Inovasi Masker Kain Lapis Tembaga dari LIPI, Mampu Merusak Virus Corona

Inovasi Masker Kain Lapis Tembaga dari LIPI, Mampu Merusak Virus Corona
info gambar utama

Para peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melakukan riset pada masker kain sebagai upaya penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia. Inovasi masker ini, diperuntukan bagi masyarakat umum, bukan tenaga medis.

Deni Shidqi Khaerudini, Peneliti Pusat Penelitian Fisika LIPI menyatakan, timnya sedang mengembangkan masker kain disinfektor berbahan lapis tembaga dengan teknik lapisan atau coating. Teknik tersebut diyakini bisa mencegah penyebaran virus corona.

Masker kain inovasi dari para peneliti LIPI itu nantinya mampu membunuh bakteri dan juga virus (mikroorganisme). Inovasi tersebut berdasarkan beberapa penelitian terkait tembaga sebagai antimicrobial agent.

Hasil penelitian itu menunjukkan bahwa tembaga telah dikenal sebagai antimicrobial agent (agen antimikroba) sejak zaman Mesir dan Yunani kuno. Biasanya kandungan dalam tembaga itu dimanfaatkan untuk perawatan luka dan sterilisasi air.

Selain itu, ditemukan pula adanya perusakan bakteri maupun virus akibat kontak dengan tembaga (contact killer). Meskipun hal tersebut menunjukkan hasil yang berbeda-beda tergantung jenis mikroorganismenya.

Umumnya, mekanisme perusakan itu terjadi karena ion-ion tembaga yang mudah terlepas, setelah bakteri atau virus menempel pada lapisan tembaga.

Hal itu mengakibatkan kerusakan pada dinding sel dan degradasi DNA atau RNA, sehingga mikroba tidak mampu melakukan reproduksi yang berujung pada kematian sel tersebut.

Berkaitan dengan virus corona atau SARS-CoV-2 penyebab Covid-19. Menurut penelitian terbaru menunjukkan bahwa virus corona hanya mampu bertahan selama empat jam di permukaan tembaga.

Hal tersebut menunjukkan bahwa kemampuan bertahan virus jauh lebih cepat daripada jika berada pada permukaan kardus, stainless steel, dan plastik.

Pada permukaan kardus virus corona mampu bertahan selama 24 jam. Sementara pada permukaan stainless steel, virus penyebab Covid-19 itu dapat bertahan selama 48 jam. Paling lama adalah kemampuannya bertahan pada permukaan plastik, yaitu selama 72 jam.

“Hal ini menunjukkan bahwa efek contact killer tembaga masih cukup signifikan untuk virus SARS-CoV-2. Tapi tentu saja harus memodifikasi tekniknya untuk bisa diaplikasikan ke benda-benda yang kontak langsung dengan manusia, contohnya masker,” terang Deni seperti dikutip dari Kompas.com(10/6/2020).

Berdasarkan Efektivitas Penyaringan

masker disinfektor tembaga LIPI
info gambar

Penelitian itu juga didasari efektivitas penyaringan (filter) masker kain pada mikroorganisme B Atrophaeus yang berdiameter 0,9-1,25 mikron. Diketahui, bahwa virus corona berdiameter 0,065-0,125 mikron.

Selama ini masyarakat umum menggunakan masker kain untuk mencegah penularan Covid-19. Berdasarkan data-data tersebut, hasilnya, masker kain satu lapis memiliki kemampuan filter 69,42 persen dan yang dua lapis sebesar 70,66 persen.

Dengan demikian, jika dibandingkan dengan virus corona yang memiliki diameter 10 kali lipat lebih kecil dari bakteri B. Atrophaeus. Maka, kemampuan filter masker kain terhadap virus corona jauh lebih rendah.

Karena itu, Deni menilai tidak cukup hanya dengan ukuran pori yang lebih kecil. Akan tetapi diperlukan pula lapisan aktif pada masker yang bersifat mematikan atau memutus RNA virus dengan efektif. Hal itu dilakukan dengan inovasi pelapisan tembaga pada masker.

“Material aktif tembaga berperan sebagai contact killer sekaligus mereduksi ukuran pori masker kain. Pengaplikasian tembaga dilakukan dengan cara pelapisan langsung atau penyisipan lembaran tembaga ke dalam masker,” ujar Deni dalam laman Lipi.go.id.

Selanjutnya, ia bersama timnya juga melakukan penelitian pada masker kain yang ada di pasaran. Hasilnya, masker kain biasa memiliki pori-pori berdiameter 100 mikron. Ketika dilapisi oleh tembaga, pori-pori tersebut menjadi lebih kecil. Meski begitu, tetap harus dipastikan bahwa ada ruang untuk sirkulasi udara.

"Dengan tembaga secara fisik pori-pori mengecil lebih tertutup, tapi tidak tertutup sempurna, tentu kita harus memberi ruang untuk bernafas tapi lapisan aktif tetap tertempel dengan baik," ujarnya.

Uji coba secara fisik juga dilakukan tim dengan mencuci masker pada suhu ekstrem 80-100 derajat celsius, lalu mendinginkannya. Hasilnya, kondisi air yang digunakan untuk mencuci masker tersebut, masih jernih dengan tingkat keasaman (pH) tetap normal di angka 7.

Kata Deni, hal itu menunjukkan bahwa lapisan tembaga yang digunakan dalam masker tersebut tidak mudah rontok.

Perlu Penelitian Lanjutan

masker lapis tembaga LIPI
info gambar

Walaupun melalui penelitian yang dilakukan telah menunjukkan hasil positif. Namun, berkaitan dengan efektivitas lapisan tembaga dapat merusak virus corona. Hal itu akan dilakukan penelitian lebih lanjut oleh pihak LIPI dengan melibatkan fasilitas biosafety level (BSL) 3.

Rencananya tahap tersebut akan dilakukan dalam waktu dekat. “Setelah mendapat assessment dari BSL 3 baru kami berani launching produknya,” ungkapnya.

Inovasi masker ini, lanjutnya, juga memiliki keunggulan lainnya, yaitu terbuat dari bahan material yang aman. Baik itu pada bahan kain maupun lapisan tembaganya.

Kemudian, metode pembuatannya juga sederhana sehingga bisa diproduksi secara lokal dalam skala rumah tangga atau industri. Selain berbagai keunggulan dari segi bahannya, masker ini juga sangat ramah lingkungan karena dapat dipakai berkali-kali.

Tambah lagi, karena masker ini memang diperuntukan untuk masyarakat umum, sehingga tidak akan mengganggu persediaan masker medis yang saat ini sangat dibutuhkan oleh tenaga kesehatan.



Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini