Penulis Pemula Perlu Perhatikan Tiga Hal Ini

Penulis Pemula Perlu Perhatikan Tiga Hal Ini
info gambar utama

Buku merupakan jendela dunia. Istilah tersebut sudah lama kita dengar dan ketahui. Seperti istilahnya, lewat buku ada banyak hal yang bisa kita pelajari baik dari segi makna hingga manfaatnya. Namun, pernahkah Kawan GNFI berpikir bagaimana caranya menulis buku yang baik dan benar, serta bisa bermanfaat bagi banyak orang?

Pada Kelas GNFI ke-14, Kamis (4/6) lalu, GNFI kembali menghadirkan Angga Fauzan selaku penulis buku untuk membagikan ilmu seputar dunia kepenulisan buku bertajuk “Book Publishing for Begginers: How to Write, Publish, and Market Your Book”.

Poster Kelas GNFI | Foto: GNFI
info gambar

Melihat kilas balik, Angga bercerita sedikit tentang bagaimana awalnya ia bisa menjadi seorang penulis seperti sekarang. Semua bermula ketika Angga sangat mencintai buku sejak duduk di bangku SMP. Kemudian ketika Angga berkuliah di UK, Angga pun mulai menulis buku secara serius dan dilirik oleh lima penerbit sekaligus.

Bagi Angga pribadi, ada tiga tahapan yang bisa dilakukan untuk penulis pemula dalam menerbitkan sebuah buku. Pertama adalah fokus untuk menulis kerangka tulisan dan menyiapkan naskah, kedua fokus untuk mengirim naskah dan proses editing, dan terakhir fokus pada pemasaran dan promosi buku.

Mungkin terdengar sederhana, namun nyatanya perlu melewati proses dan waktu yang cukup panjang, serta tidak mudah. Bagi penulis pemula, tentu saja, tiga hal di atas perlu untuk diperhatikan secara saksama, agar bisa mencapai tujuan yang Kawan GNFI inginkan, yakni menerbitkan sebuah buku.

Mari mulai dengan tahapan pertama, yaitu persiapan naskah. Dalam proses ini, penting bagi Kawan GNFI untuk membuat kerangka tulisan terlebih dahulu. Mulailah dengan membuat sebuah premis atau sebuah gambaran landasan cerita yang akan Kawan GNFI buat yang terdiri dari nama, karakter, tujuan, cara, dan hambatan.

Setelahnya, gambarkan premis tersebut menjadi sebuah karakter. Sebuah cerita sudah pasti memiliki karakter, bukan? Tujuan adanya karakter ialah agar Kawan GNFI memiliki kedalaman cerita dan karakter yang bervariasi.

Menurut Angga Fauzan, karakter dibagi menjadi tiga bagian, yaitu karakter yang terlahir (fisik, lingkungan), karakter yang didapatkan (pencapaian, kepribadian), dan masa lalu karakter.

Namun tidak hanya itu, ternyata jika dilihat lebih dalam lagi, karakter memiliki banyak bagian dalam sebuah cerita. Berikut penggambaran karakter dalam film Harry Potter.

Lima pembagian karakter | Foto: PPT Angga Fauzan
info gambar

Ketika Kawan GNFI sudah menemukan karakter-karakter yang cocok untuk cerita yang akan Kawan GNFI tuliskan, mulailah mencari sebuah masalah untuk penggambaran cerita. Bisa dengan membuat masalah yang sesuai dengan kehidupan nyata banyak orang, membuat masalah yang urgent dan sensitif, hingga membuat masalah yang tokoh utamanya harus segera menyelesaikan.

Dalam menulis sebuah naskah, penting untuk memasukan tiga kasus masalah tersebut atau paling tidak dua. Kenapa? Dengan begitu, akan memengaruhi ketertarikan pembaca untuk mengetahui lebih lanjut seperti apa penyelesaian masalahnya.

Setelah karakter dan masalah sudah selesai, lanjutlah pada pembuatan pembabakan cerita. Yang popular saat ini adalah 8 pembabakan cerita, mulai dari pengenalan cerita, pengambilan keputusan, perjalanan dan pengenalan kedua, membuat pembaca menebak jalan cerita, kemunculan masalah baru, membuat tokoh utama terpuruk, penyelesaian masalah, hingga adanya penyampaian makna.

Apakah sudah cukup sampai di situ? Tentu tidak. Kawan GNFI masih harus menyiapkan sinopsis yang dibagi menjadi per bagian. Cukup buat sinopsis maksimal satu halaman agar fokus pada alur cerita saja. Tujuannya ialah untuk membuat jembatan dari pembabakan cerita yang sudah Kawan GNFI buat.

“Lalu ketika sudah selesai, mulailah menulis secara konsisten, perlahan, dan memiliki target untuk menyelesaikan semua bagian hingga menjadi sebuah cerita dan selesai menjadi buku,” tutur Angga di sela pemaparan materi.

Setelah persiapan naskah sudah selesai, mari beralih ke proses pengiriman naskah dan penyuntingan. Ketika mengirimkan naskah, Kawan GNFI akan dihadapkan oleh dua pilihan. Ingin menerbitkan di penerbit major atau di penerbit indie.

Keduanya tentu saja berbeda, baik dari segi pemasaran, perjanjian, pembagian royalti, proses penyuntingan, hingga proses penerbitan. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan.

Ilustrasi | Foto: nasmediapustaka.co.id
info gambar

Jika Kawan GNFI ingin buku karya Kawan GNFI disebarluaskan di berbagai toko buku di Indonesia, tentu saja penerbit major adalah pilihan yang tepat. Namun jika ingin buku Kawan GNFI diterbitkan secara cepat, mandiri, dan tidak ingin terikat perjanjian, penerbit indie bisa menjadi pilihan. Semua kembali pada pilihan Kawan GNFI.

Nah, Langkah terakhir ketika naskah karya Kawan GNFI sudah siap untuk diterbitkan, sampailah pada tahap promosi buku. Bagi Angga, menulis buku saja susah-susah gampang, apalagi promosi buku itu sangat susah sekali.

Ketika promosi, tentu sebagai penulis, kita ingin buku kita dibeli dan dibaca oleh banyak orang. Ada banyak strategi yang bisa Kawan GNFI lakukan. Mulai dari pembuatan konten, membuat penyajian konten yang menarik, mendapatkan testimonial buku dari orang-orang yang berkaitan, hingga mengajak teman untuk bantu promosi buku kita.

Jika konten yang Kawan GNFI buat sudah kuat, optimalkanlah media sosial yang ada semaksimal mungkin. Gunakan berbagai platform hingga melakukan berbagai aktivitas yang berhubungan dengan promosi buku. Mulai dari seminar, membuka kelas, memasang iklan, media partner, dan mengajak influencer.

Bagaimana? Panjang, bukan, prosesnya? Tentu. Bagi Kawan GNFI yang memang memiliki keinginan kuat untuk menjadi penulis, tiga hal di atas perlu dipelajari dan diimplementasikan secara bertahap dan konsisten, ya!

Jangan berputus asa ketika naskah yang sudah Kawan GNFI kirimkan pada penerbit ditolak berkali-kali. Jadikan hal itu sebagai sebuah pembelajaran dan pengenalan diri untuk mencari tahu lagi apa yang harus diperbaiki dari naskah yang sudah Kawan GNFI buat.

“Penulis buku hebat adalah pembaca buku yang lebih hebat. Sabra dan tenang bahwa menulis bukan untuk seberapa banyak jumlah buku yang dibuat. Akan tetapi seberapa bermanfaat, bermakna, berdampak, dan luas pesebarannya karya kita. Bukan tentang kuantitas, tapi tentang kualitas,” ujar Angga di akhir sesi.

Kelas GNFI juga dapat ditonton di Youtube Good News From Indonesia. (des)

--

Baca Juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini