Terbanyak di ASEAN, lalu Bagaimana Kiprah Pasukan Perdamaian PBB Indonesia dalam Misi Peacekeeping Operations

Terbanyak di ASEAN, lalu Bagaimana Kiprah Pasukan Perdamaian PBB Indonesia dalam Misi Peacekeeping Operations

Keterangan Gambar Utama © Pemilik Gambar garudamiliter.com

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Negara-negara dalam organisasi ASEAN memiliki catatan panjang dalam operasi perdamaian Perserikatan Bangsa Bangsa. Selama 2020 saja, jumlah personel negara-negara ASEAN yang melaksanakan misi perdamaian global terbilang cukup banyak.

Hal tersebut merupakan bentuk nyata kontribusi ASEAN dalam melaksanakan misi perdamaian global. Sebagai bentuk dukungan dalam melaksanakan misi-misi perdamaian tersebut, ASEAN juga bekerja sama untuk membangun jaringan antar pusat pelatihan, yang dikenal dengan nama APCN dalam kerangka kerja sama pertemuan menteri pertahanan ASEAN (ASEAN Defence Ministers Meeting/ADMM).

ADMM sendiri merupakan forum kerja sama dalam bidang pertahanan yang bertujuan menumbuhkan rasa saling percaya serta peningkatan transparansi dan keterbukaan.

Salah satu bentuk kerja sama yang diimplementasikan dalam kerangka ADMM adalah operasi penjaga perdamanaian (peacekeeping operations) dan Expert Working Group (EWG) on Peacekeeping Operations dalam kerangka ADMM-Plus bersama 8 negara mitra wicara ASEAN.

Misi-misi yang dilaksanakan dalam operasi perdamaian PBB di antaranya MINURSO (referendum di Sahara Barat), MINUSCA (stabilisasi di Republik Afrika Barat), MINUSMA (Mali), MINUSTAH (Haiti), MONUSCO (Republik Demokratik Kongo), UNMISS (Sudan Selatan), dan masih banyak lagi yang lainnya.

Personel yang dikirim terdiri dari berbagai macam, seperti pasukan militer bersenjata, pasukan polisi, dokter dan berbagai tenaga penunjang lainya.

Partisipasi Indonesia dalam United Nation Peacekeeping Operations

Indonesia merupakan negara di Asia Tenggara yang paling besar dalam mengirimkan jumlah personel ke dalam misi PBB. Berdasarkan data grafik di atas yang bersumber dari peacekeeping.un.org, sejak 2015 sampai 2020, Indonesia secara konsisten mengirimkan lebih dari 1.500 personel.

Data April 2020 menunjukkan, jumlah personel Indonesia yang sedang bertugas yakni sebanyak 2.847 orang. Malaysia juga mendukung misi perdamaian PBB dengan menempatkan personel rata–rata di angka 800 orang.

Sedangkan untuk April 2020, personel asal Malaysia yang sedang bertugas berjumlah 845 orang. Lalu di bawah Malaysia ada Kamboja (772 orang), Thailand (296), Vietnam (73), Brunei (30) dan Filipina (27).

Kehadiran pasukan penjaga perdamaian masih merupakan alat bagi masyarakat internasional untuk mengatasi isu yang sulit dari konflik antarnegara ataupun intra-negara. Legitimasi dan sifat universal pasukan PBB ini sangat unik dan diambil dari karakter upaya keamanan kolektif yang diambilnya berdasarkan mandat 193 negara anggota PBB.

Indonesia sebagai bagian dari masyarakat internasional dan anggota PBB ikut berkomitmen khususnya dalam menjaga keamanan dan perdamaian dunia. Partisipasi Indonesia pada UN Peacekeeping Operations berdasarkan pada Pembukaan UUD 1945, UU No.37 Tahun 1999, Hubungan Luar Negeri, UU No.34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia, UU No.2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia, dan UU No.3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara, serta UN Charter.

Peran pasukan penjaga perdamaian Indonesia/Pasukan Garuda (Kontingen Garuda/Konga) dimulai dengan pengiriman misi pertamanya pada 1957 ke Mesir (UNEF). Selanjutnya pengiriman Kontingen Garuda setingkat batalion di Kongo (Garuda II, 1960 -1961 dan Garuda III, 1963-1964), Mesir (Garuda VI, 1973-1974 dan Garuda VIII, 1974-1979), Kamboja (Garuda XII, 1992-1994), Bosnia (Garuda XIV, 1995) dan Lebanon (Garuda XXIII/UNIFIL, 2006-2015).

Kontingen Garuda yang bertugas di bawah bendera PBB, yang dikenal dengan sebutan “Blue Helmet/Blue Beret”. Partisipasi Indonesia dalam misi-misi perdamaian sejak awal telah memperoleh pujian tinggi dari banyak negara atas profesionalisme dan kontribusinya bagi misi-misi PBB. Misi-misi pasukan penjaga perdamaian PBB saat ini menjadi salah satu instrumen utama dari kebijakan luar negeri bebas dan aktif Indonesia.

Baca juga:

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga67%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli11%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau22%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Mustafa Iman

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
Sejarah Hari Ini (12 Juni 1892) - Peninggalan Prajurit Diponegoro, Masjid Madiopuro Mojokerto Sebelummnya

Sejarah Hari Ini (12 Juni 1892) - Peninggalan Prajurit Diponegoro, Masjid Madiopuro Mojokerto

Kontingen Garuda UNIFIL Bantu Korban Ledakan Beirut, Lebanon Selanjutnya

Kontingen Garuda UNIFIL Bantu Korban Ledakan Beirut, Lebanon

Iip M. Aditiya
@iipaditiya

Iip M. Aditiya

iipaditiya

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.