Sejarah Hari Ini (2 Juni 1957) - Indonesia Sarangkan Tiga Gol ke Gawang Cina

Sejarah Hari Ini (2 Juni 1957) - Indonesia Sarangkan Tiga Gol ke Gawang Cina
info gambar utama

Timnas sepak bola Indonesia menjalani pertandingan melawan tuan rumah Cina di Beijing (kadang disebut juga dengan nama Peking) pada 2 Juni 1957.

Laga tersebut merupakan leg kedua dalam kualifikasi Piala Dunia 1958 yang akan berlangsung di Swedia.

Saat itu Indonesia tergabung dalam Zona Asia-Afrika Grup 1 bersama Cina dan Taiwan.

Namun karena Taiwan mengundurkan diri, jadilah Indonesia dan Cina langsung bersaing di babak knock-out.

Sebelumnya pada leg pertama di Jakarta pada 12 Mei 1957, Indonesia sukses menggasak Cina dengan skor 2-0 lewat brace (dua gol) penyerang asal Makassar, Andi Ramang.

Misi balas dendam diembankan kesebelasan Cina yang digembleng pelatih asal Hungaria, József Ember.

Tahu Cina akan berupaya membalas kekalahan, timnas Indonesia asuhan eks pesepak bola Kroasia, Antun 'Toni' Pogacnik, berusaha tidak lengah ketika berlaga di Stadion Xiannongtan, markas dari tuan rumah.

Saat itu di hadapan 18 ribu penonton - termasuk Perdana Menteri Cina Chou En Lai, duta besar Indonesia untuk Cina Sukardjo Wirjopranoto, dan Jenderal Besar Militer Indonesia Gatot Subroto - Indonesia mampu memberikan perlawanan sengit dengan menyarangkan tiga gol ke gawang Cina.

Laga Sengit Bertabur Gol

''Orang Indonesia semua bermain dengan sangat baik. Mereka bahkan tampil lebih baik daripada di pertemuan sebelumnya, tetapi para pemain Cina sedikit lebih baik secara mental maupun fisik. Mereka lebih produktif dan lebih cepat, sehingga skor akhir terlihat sewajarnya,'' jelas yang tertulis dalam surat kabar berbahasa Belanda, De Preangerbode.

Ya, sesuai dengan laporan berita di atas, walaupun Indonesia sanggup mencetak tiga gol, tetapi Cina lah yang memenangkan laga tersebut dengan skor 4-3.

Laga hujan gol itu terhitung seru bahkan sejak peluit baru dibunyikan wasit asal India, Chakrabarty.

Dua pilar kesebelasan Cina, Zhang Hong Gen dan Nian Weisi, sukses membuat Cina unggul 2-0 pada 10 menit pertama.

Pada menit 25', Indonesia sanggup menipiskan jarak skor lewat Ramang. Skor 2-1 untuk keunggulan Cina bertahan hingga jeda.

Pada babak kedua, Cina sempat menjauh lewat gol Sun Fucheng ketika laga baru berjalan dua menit.

Indonesia tidak patah arang, karena pada interval babak kedua mereka sanggup menyamakan skor menjadi 3-3 melalui aksi Ramang (55') dan sepakan indah penyerang sayap kanan Endang Witarsa (70') yang mengecoh kiper Huang Zhaowen.

Skor Indonesia dan Cina sama kuat pada menit 70.
info gambar

Sayangnya gawang kiper sekaligus kapten timnas Indonesia, Maulwi Saelan, kembali dibobol keempat kalinya lewat tembakan kaki kiri Wang Lu pada menit 75'.

Jika saja sistem agregat sudah diterapkan, Indonesia bisa langsung melaju ke babak play-off Piala Dunia 1958.

Namun karena yang dijadikan patokan ialah jumlah menang head-to-head, pertandingan revans pun dilakukan di tempat netral yakni di Yangon, Birma (Myanmar), pada 23 Juni 1957.

Dalam laga yang dipimpin wasit setempat, U Ba Thaung, kedua tim bermain kuat 0-0 di Stadion Aung San.

Kiper dan kapten timnas Indonesia, Maulwi Saelan.
info gambar

Karena babak penalti belum diterapkan FIFA, pemenang pun dipilih melalui jumlah gol dari tiga pertemuan terakhir.

Ya, Indonesia yang mencetak lima gol mampu menyingkirkan Cina dan selangkah lagi menuju Piala Dunia 1958 andai bisa mengalahkan Israel dalam babak play-off.

Jakarta, Bangkok, Kowloon, dan Beijing

Indonesia memang kalah pada leg kedua melawan Cina, tetapi mencetak tiga gol ke gawang dirasa sudah cukup bagus terlebih lagi mengingat para penggawanya menempuh perjalanan yang panjang ke Beijing.

Perjalanan maha melelahkan harus dirasakan rombongan timnas Indonesia demi melakoni leg kedua melawan Cina.

Disampaikan reporter olahraga, Mahargono, pemain timnas harus transit dulu di Bangkok, Thailand, untuk istirahat sebelum terbang lagi keesokan harinya.

''Cobalah pikirkan, kami berangkat tanggal 23 (Mei) dari Jakarta, sorenya tiba di Bangkok. Dari lapangan terbang sampai ke hotel naik bus lebih dari 2 jam, melalui jalan-jalan yang panas dan kotor penuh debu. Memang kota Bangkok adalah panas dan kotor sekali,'' tulis Mahargono dalam majalah mingguan Star Weekly yang terbit 8 Juni 1957. ''Kamu bisa menggambarkan bagaimana rasanya badan kami yang sudah letih dan lapar itu setibanya di hotel setelah naik kapal terbang sehari penuh ditambah lagi berputar-putar dalam bus yang penuh sesak melalui jalan-jalan yang penuh debu berjam-jam lamanya.''

Setelah dari Bangkok, rombongan timnas menumpang pesawat maskapai Jepang dengan tujuan Kowloon, Hong Kong.

''Jauh berbeda dengan di Bangkok kemarin, maka penyambutan di lapangan terbang Hong Kong meriah sekali. Konsul Jenderal kita saudara Maimun Hamzah beserta segenap anggota perwakilan kita lengkap hadir, wartawan-wartawan banyak sekali. Yang menjadi pusat perhatian ialah saudara Ramang. Ia tetap terkenal semenjak "Hong Kong Tour" dulu,'' terang Mahargono.

Dari Kowloon, rombongan timnas bertolak lagi ke Kanton/Provinsi Guangdong (Guangzhou) yang perjalanannya setara Jakarta-Bandung di mana saat itu memakan sehari penuh.

Memasuki Stasiun Lo Wu, pihak kepolisian Hong Kong melakukan pemeriksaan surat-surat para pendatang yang memakan waktu perjalanan jadi lebih lama.

''Di situlah kami merasa menderita betul-betul, lebih-lebih lagi karena ada beberapa orang turis barat yang bersama-sama kami dapat pelayanan yang lebih lancar,'' lapor Mahargono lagi.

Sesampainya di Kanton, pelatih Toni Pogacnik lalu meminta skuadnya untuk berlatih sebelum mereka berangkat ke Beijing menggunakan pesawat.

Cobaan pun datang karena pesawat tujuan Beijing yang seharusnya terbang pukul 06.30 harus diundur karena cuaca buruk.

''Memang sungguh luar biasa beratnya perjalanan Kanton-Peking. Kalau mau naik kereta api lamanya 3 hari 3 malam,'' kata Mahargono mencoba berandai bila tidak menggunakan pesawat.

Selain faktor kelelahan, Indonesia juga mesti menghadapi permainan keras pemain Cina yang memburu kaki para pemain ketika bertanding.

''Kiat Sek (penggawa timnas Indonesia) permainannya agak kurang safe dibandingkan dengan pertandingan di Jakarta yang lalu,'' terang Mahargono lewat laporan khususnya. ''Menurut keterangannya, dia juga terpengaruh oleh kedua gol pertama tersebut dan juga oleh kekerasan permainan lawannya, sehingga dia tidak hanya memusatkan perhatiannya kepada bola, melainkan juga kepada lawannya yang ternyata tidak hanya memburu bola, melainkan juga kaki. Sehingga Kiat Sek pahanya juga sudah kelihatan terluka.''

Selangkah Lagi ke Piala Dunia, tapi Terganjal Urusan Politik

Indonesia bisa saja tampil ke Piala Dunia 1958 jika sanggup mengalahkan Israel yang saat itu tidak terhitung jago.

Namun kondisi politik yang panas antara Israel dan bangsa Arab berimbas pada nasib kesebelasan timnas Indonesia.

Kala itu Presiden Sukarno emoh mengakui Israel sebagai negara dan menentang penjajahan Israel terhadap rakyat Palestina.

''Indonesia yang secara politik sedang getol-getolnya mengumandangkan perlawanan terhadap neokolonialisme, menganggap Israel sebagai penjajah rakyat Palestina dan karena itu, menolak bertanding di Israel,'' tulis Owen A. McBall dalam Football Villains.

Setelah sukses menahan imbang Cina dengan skor 0-0 di Myanmar pada 23 Juni 1956, timnas sepak bola Indonesia kembali ke Indonesia pada 26 Juni. Seusai pesawat mendarat, kiper dan kapten kesebelasan Indonesia, Maulwi Saelan, mendapatkan sambutan spesial dari pemerintah di Jakarta.
info gambar

PSSI sempat meminta FIFA untuk menghelat laga Indonesia versus Israel di tempat netral, bukan di Israel.

"Indonesia tetap berpendapat bahwa semua dua pertandingan tim nasional Indonesia melawan Israel untuk babak kualifikasi Piala Dunia harus dimainkan di tempat netral," jelas Kosasih Purwanegara selaku pihak PSSI yang hadir dalam pertemuan dengan FIFA di Den Haag, Belanda, pada akhir Juli 1957, dikutip dari
Het nieuwsblad voor Sumatra.

Namun, permintaan itu ditolak mentah-mentah. PSSI pun memilih mundur dari putaran kedua kualifikasi.

''Itu (menghadapi tim Israel) sama saja mengakui Israel. Ya, kita nurut (Bung Karno yang anti-Israel). Enggak jadi berangkat,'' terang Saelan pada 2014, dikutip GNFI dari Historia.

Israel tidak otomatis lolos, karena FIFA melarang sebuah tim berpartisipasi di Piala Dunia tanpa sekalipun bertanding.

Dipilihlah Wales yang tak lolos Zona Eropa tetapi punya nilai tertinggi di antara yang lainnya.

Dalam laga home and away, Wales yang diperkuat striker klub raksasa Liga Italia Juventus, John Charles, sukses menghempaskan Israel dengan skor agregat 4-0 dan berhak mencicipi debut di ajang Piala dunia.

Baca Juga:


Referensi: Teamchina.freehostia.com | Statfaneuro.narod.ru | Historia.id | Wildeastfooball.net | Star Weekly | Java Bode | Het nieuwsblad voor Sumatra | De Preangerbode | Owen A. McBall, "Football Villains" | Phil Stead, "Red Dragons - The Story of Welsh Football" |

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini