Pemuda Surabaya Buat Ulang Wayang Kulit Berumur 100 Tahun

Pemuda Surabaya Buat Ulang Wayang Kulit Berumur 100 Tahun

Ngeblak Wayang Kulit © Sindo News

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Pemuda asal Surabaya, Danar Dwi Putra berhasil melestarikan wayang kulit jek dong khas jawa timuran dengan cara menduplikasi atau ngeblak.

Danar ngeblak wayang kulit hampir rusak yang berusia 50 hingga 100 tahun menjadi baru persis dengan aslinya agar wayang tersebut tidak punah termakan zaman.

Danar menjelaskan bahwa rutinitas ngeblak berawal dari hobi dan kecintaannya terhadap kesenian wayang kulit, serta keinginannya untuk melestarikan wayang jawa timuran.

"Kondisi fisik wayang kulit jek dong khas jawa timuran yang sudah berusia 50 hingga 100 tahun, sudah hampir rusak karena termakan usia," kata Danar dikutip dari lansiran Sindo News.

"Wayang kulit berusia tua ini, saya dapatkan dari kolektor wayang kulit maupun dalang wayang kulit dari berbagai daerah di jawa timur, seperti Gresik dan Malang," jelas Danar dikutip dari lansiran Pojok Pitu.

Beberapa wayang kulit yang dibuat ulang di antaranya, Semar, Gajendramuka, Bagong, Kumbokarno, Rahwana, Subali, dan Gatot Kaca.

"Ngeblak wayang kulit tidak bisa sembarangan dilakukan karena bentuk dan warna wayang harus sesuai dengan pakem atau wayang aslinya," ujar Danar dikutip dari lansiran Sindo News.

Danar Dwi Putra, ngeblak wayang jek dong khas jawa timuran untuk melestarikan budaya warisan leluhur. Foto: INEWSTV/Hari Tambayong
Danar Dwi Putra, ngeblak wayang jek dong khas jawa timuran untuk melestarikan budaya warisan leluhur. Foto: INEWSTV/Hari Tambayong

Dana menuturkan, ngeblak wayang kulit tidak mudah. Selain harus memiliki seni dan bentuk yang presisi, bahan baku yang digunakan, yakni kulit kerbau, sulit dicari. Apalagi di perkotaan seperti Surabaya.

Untuk membuat ulang satu buah wayang kulit, Danar membutuhkan waktu 2 hingga 4 bulan, tergantung dari ukuran dan tingkat kerumitan.

Wayang kulit jek dong khas jawa timuran memiliki ciri berbeda dari wayang kulit khas Solo. Yakni terletak pada warna kulit dan wajah wayang.

Salah satu contohnya, kata Danar, wayang kulit Gatot Kaca. Jika wayang kulit khas Solo, wajah Gatot Kaca berwarna hitam dan ukuran lebih besar.

"Sementara, warna wajah wayang kulit jek dong khas jawa timuran, berwana merah dan berukuran lebih kecil," ungkap dia.

Ternyata hasil karya pemuda asal kampung Plampitan Surabaya ini, banyak diminati khususnya para kolektor maupun beberapa dalang wayang kulit yang ada di Jawa Timur.

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
Ragam Moda Transportasi ''Djadoel'' Khas Jakarta, Siapa Pernah Coba? Sebelummnya

Ragam Moda Transportasi ''Djadoel'' Khas Jakarta, Siapa Pernah Coba?

Tren Sepekan: Warna Warni Durian hingga Kepunahan Pesut Mahakam Selanjutnya

Tren Sepekan: Warna Warni Durian hingga Kepunahan Pesut Mahakam

Indah Gilang  Pusparani
@indahgilang

Indah Gilang Pusparani

http://www.indahgilang.com

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.