Sejarah Hari Ini (11 Juni 1945) - Penobatan Pakubuwana XII

Sejarah Hari Ini (11 Juni 1945) - Penobatan Pakubuwana XII
info gambar utama

Dua bulan sebelum Indonesia merdeka, putra mahkota Keraton Surakarta/Solo, Raden Mas Suryaguritna, naik tahta sebagai Sri Susuhunan Pakubuwana XII pada 11 Juni 1945.

Ia diangkat menjadi raja setelah sang ayahanda, Pakubuwana XI, wafat dalam usia 59 tahun pada 1 Juni 1945.

Dalam prosesi penobatan raja, Raden Mas Suryaguritna - yang saat itu masih berusia 20 tahun - diberikan gelar "Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Pakubuwono Senopati Ing Ngalago Abdurahman Sayidinan Panatagama XII".

Karena masih berusia belia, dalam menjalankan pemerintahan sehari-hari, Pakubuwana XII sering kali didampingi ibunya, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Pakubuwana, yang dikenal dengan julukan Ibu Ageng.

Pakubuwana XII dijuluki Sinuhun Hamardika karena merupakan Susuhunan Surakarta pertama yang memerintah pada era kemerdekaan.

Sesudah Proklamasi Kemerdekaan, pada 1 September 1945 Pakubuwana XII bersama Mangkunegara VIII, secara terpisah mengeluarkan dekret (maklumat) resmi kerajaan yang berisi pernyataan ucapan selamat dan dukungan terhadap Republik Indonesia (RI), empat hari sebelum maklumat Hamengkubuwana IX dan Pakualam VIII.

Lima hari kemudian, 6 September 1945 (beberapa sumber menyebut 5 September), Kasunanan Surakarta dan Praja Mangkunegaran mendapat Piagam Penetapan Daerah Istimewa dari Presiden RI Soekarno.

Meskipun beberapa kalangan menganggap Pakubuwana XII tidak berperan penting pada masa awal berdirinya Republik Indonesia, tetapi Raja Surakarta ini tetap dinilai sebagai sosok pelindung kebudayaan Jawa dan dihormati oleh banyak tokoh nasional.

Selama revolusi fisik, Presiden Soekarno bahkan memberinya pangkat militer kehormatan (tituler) Letnan Jenderal.

Presiden Soekarno dijamu Pakubuwana XII di Sasana Handrawina, Keraton Surakarta, sekitar tahun 1940-50-an.
info gambar

Kedudukannya itu menjadikan ia sering diajak mendampingi Presiden Soekarno meninjau ke beberapa medan pertempuran.

Pada 1946, karena banyaknya kerusuhan maka untuk sementara waktu Pemerintah RI membekukan status Daerah Istimewa Surakarta.

Alhasil dari keputusan tersebut membuat status Susuhunan Surakarta dan Adipati Mangkunegaraan hanya sebagai simbol saja di masyarakat dan keraton diubah menjadi pusat pengembangan seni dan budaya Jawa.

Sri Susuhunan Pakubuwana XII bersama tiga putrinya hasil pernikahannya dengan Kanjeng Raden Ayu Pradapaningrum. Dari kiri ke kanan yaitu Gusti Raden Ayu Koes Indriyah, Gusti Raden Ayu Koes Moertiyah dan Gusti Raden Ayu Koes Isbandiyah.
info gambar

Walaupun didera berbagai kesulitan dan keterbatasan untuk mengayomi masyarakatnya di wilayah Surakarta, tetapi Pakubuwana XII tetap berupaya keras dalam mempertahankan tradisi seni dan budaya Jawa.

Pada pertengahan tahun 2004, Pakubuwana XII mengalami koma dan menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Panti Kosala Dr. Oen Surakarta.

Akhirnya pada tanggal 11 Juni 2004, Pakubuwana XII dinyatakan mangkat.

Jenazahnya dikebumikan di samping ayahnya, Pakubuwana XI, di kompleks raja-raja Mataram, Imogiri, Yogyakarta.

Sampai saat ini, Pakubuwana XII tercatat sebagai raja Kasunanan Surakarta yang masa pemerintahannya paling lama di antara raja-raja Jawa, yaitu selama 59 tahun.


Referensi: Royalark.net | NRC Handelsblad | Algemeen Handelsblad | Joko Darmawan, "Mengenal Budaya Nasional: Trah Raja-raja Mataram di Tanah Jawa"

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini