Sejarah Hari Ini (7 Juni 1928) - Teleskop Zeiss Observatorium Bosscha Siap Dicoba

Sejarah Hari Ini (7 Juni 1928) - Teleskop Zeiss Observatorium Bosscha Siap Dicoba

Foto gedung kubah Observatorium Bosscha yang dilengkapi dengan Teleskop Zeiss sekitar tahun 1935. © KITLV

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Observatorium Bosscha (dibaca: boska) merupakan salah satu tempat penelitian bintang tertua di Indonesia yang mulai dibangun pada 1922 dan selesai setahun berikutnya.

Letaknya berada di Lembang, Kabupaten Bandung, di kaki Gunung Tangkubanperahu yang berada di ketinggian 1.300 meter di atas permukaan laut.

Ide pembangunan observatorium di Hindia Belanda - sebutan bagi Indonesia saat itu - dikemukakan oleh insinyur-astronom kelahiran Madiun, Joan George Erardus Gijsbertus Voute.

Voute melihat bahwa penelitian astronomi terhambat karena kurangnya jumlah observatorium dan pengamat di belahan bumi selatan.

Pada awalnya, Voute meneliti di Cape Observatory, Afrika Selatan, tetapi kurangnya dukungan pemerintah setempat membuat ia kembali ke Batavia, Hindia Belanda.

Jika dilihat, belahan Bumi selatan sebagian besar ditutupi samudera.

Pada awal abad 20, teleskop bintang yang ada di selatan khatulistiwa hanyalah di Tanjung Harapan di Afrika Selatan dan Australia, sehingga eksplorasi langit selatan merupakan dambaan besar.

Demi menuntaskan mimpi mengembangkan ilmu astronomi itulah membuat Voute mempengaruhi beberapa astronom negeri Belanda untuk membangun Observatorium di tanah jajahan.

Beruntung, Voute bersahabat dengan pengusaha perkebunan teh di Malabar, Bandung, Jawa Barat, Karel Albert Rudolf Bosscha.

Karel Albert Rudolf Bosscha.
Karel Albert Rudolf Bosscha. Sumber: Tropenmuseum

Sebagai juragan teh Priangan yang sukses, Bosscha lalu menyisihkan keuntungannya untuk kemajuan ilmu pengetahuan dan kemanusiaan di Hindia Belanda.

Atas bantuan dana dari pengusaha lain dan sejumlah akademisi maka dibentuklah organisasi Nederlandsch Indische Sterrenkundige Vereeniging (NISV) atau Perhimpunan Astronom Hindia Belanda.

Pada awal tahun 1921, Bosscha bersedia membayar sebuah teleskop dengan garis tengah 60 cm dan panjang fokus 10 meter.

Teleskop ini kemudian dipesan dari perusahaan optik ternama Jerman, Carl Zeiss Jena.

Sebuah observatorium akhirnya juga dibangun di sebidang tanah seluas 6 hektar yang dihibahkan oleh keluarga Ursone, pemilik perusahaan susu bernama Baroe Adjak.

Berhubung Bosscha adalah penyandang dana utama, observatorium itu kemudian dinamai sesuai dengan namanya.

Teleskop yang dipesan Bosscha dari Carl Zeiss membutuhkan waktu tujuh tahun untuk membuat dan mengantarkannya ke Hindia Belanda.

Dikutip GNFI dari surat kabar De Amsterdammer, teleskop tersebut tersebut tiba di Hindia Belanda pada Januari 1928.

Artikel mengenai sejarah Observatorium Bosscha di surat kabar De Amsterdammer yang terbit pada 11 Maret 1932.
Artikel mengenai sejarah Observatorium Bosscha di surat kabar De Amsterdammer yang terbit pada 11 Maret 1932. Sumber: De Amsterdammer

''Pada Januari 1928 teleskop besar tiba di Hindia Belanda dengan kapal barang milik Rotterdam Llyod di mana Zeiss selaku pengirimnya,'' jelas yang tertulis dalam artikel De Amsterdammer.

Pemasangan teleskop menghabiskan waktu beberapa bulan dan setelah selesai dipasang diselenggarakan sebuah acara peresmian Teleskop Kubah Besar Zeiss pada 7 Juni 1928

Acara tersebut dihadiri oleh Gubernur Jenderal Belanda, Andries Cornelis Dirk de Graef, yang kemudian memberikan bintang kehormatan kepada Bosscha.

Teleskop Zeiss merupakan yang terbesar di Observatorium Bosscha.

Di kubah gedung observatorium (gedung Koepel) yang bisa berputar 360° itu, Teleskop Zeiss diletakkan di mana bagian ujungnya menengadah ke langit dengan posisi antara celah atap gedung yang bisa membuka dan menutup. Dari luar gedung, bagian ujung teleskop bisa dilihat dan pemandangan ini menjadi ikon Observatorium Bosscha hingga saat ini.

Kini, Observatorium Bosscha berada di bawah pengelolaan Institut Teknologi Bandung (ITB), tepatnya di bawah Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Program Studi Astronomi.

Dalam rilis tertulis yang dipublikasikan FMIPA ITB, disebutkan bahwa salah satu fungsi Teleskop Zeiss adalah untuk mengamati bintang ganda.

Pemandu tur menjelaskan Teleskop Zeiss yang diletakkan di Gedung Koepel, Observatorium Bosscha, Lembang, Kabupaten Bandung, pada September 2019.
Pemandu tur menjelaskan Teleskop Zeiss yang diletakkan di Gedung Koepel, Observatorium Bosscha, Lembang, Kabupaten Bandung, pada September 2019. Sumber: Shutterstock/Yessi Frenda

Meskipun usianya sudah uzur, Teleskop Zeiss masih terawat hingga awal abad 21.

''Secara prinsip sih sederhana, tapi karena ukurannya masif maka pengerjaan (perawatannya) biasanya memakan waktu berhari-hari,'' ujar staf Sains dan Pendukung Observatorium Bosscha, Mochamad Irfan, yang pernyataannya dilansir GNFI dari Tirto.

Baca Juga:


Referensi: Tirto.id | Bosscha.Itb.ac.id | Fisikanet.Lipi.go.id | De Amsterdammer | Her Suganda, "Wisata Parijs van Java: Sejarah, Peradaban, Seni, Kuliner, dan Belanja" | TEMPO Publishing, "Jejak Bosscha di Papandayan"

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
Belajar dari Maria Ulfah, Menteri Perempuan Pertama di Indonesia Sebelummnya

Belajar dari Maria Ulfah, Menteri Perempuan Pertama di Indonesia

Mantap! Cadangan Devisa Indonesia Capai Level Tertinggi Sepanjang Sejarah Selanjutnya

Mantap! Cadangan Devisa Indonesia Capai Level Tertinggi Sepanjang Sejarah

Dimas Wahyu Indrajaya
@dimas_wahyu24

Dimas Wahyu Indrajaya

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.