Jadah Tempe, Camilan Favorit Sri Sultan Hamengkubuwana IX

Jadah Tempe, Camilan Favorit Sri Sultan Hamengkubuwana IX

Jadah tempe adalah salah satu kuliner legendaris khas Kaliurang, Yogyakarta © Shutterstock.com

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Satu lagi makanan tradisional khas Yogyakarta yang namanya sudah melegenda. Makanan tersebut adalah jadah tempe, perpaduan dua jenis makanan yang terdiri dari jadah (ketan) dan tempe. Kabarnya, panganan ini, termasuk kudapan favorit dari Sri Sultan Hamengkubuwana IX.

Cara penyajian kuliner tradisional ini, tempe akan diolah dengan cara dibacem. Sementara jadah yang merupakan ketan, akan dicampur parutan kelapa.

Campuran antara ketan dengan parutan kelapa, menimbulkan rasa gurih ketika menyantapnya. Sedangkan tempe yang dimasak dengan cara dibacem, memiliki rasa yang manis.

Bagi Kawan GNFI yang belum pernah mencicipinya, mungkin akan terdengar sedikit aneh dengan kombinasi dua camilan tradisional ini. Manis, bercampur gurih, dan sering kali disantap dengan cabai rawit yang pedas.

Namun, justru disitu keunikannya, kekontrasan antara rasa gurih jadah yang berbanding terbalik dengan rasa manis tempe bacem khas Yogyakarta. Nyatanya memberikan sensasi tersendiri pada makanan tradisional itu. Apalagi jika disertai dengan pedasnya cabai rawit, akan menambah kenikmatan saat menyantapnya.

Kesukaan Sultan

Dalam bukunya yang berjudul Monggo Mampir: Mengudap Rasa Secara Jogja (2009), Syafarudin Murbawono menulis, bahwa sejarah jadah tempe berawal dari ide unik seorang carik atau sekretaris desa di Kaliurang, Yogyakarta bernama Sastrodinomo.

Sebelum menemukan jadah tempe, Sastrodinomo rajin menyerahkan persembahan berupa nasi jagung kepada keluarga Keraton Yogyakarta. Penyerahan persembahan itu merupakan bentuk pengabdiannya sebagai abdi dalem kepada keluarga kerajaan atau Keraton.

Pada tahun 1927, karena sudah sering mempersembahkan nasi jagung. Sastrodinomo diminta oleh keluarga Keraton untuk membuat jenis makanan lain yang unik dan berbeda dari sebelumnya.

Mbok coba gawe sing liya, coba bikin yang lain,” tulis Syafarudin meniru permintaan keluarga Keraton. Ia diminta menyerahkannya pada persembahan berikutnya.

Sastrodinomo sempat bingung akan membuat makanan unik seperti apa untuk dipersembahkan kepada keluarga Keraton. Setelah berpikir cukup lama, ia bersama istrinya mencoba mengolah beras ketan menjadi jadah. Kemudian untuk menambah cita rasa, ia memadukannya dengan tempe bacem.

jadah tempe
Jadah tempe kerap disebut burger Jogja karena cara makannya yang menyerupai burger. Tempe bacem dijepit dengan dua buah jadah | eventkampus.com

Lalu, ia menyerahkan panganan hasil kreasinya itu kepada keluarga Keraton. Tak disangka, ternyata makanan tersebut disukai oleh orang-orang di Keraton. “Sejak saat itu, Sastrodinomo selalu mengirimkan persembahan berupa jadah tempe,” tulis Syafarudin.

Kemudian, ia tertarik membuka usaha jadah tempe. Dibantu istri dan anak-anaknya, ia memutuskan mulai berjualan camilan tersebut dan membuka warung kecil di kawasan Telaga Putri, Kaliurang pada tahun 1950.

Hingga pada suatu hari di tahun 1965, Sri Sultan Hamengkubuwana IX berkunjung ke Kaliurang dan singgah di warung jadah tempe milik Sastrodinomo. Usai mencobanya, Sri Sultan Hamengkubawana IX merasa, bahwa jadah tempe buatan Sastrodinomo memang memiliki cita rasa tersendiri dibanding yang lain. Saat itu sudah banyak juga orang yang berjualan kuliner serupa.

Untuk membedakannya dengan jadah tempe yang lain, istri Sri Sultan Hamengkubawana IX, Kanjeng Ratu Ayu Hastungkara, menyarankan kepada Sastrodinomo supaya warung tersebut diberi nama “Jadah Tempe Mbah Carik”.

Alasan pemberian nama itu, karena Sastrodinomo dulunya adalah seorang carik (sekretaris desa). Sejak saat itulah, Sri Sultan Hamengkubawana IX, kerap mengutus pegawai Keraton ke Kaliurang untuk membeli jadah tempe Mbah Carik. Sultan sangat menyukai jadah tempe buatan Mbah Carik.

Kombinasi Unik

Kalau dipikir-pikir, kombinasi antara jadah (ketan) yang rasanya gurih dengan tempe bacem yang memiliki rasa manis, mungkin terdengar sedikit janggal. Tambah lagi, kedua camilan yang saling melengkapi itu, kerap disantap dengan ditemani cabai rawit yang pedas.

Bagi yang belum pernah merasakannya, mungkin terdengar sedikit aneh. Namun, nyatanya banyak orang yang menyukai pangan tradisional tersebut, hingga seorang raja seperti Sri Sultan Hamengkubawana IX.

Menilik sejarahnya, dikutip dari Tirto.id, tempe adalah makanan asli Indonesia yang sudah diakui dunia. Makanan ini berbahan dasar kacang kedelai. Di Yogyakarta, yang identik dengan cita rasa manis makanan khas Jawa, tempe, tahu, ayam, dan daging biasa dimasak bacem dengan rasa manis yang legit.

Rasa manis dalam makanan yang dimasak dengan cara dibacem berasal dari gula merah atau gula jawa.

Asal-usul mengapa makanan Jawa identik dengan rasa manis, tak lepas dari sejarah tanam paksa yang diterapkan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda pada pertengahan abad ke-19.

Kala itu, lahan tanam di Jawa hanya boleh ditanami tebu untuk mendukung perekonomian Kerajaan Belanda yang defisit akibat perang Diponegoro. Karena hanya boleh ditanami tebu, sehingga produksi gula meningkat, dan setiap makanan diberi bumbu gula untuk memberikan rasa. Sejak saat itulah, makanan Jawa identik dengan rasa manis.

jadah tempe mbah carik
Jadah tempe buatan Sastrodinomo atau Mbah Carik merupakan salah satu camilan favorit Sri Sultan Hamengkubawana IX | Gudeg.net

Selain gula, bumbu yang mudah didapat pada waktu itu adalah ketumbar. Maka, berbagai jenis bahan makanan seperti tempe, tahu, atau daging, diolah dengan memakai gula merah dan ketumbar dengan cara dibacem.

Di samping enak dan cocok dengan lidah orang Yogyakarta yang terbiasa dengan rasa manis, memasak dengan cara dibacem juga membuat makanan lebih awet secara alami.

Sedangkan jadah dibuat dari beras ketan yang dimasak hingga sedikit gurih. Jadah atau ketan kerap disajikan dalam acara-acara tradisional Jawa, seperti pernikahan. Penggunaan ketan dalam acara sakral tersebut mempunyai filosofi agar kedua mempelai, kerabat dan masyarakat selalu rukun dan sulit dipisahkan seperti jadah yang lengket.

Kembali ke Jadah Mbah Carik, siapa yang menyangka bahwa ide unik Sastrodinomo mengkombinasikan jadah dengan tempe bacem sebagai makanan persembahan keluarga Keraton, mendapat respon yang positif.s

Bahkan, hingga kini kalau berkunjung ke daerah Kaliurang, Yogyakarta, rasanya belum lengkap bila tidak mencicipi kuliner legendaris yang satu ini: Jadah Tempe Mbah Carik.

Bagaimana? Apa Kawan GNFI berminat mencoba kuliner unik khas Yogyakarta yang satu ini?



Baca juga:

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang100%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
Kisah Batu Persidangan di Huta Siallagan Samosir Sebelummnya

Kisah Batu Persidangan di Huta Siallagan Samosir

Pohon Pengantin Salatiga, Pohon Kesepian Penyatu Dua Insan Selanjutnya

Pohon Pengantin Salatiga, Pohon Kesepian Penyatu Dua Insan

Pandu Hidayat
@armandu

Pandu Hidayat

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.