Sejarah Hari Ini (29 Juni 1985) - Pembangunan Monumen Yogya Kembali

Sejarah Hari Ini (29 Juni 1985) - Pembangunan Monumen Yogya Kembali

Monumen Yogya Kembali alias Monjali. © Wikimedia Commons/Crisco 1492

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Monumen Yogya Kembali/Monumen Jogja Kembali (Monjali) terletak di Dusun Jongkang, Kelurahan Sariharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman.

Lebih tepatnya, Monjali berada di sisi utara kota Yogyakarta atau sekitar 3 kilometer dari pusat kota.

Monjali dibuat untuk mengenang peristiwa perang enam jam antara tentara Indonesia melawan Belanda di Yogyakarta pada 1 Maret 1949.

Nama Monumen Yogya Kembali merupakan perlambang berfungsinya kembali Pemerintahan Republik Indonesia, sekaligus sebagai sejarah ditarik mundurnya tentara Belanda dari Ibukota Yogyakarta pada 29 Juni 1949 dan kembalinya Presiden Sukarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta dan petinggi lainnya pada 6 Juli 1949 di Yogyakarta.

Demi mengabadikan momen tersebut, pada 29 Juni 1985 dibangunlah Monumen Yogya Kembali.

Gagasan untuk mendirikan monumen ini dilontarkan oleh kolonel Soegiarto, selaku walikotamadya Yogyakarta pada tahun 1983.

Pembangunan monumen didahului upacara tradisional berupa penanaman kepala kerbau dan peletakan batu pertama oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Sri Paduka Paku Alam VIII.

Empat tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 6 Juli 1989, bangunan ini selesai dibangun

Pembukaannya diresmikan oleh Presiden Suharto dengan penandatanganan prasasti.

Monumen yang terletak di Dusun Jongkang, Kelurahan Sariharjo, Kecamatan Ngaglik, Kapubaten Sleman ini berbentuk gunung, yang menjadi perlambang kesuburan juga mempunyai makna melestarikan budaya nenek moyang pra sejarah.

Peletakan bangunan pun mengikuti budaya Yogya, terletak pada sumbu imajiner yang menghubungkan Merapi, Tugu, Kraton, Panggung Krapyak dan Parang Tritis.

Titik imajiner pada bangunan dengan tinggi 31,8 meter ini berdiri di atas tanah seluas 5,6 hektar ini bisa dilihat pada lantai tiga, tepatnya pada tempat berdirinya tiang bendera.

Bentuk Monjali yang menyerupai gunung juga menyimpan filosofi mendalam yakni perlambang kesuburan negeri Indonesia.

Di dalam monumen terdapat koleksi seputar peristiwa koleksi seputar peristiwa Satu Maret serta kisah perjuangan sebelum kemerdekaan hingga kota Yogyakarta menjadi ibukota RI.

Sementara itu di lantai teratas, terdapat ruangan bernama Garbha Graha yang berfungsi sebagai tempat mendoakan para pahlawan dan merenungi perjuangan mereka.

Referensi: Yogyes.com | Nunung Marzuki, "Mengenal Lebih Dekat: Bangunan Bersejarah Indonesia"

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga33%
Pilih SedihSedih33%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau33%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
SOS! Indonesia Darurat Lagu Anak! Sebelummnya

SOS! Indonesia Darurat Lagu Anak!

Sejarah Hari Ini (15 Juli 1985) - Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama Selanjutnya

Sejarah Hari Ini (15 Juli 1985) - Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama

Dimas Wahyu Indrajaya
@dimas_wahyu24

Dimas Wahyu Indrajaya

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.