ada waktu-waktu tertentu di mana posisi matahari berada tepat di atas Ka’bah. Bagi wilayah yang dapat menyaksikan matahari ketika berada tepat di atas Ka’bah, maka seluruh bayangan benda yang tegak lurus permukaan Bumi akan menghadap ke arah kiblat.

Fenomena inilah yang disebut sebagai Kalibrasi Arah Kiblat, dalam bahasa Arab Istiwa’ al-A’dham. Sementara dalam bahasa Inggris disebut Great Culmination. “Atau disebut juga Rashdul Qiblah Global, karena separuh wilayah Bumi dapat memanfaatkan momen ini untuk meluruskan arah kiblat, ‘’ kata Andi.

kiblat
info gambar

Hampir sebagian besar wilayah Indonesia dapat memanfaatkan momen ini untuk meluruskan arah kiblat. Meski begitu, ada beberapa wilayah yang tidak dapat memanfaatkan fenomena ini, sebab di daerah tersebut sudah terlalu sore atau malam.

Daerah-daerah itu di antaranya adalah sebagian Provinsi Maluku mulai dari Kabupaten Maluku Tengah, Kabupaten Seram bagian Timur, Kabupaten Tanimbar, Kabupaten Kepulauan Kei, Kota Tual, Kabupaten Maluku Barat Daya (minus Pulau Wetar) dan Kabupaten Kepulauan Aru. Selain itu, ditambah juga dengan Provinsi Papua Barat serta Provinsi Papua.

Namun, kesembilan wilayah itu tetap dapat meluruskan arah kiblat ketika matahari berada di titik balik atau Nadir Ka’bah (disebut juga sebagai Antipoda Ka’bah). Peristiwa tersebut akan terjadi pada 29 November pukul 00.09 Waktu Saudi atau pukul 6.09 Waktu Indonesia Timur (WIT). Selain itu juga pada 14 Januari pukul 00.30 Waktu Saudi atau 6.30 WIT.

Menurut Andi, menentukan arah kiblat menggunakan Kulminasi Agung ini terbilang sangat mudah dan juga murah. Hasil yang didapat pun lebih akurat dibanding jika kita memakai alat bantu seperti kompas. Hal itu disebabkan kompas dipengaruhi oleh medan magnet alami maupun buatan, sehingga dapat mempengaruhi keakuratan pengukurannya.

Langkah-langkah Menentukan Arah Kiblat

Untuk lebih mengetahui secara lengkap cara menentukan arah kiblat dengan menggunakan metode Kulminasi Agung, berikut ini GNFI paparkan langkah-langkahnya:

  1. Menentukan tempat yang ingin diketahui arah kiblatnya, lalu cari lokasi yang datar (rata) dan harus terkena cahaya matahari.
  2. Gunakan tongkat lurus atau jika tak ada, bisa diganti dengan menggunakan benang berbandul/lot.
  3. Atur jam yang sudah dikalibrasi dengan merujuk pada https://jam.bmkg.go.id/Jam.BMKG atau https://time.is/.
  4. Tancapkan tongkat di atas permukaan tanah dan pastikan tongkat tersebut sudah tegak lurus (90 derajat dari permukaan tanah) atau bisa juga dengan menggantungkan benang berbandul tadi.
  5. Tunggu hingga waktu mencapai Kulminasi Agung. Lalu amati bayangan tongkat atau benang berbandul tadi pada waktu tersebut. Tandai ujung bayangan, kemudian tariklah garis lurus dengan pusat bayangan tongkat atau bandul tersebut.
  6. Garis lurus yang dihasilkan dengan menghadap dari ujung ke pusat bayangan itulah, yang merupakan arah kiblat untuk tempat tersebut.

Bagaimana? Apakah Kawan GNFI sudah memeriksa kembali arah kiblat di tempat tinggalnya masing-masing?


Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini