Apakah TNI AL Perlu Mengoperasikan Kapal Induk?

Apakah TNI AL Perlu Mengoperasikan Kapal Induk?

Ilustrasi © Unsplash.com

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Awal tahun 2020 lalu, para petinggi Angkatan Laut AS (US Navy) sedang dirundung gelisah. Kapal Induk Gerald R. Ford, alat perang paling mahal yang pernah diproduksi AS, belum juga melaut dan memperkuat armada laut negara adidaya tersebut. Upaya habis-habisan AL AS mengatasi berbagai kendala teknis kapal induk tersebut selama ini belum juga tuntas.

Pada bulan Desember 2019, KASAL AS waktu itu (sebelum mengundurkan diri pada April 2020) Thomas Modly memerintahkan para awak kapal perang senilai $ 13 miliar (sekitar Rp.190 trilyun) agar segera menyelesaikan berbagai kendala teknis di kapal tersebut hingga kwater IV 2020 dan membuat program "Make Ford Ready" yang berarti bahwa Kapal Induk Gerald R. Ford harus segera dibuat siap melaut dan menjalankan misi-misi militer AS.

Kapal induk paling mutakhir buatan AS tersebut sudah lama bergelut dengan berbagai masalah, mulai dari biaya yang besar dan terus bertambah, kendala-kendala teknis, persenjataan, hingga urusan politik. Awalnya, kapal induk tersebut direncanakan sudah bisa memperkuat AL AS pada akhir 2015. Kapal ini baru saja selesai menjalani uji coba selama 18 bulan, dan diketahui masih menyimpan beberapa kendala teknis. Military.com menulis bahwa kemungkinan besar, kapal ini baru bisa benar-benar melaut di samudera lepas pada akhir 2021, setelah mendapatkan sertifikasi dari Kemenhan AS.

USS Gerald R. Ford | Cc-by-4.0

Saat ini, AL AS memiliki 10 kapal induk yang berbasis di AS dan di luar negeri, dan USS Gerald R. Ford sendiri adalah kapal induk ke-11. Publik AS sudah lama mengeryitkan dahi mengetahui betapa mahalnya pembuatan satu kapal induk. AS memang memiliki kemampuan mumpuni dalam membangun kapal induk sendiri. Dan itupun biasanya membengkak. Belum lagi perawatannya. Meski begitu, pemerintah AS tetap melanjutkan pembuatan kapal induk, untuk menjaga superioritas militer AS, terutama di matra laut. Kemenhan AS sendiri mendapatkan gelontoran anggaran $687 milyar, begitu besar. Jumlah tersebut sama dengan anggaran pertahanan 10 negara di bawahnya, yakni China, Rusia, India, Arab Saudi, Prancis, Jerman, Inggris, Jepang, Korsel, dan Brazil.

Sumber: Peter G. Peterson Foundation

Dalam forum-forum militer Indonesia, seringkali dibahas perlunya TNI AL memiliki kapal induk, dengan berbagai justifikasi. Entah berita tersebut dari mana asalnya, tapi gambar-gambar design kapal induk yang konon akan bernama KRI Nusantara tersebut bersliweran di linimasa sosial media kita beberapa waktu lalu.

Apakah benar Indonesia sudah mempersiapkan diri untuk memiliki dan mengoperasikan kapal induk? Atau mungkin pertanyaan tepatnya adalagh, benarkah Indonesia memerlukan kapal induk?

Bayangkan, AS yang membangun sendiri kapal induk (bukan membeli) USS Gerald R Ford mencapai $12.8 milyar jumlah yang tak sedikit untuk ukuran Indonesia, angka yang lebih besar dari anggara pertahanan Indonesia setahun. Belum lagi pengoperasiannya yang mencapai $7 juta per hari, setara dengan $102 milyar per hari. Sungguh jumlah yang bikin geleng-geleng kepala.

Sejauh ini, di Asia Tenggara, hanya Thailand yang memiliki kapal induk ukuran sedang "HTMS Chakri Naruebet" yang bahkan tidak 'dihuni' oleh pesawat tempur, dan hanya diisi dengan beberapa helikopter. Kapal induk terkecil di dunia ini pun teramat jarang berlayar ke lautan lepas, dan bahkan oleh AL Thailand dijuluki "An Offshore Helicopter Carrier". AL Thailand membeli bekas kapal AV-8S Matadors tersebut dari Spanyol. Pemerintah Thailand memesan kapal ini pada 1992, diluncurkan pada 1996, dan mulai bertugas bersama AL Thailand pada 1997.

HTMS Chakri Naruebet | USN


HTMS Chakri Naruebet dirancang untuk mengoperasikan helikopter dan pesawt jet dengan kemampuan lepas landas dan mendarat vertikal/landasan pendek (V/STOL) semacam Sea Harrier atau V-22 Osprey. Namun fasilitas inipun tak dimanfaatkan karena cekaknya anggaran. sejak 1997 akibat keterbatasan dana sebagai dampak krisis keuangan, kapal ini lebih banyak bersandar di pangkalan AL Sattahip. Kini, kapal yang dibuat dengan biaya 336 juta dolar AS atau sekitar Rp 5 triliun itu hanyalah berlatih sekali setiap bulan dan untuk membawa keluarga kerajaan Thailand.

Memang, untuk mempunyai kapal induk pesawat tempur, perlu usaha teramat ekstra. Selain harganya mahal, pengoperasiannya juga amat mahal, dan bukan hal mudah dalam banyak hak teknis. Negara sebesar dan sekaya China pun, cukup berhati-hati saat memulai program kapal induknya. Kapal induk pertama negara tersebut yang bernama "Lianoning" yang merupakan bekas kapal induk buatan Uni Sovyet kelas Kuznetsov yang mulai dibangun pada 1985, dan dihentikan pada 1991 pasca runtuhnya Sovyet. Kapal Induk kedua, dibuat sepenuhnya di China, namanya "Shandong", yang memakai basis design Lianoning. China saat ini sedang membuat kapal induk ke-3 dan ke-4, dan awalnya merencanakan 2 lagi tambahan.

Kapal Induk Shandong milik AL China | Global Times

Karena besarnya biaya dan anggaran pemeliharaan harian yang begitu besar, dua kapal induk tambahan yang direncanakan akan dibangun (yang ke-5 dan ke-6) , juga telah dibatalkan pada akhir 2019 lalu.

Kekuatan angkatan laut China dengan 4 kapal induknya, memang masih jauh dari kemampuan kapal induk AS baik dari sisi kemampuan jelajah, hingga teknologi, dan kemampuan tempurnya. Masih perlu waktu belasan tahun bagi insinyur-insyinyur China agar mampu membangun kapal induk secanggih kapal induk yang dimiliki AL AS saat ini.

Ini dari segi pembiayaan. Lalu dari segi kebutuhan, apakah Indonesia benar-benar membutuhkan kapal induk?

Sepengetahuan penulis, kapal induk memang sama sekali tidak masuk dalam kajian pengadaan alutsista. Beberapa waktu lalu, TNI sedang gencar mempekuat industri pembuatan kapal perang dan kapal selam. Selain itu, potensi Indonesia yang kaya akan pulau-pulau yang bisa dimanfaatkan menjadi kapal induk.

“Kita tidak butuh kapal induk, pulau-pulau kita jadikan kapal induk. Kalau di sini bisa kita letakkan pesawat tempur, pesawat transportasi, kemudian kapal-kapal dan juga logistik, terus apa bedanya pulau ini dengan kapal induk untuk menjaga wilayah,” kata mantan panglima TNI Jend. Gatot Nurmantyo seperti dikutip vivanews.com

Namun bila yang jadi rujukan adalah kapal induk helikopter, tentu ini sangat realistis, dan secara teknologi sudah memungkinkan dibangun oleh industri strategis Dalam Negeri. Bahkan saat ini, TNI AL sudah mengoperasikan 5 kapal LPD (Landing Platform Dock) yang mampu membawa dan didarati helikopter (bisa disebut Helicopter Carrier).

Seperti dikutip dari Indomiliter.com, dalam konteks dukungan pada operasi tempur, helicopter carrier akan memenang peranan vital. Dengan kemampuan logistik, komunikasi dan hub transportasi, kapal ini bisa didaulat menjadi kapal markas. Sebagai kapal induk helikopter, dalam konsepnya PT PAL menyebut luas deck utama dapat didarati delapan unit helikopter ukuran sedang. Sementara masih ada delapan unit helikopter lainnya yang berada di dalam hanggar. Belum lagi peralatan tempur lain dan ratusan personel tempur.

Kita yakin, bahwa para petinggi militer Indonesia sudah mempunyai konsep pertahanan yang didalamnya termasuk kebutuhan akan sarana dan prasarananya. Pun meyakini bahwa TNI akan terus menambah kemampuan tempurnya.

===

Referensi:

Roblin, Sebastien. “China Cancelled Two Super Aircraft Carriers. Here's the Story Why.” The National Interest, The Center for the National Interest, 26 Dec. 2019, nationalinterest.org/blog/buzz/china-cancelled-two-super-aircraft-carriers-heres-story-why-108671.

Stashwick, Steven. “Technical Problems, Slowing Economy Cut China's Carrier Ambitions.” – The Diplomat, For The Diplomat, 9 Dec. 2019, thediplomat.com/2019/12/technical-problems-slowing-economy-cut-chinas-carrier-ambitions/

Larson, Caleb. “China's Aircraft Carriers: Bark or Bite?” RealClearDefense, 17 Apr. 2020, www.realcleardefense.com/articles/2020/04/17/chinas_aircraft_carriers_bark_or_bite_115213.html.

Hardoko, Ervan. “Mengenal Chakri Naruebet, Kapal Induk Terkecil Di Dunia.” KOMPAS.com, Kompas.com, 4 Sept. 2018, internasional.kompas.com/read/2018/09/04/12050011/mengenal-chakri-naruebet-kapal-induk-terkecil-di-dunia.

Militer, Pengamat, et al. “Kapal Induk Helikopter Indonesia: Bila Ada Komitmen Pasti Bisa Diwujudkan.” Indomiliter.com, 24 Apr. 2017, www.indomiliter.com/kapal-induk-helikopter-indonesia-bila-ada-komitmen-pasti-bisa-diwujudkan/.

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga20%
Pilih SedihSedih40%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau40%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
Sejarah Hari Ini (29 Mei 1773) - Konstruksi Selesai, Masjid Gedhe Kauman Berdiri di Yogyakarta Sebelummnya

Sejarah Hari Ini (29 Mei 1773) - Konstruksi Selesai, Masjid Gedhe Kauman Berdiri di Yogyakarta

Dibanderol Sejutaan, Xiaomi Boyong Redmi 9 Ke Indonesia. Vivo X Series Kapan? Selanjutnya

Dibanderol Sejutaan, Xiaomi Boyong Redmi 9 Ke Indonesia. Vivo X Series Kapan?

Akhyari Hananto

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.