Sejarah Hari Ini (26 Juni 1835) - Barnstein, Penginjil Pertama di Kalimantan

Sejarah Hari Ini (26 Juni 1835) - Barnstein, Penginjil Pertama di Kalimantan
info gambar utama

Penyebaran agama Kristen Protestan di Kalimantan dimulai pada tahun 1830-an.

Bermula dari sidang umum badan pekabaran Injil tahun 1834, organisasi Misionaris Kristen Protestan terbesar di Jerman, Rheinische Missionsgesellschaft (RMG) atau Zending Barmen memutuskan mengambil tempat pekabaran Injil di Borneo/Kalimantan, khususnya di antara Suku Dayak.

Sebagai perintis, diutuslah Misionaris J.H. Barnstein dan Heyer yang kemudian tiba di ibu kota Hindia Belanda, Batavia (sekarang Jakarta), pada 13 Desember 1834.

Selama beberapa bulan berurusan dengan pemerintah, Missionaris Heyer terganggu kesehatannya lalu kembali ke Jerman.

Misionaris J.H. Barnstein meneruskan perjalanannya selama 44 hari dengan menumpang kapal layar sampai Banjarmasin, Kalimantan, pada 26 Juni 1835.

Dari Banjarmasin, Barnstein melakukan observasi di pesisir Sungai Barito, Kahayan (terutama Pulau Petak), Katingan, Mentaya, Pembuang dan seterusnya sampai ke sungai Kapuas Buhang.

Setelah mengadakan observasi, ia menetapkan tempat pangkalan pos pekabaran Injil di Banjarmasin.

J.H. Barnstein masuk daerah suku Dayak yang jaraknya dekat dengan Banjarmasin.

Dalam perjalannya, di sebuah kampung bernama Gohong (Kahayan), Barnstein "diangkat saudara dengan darah" (hangkat hampahari hatunding daha dalam bahasa Dayak) oleh kepala suku Dayak setempat.

Sejak itu Barnstein dianggap sebagai saudara orang Dayak karena ia telah bertukar dengan kepala suku mereka.

Lalu, pada tanggal 3 Desember 1836, tiba lagi tiga orang penginjil, yaitu Becker, Hupperts, serta Krusman dan langsung ditempatkan di wilayah pedalaman Kalimantan.

Melalui buku Tuaiannya Sungguh Banyak: Sejarah Gereja Kalimantan Evangelis Sejak Tahun 1835 karya Fridolin Ukur, Barnstein disebut bekerja dan menjalin kekerabatan dari segala golongan dan suku di Banjarmasin, baik itu muslim, Kaharingan, orang kulit putih, maupun Tionghoa.

Hampir 30 tahun lamanya Barnstein bekerja di Kalimantan sampai akhirnya ia wafat dan dikebumikan di Banjarmasin pada 11 Oktober 1863.

Meskipun Barnstein sudah tiada, pekabaran Injil terus berlanjut di tanah Kalimantan hingga abad ke-20.

Pasang surut terjadi ketika meletus Perang Dunia I, di mana RMG menyerahkan tugas pemberitaan Injil ke Zending Basel di Swiss pada tahun 1920.

Selain untuk pelayanan peribadatan ke orang-orang Dayak, Zending Basel juga membawa misi pendidikan dan kesehatan.

Zending Basel turut mendirikan Sekolah Pendeta (yakni cikal bakal terbentuknya Sekolah Tinggi Teologi Gereja Kalimantan Evangelis sekarang) pada tahun 1932 dan membidani lahirnya organisasi Gereja Dayak Evangelis (sekarang menjadi Gereja Kalimantan Evangelis atau GKE) pada 4 April 1935 melalui Sinode Umum.

Ketua jemaat GKE Tahun 1980, Jhonson Simanjuntak mengatakan pada awal misinya, Zending Basel memiliki hubungan yang baik dengan Kesultanan Banjar yang bercorak Islam.

Kesultanan kala itu bahkan memberikan lahan untuk pembangunan gereja kepada para misionaris.

Di atas lahan itu pun tak hanya didirikan gereja, tetapi juga seminari, sekolah dan asrama guru, yang saat ini berada di seberang gereja.

''Pemberian lahan ini dengan perjanjian misionaris tak menyebarkan ajaran Kristen atau mengkristenkan muslim, khususnya suku Banjar,'' terang Jhonson dikutip GNFI dari Prokal.

Referensi: Wikiwand.com | Kalsel.Prokal.co | Gkikb.or.id | Gunungmaskab.go.id | Jan Sihar Aritonang, Karel Adriaan Steenbrink, "A History of Christianity in Indonesia" | Dayat Suryana, "Provinsi-Provinsi di Indonesia" | Fridolin Ukur, "Tuaiannya Sungguh Banyak: Sejarah Gereja Kalimantan Evangelis Sejak Tahun 1835"

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini